SUSI DITENGGALAMKAN DI BUKU MENDONGKEL KURSI SANG TIRAN

Susi Carolin tak hadir di buku Mendongkel Kursi Sang Tiran. Padahal, bersama Manik Wijil, dia yang pertama-tama ikut aksi mogok makan.

Susi merupakan mahasiswi Fakultas Filsafat UGM, seangkatan dengan Dhohir Farizi. Sembari kuliah dia kerja di laundry bagian setrika. Sejak SMA di Jakarta, Susi sudah bertautan dengan gerakan Kiri. Sewaktu Budiman Sudjatmiko dan lain-lainnya diterungku di penjara Cipinang, Susi merupakan bagian dari kelompok yang menjengguk.

Kiswondo memilih nama-nama yang tidak jelas dan bertautan langsung dengan KPRP seperti Tri Agus atau Yayan Sopyan, namun tak satupun nama Susi disebutkan. Padahal Susi merupakan salah satu pilar dari KPRP. Lewat tangan dingin Admo, Susi menjadi bagian pondasi berdirinya KPRP. Namun dengan enteng dicoret begitu saja dari buku Mendongkel Kursi Sang Tiran.

Seperti Lina, Susi lama bergabung dengan KPRP, dari sejak di Fakultas Filsafat UGM sampai Pandega Marta. Dia organisir sekaligus tenaga pendidik untuk kursus politik anggota KPRP yang baru. Banyak anggota-anggota KPRP baru dari kampus UGM merupakan hasil rekrutannya. Perawakannya memang pendiam, jarang terlihat ikut orasi ketika aksi. Mungkin karena itu dia mudah dilupakan.

Sebelum muncul mazhab Annales dalam penulisan sejarah, seringkali sejarah hanya bercerita tentang para raja. Kiswondo rupanya memilih menulis raja–Soeharto–dan nama-nama besar seperti Butet Kertaredjasa, Bonar Tigor, dibandingkan nama Susi. Padahal metode penulisan sejarah lama sudah ditinggalkan. Sejarah mazhab Annales lebih memilih menulis orang kecil–mereka yang tak bisa bersuara–dan narasi-narasi kecil.

Bagaimana orang yang pertama kali ikut mogok makan bersama Admo dilupakan begitu saja? Sebelum Puthut EA dan nama-nama yang disebutkan dalam buku ini ikut mogok makan, Susi sudah menjadi pelopor. Dalam sebuah foto, Susi terlihat  dengan ikat kepala warna merah. Tragis!

Dalam perkembangannya, Susi bersama Gunardi, Yuli dan Yerry membentuk GKS. Organisasi ini menjadi sempalan dari KPRP. Sebagaimana saya ulas sebelumnya, episode perpecahan KPRP ini tidak ditulis dalam buku Mendongkel Kursi Sang Tiran. Padahal, ada situasi yang tegang ketika. Hawa panas mendidih meruap di Pandega Marta.

Nama Gunardi juga tidak ada dalam buku ini. Setelah Kuda Tuli, walaupun bukan anggota PRD bawah tanah, dia banyak membantu kerja-kerja PRD. Beberapa kali Gunardi menggadaikan mesin tik tuanya di pegadaian dekat Pasar Kranggan. Hasil dari menggadaikan, dia pakai untuk membuat selebaran. Selabaran itu difoto copy di Jalan Yohanes. Setelah jadi, dia sebarkan sendiri ke kontak-kontaknya. Gunardi juga rajin mengirimkan undangan aksi ke asrama-asrama mahasiswa di Yogyakarta. Dia memang tipe organiser, mendatangi orang-orang dari kost ke kost. Pada malam hari dia sering melintasi lembah UGM menuju Karangmalang sampai ke ABAYO di selatan. Tengah malam dia sampai di Dian Budaya, tidur di samping Kiswondo. Tapi oleh Kiswondo juga tidak ditulis.

Dari dokumen yang pernah saya baca, ada keterlibatan Zul Amrozi dalam perpecahan KPRP. Suatu sore, sebagai bentuk solidaritas pada KPRP,  L.A. Aris Hartono alias Botol mengunjungi tempat kerja Zul Amrozi di kawasan  Jalan AM. Sangaji, Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, Botol mengancam Zul Amrozi agar tidak macam-macam.

Sebagai faksi minoritas di KPRP, Susi dan kawan-kawannya disingkirkan. Setelah itu, saya tak pernah mendengar lagi nama Susi. Sampai buku Mendongkel Kursi Sang Tiran hadir, nama Susi Carolin tetap hilang.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *