BU “S” DAN ROMO”W” YANG DILUPAKAN DI BUKU MENDONGKEL KURSI SANG TIRAN

Cacat fatal penulisan buku sejarah adalah tidak menuliskan orang yang telah memberimu makan dan menolong hidupmu. Inilah yang terjadi pada penulisan buku Mendongkel Kursi Sang Tiran. Bu S dan Romo W tak ada di buku ini. Bapa kami yang ada di surga. Maafkan generasi kami yang dengan enteng melupakan orang yang telah menolong hidup kami.

Bu S, perempuan paruh baya yang tinggal di kawasan elit Kotabaru merupakan air kran yang terus mengalir bagi KPRP. Setiap KPRP membutuhkan dana, dia selalu mengulurkan tangannya seperti seorang ibu yang memberikan dukungan kepada anaknya yang tengah berjuang. Sejak KPRP mangkal di Fakultas Filsafat, Bu S tidak pernah absen membantu.

Bu S mulai menjaga jarak ketika PRD memutuskan ikut Pemilu 1999. Baginya rung wayahe bagi PRD bertarung di medan elektoral. Tapi perbedaan pandangan semestinya tidak menghapuskan peranannya dalam sejarah KPRP. Namanya tetap patut dicatat. Bukan dihilangkan begitu saja. Sebenci apapun, Sukarno tak akan melupakan Tjokro yang pernah memberikan tumpangan hidup.  Pun, Alimin dan Muso walaupun beda ideologi.

Sementara itu, Romo W adalah seorang pastur Jesuit. Ia tinggal di pasturan Kotabaru. Ketika  Haris Rusli Moti stress berat karena sehabis aksi 2 April 1998 banyak yang masuk rumah sakit, Romo W turun tangan. Karena stress akut, Moti menggigit-gigit kertas hampir setengah rim sambil berjalan mondar-mandir. Sebagai ketua KPRP, tentu ia puyeng memikirkan uang untuk biaya rumah sakit di Panti Rapih. Akhirnya, Tuhan Yesus menurunkan Romo W untuk memecahkan masalah. Lewat Romo W, biaya rumah sakit digratiskan. Dan, Moti berhenti menggigit-gigit kertas sembari menyebut nama Tuhan-nya. Entah Moti sadar atau tidak, sepengetahuan saya, Moti termasuk salah satu yang disayangi oleh Jesuit. Mungkin dia dianggap seperti Ahmad Wahib–kader HMI–yang digembleng secara langsung oleh Pater Beek  di Asrama Realino.

Apa boleh buat, sekrusial  itu peranan Romo W, tapi juga tak ada namanya di buku Mendongkel Kursi Sang Tiran. Penulisan sejarah bila tidak dikerjakan secara benar memang akan penuh ironi. Sejarah akan menjadi gawat bila muncul anggapan yang penting ada nama, tanggal dan tahun.

Kata sandi untuk masuk ke jaringan Romo W adalah Manik Wijil alias Admo. Saat itu, dengan menyebut nama Admo, seluruh pintu Jesuit di Yogyakarta akan terbuka lebar. Admo memang memiliki jaringan Jesuit yang kuat. Tampangnya memang seperti kere, tapi dia tak pernah kehabisan uang. Sering mentraktir saya makan tongseng atau sate di Jalan Afandi, sebelah selatan Mirota.Kadang kalau saya berangkat ke Jakarta, dia memberikan uang. Sepertinya dia bisa mengubah selembar daun menjadi uang seratus ribu.

Suatu ketika Admo pernah bilang ke saya kalau “anak-anak Jesuit Jogja–istilah ini istilah Admo–sedang konsolidasi di Jakarta. Setelah saya cek pernyataan Admo benar adanya. Ini menunjukkan bahwa Admo memang memiliki jaringan yang luas di lingkaran Jesuit. Romo W merupakan salah satu jaringannya. Seorang romo yang jago filsafat dan politik. Saat itu, dia sudah tak sabar Soeharto segera digulingkan. Maka sebagaimana slogan Soegijapranata, 100% Katolik dan 100% Indonesia, Romo W slogannya 100% Jesuit dan 100% KPRP.

Adalah Irmawati Dewanto, PU Pijar kala itu, yang diminta Admo untuk selalu mendatangi Bu S dan Romo W. Saya tidak tahu pasti, sepertinya Irmawati memang disiapkan Admo untuk masuk ke jaringan Jesuit. Irmalah yang dipercaya Admo untuk mengurus pasokan logistik dan hal-hal teknis di luar aksi KPRP. Mungkin juga karena wajah Irma yang mirip Chindo memudahkan masuk ke lingkar Jesuit karena dianggap Katolik. Setiap seminggu sekali Admo selalu mengingatkan Irma untuk menyambangi dua orang tersebut. Dia selalu mendesak agar Irma segera ke sana, entah diantarkan Susilo, Bagong atau Gareng.

Tapi entalah, Kiswondo lebih memilih cerita yang lain. Kiswondo memilih sibuk menuliskan pembakaran patung Soeharto, bentrok sana sini dibandingkan kisah Bu S dan Romo W. Mungkin bagi Kiswondo sejarah revolusioner adalah tentang aksi dan bentrok, rapat dan membentuk organisasi serta teriak gulingkan Soeharto sembari mengacungkan tangan kiri ke angkasa. Sementara kisah orang-orang yang  membantu perjuangan seperti BU S dan Romo W tak penting dimasukkan ke dalam episode sejarah.

Sejarah semacam buku Mendongkel Kursi Sang Tiran membuat orang hanya tahu peristiwa, namun tak paham cara menjadi manusia dan menghargai kemanusian. Saya sadar Kiswondo bukan Octavio Paz, penyair Meksiko, yang dengan apik menarasikan sejarah Amerika Latin dalam pidato penerimaan Nobel Sastra***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *