Slank limbung. Lagu terbarunya, Republik Fufu Fafa, tak mampu melahirkan pujian. Mereka bermaksud meledek Jokowi dan Gibran, tapi justru cibiran yang didapat. Muncul lagu jawaban yang konon dibuat dengan AI, Tak Diberi Tulang Lagi. Lagu ini menyebar di media sosial, khususnya tiktok, menenggelamkan lagu Slank. Liriknya sederhana saja:
“Tapi waktu berputar, mangkuk tak lagi penuh
Kesetiaan diuji saat lapar menyentuh
Tak diberi tulang lagi
Kini dia menggonggong pada tuannya sendiri.”
Dalam lagu tersebut Slank disamakan dengan seekor anjing. Persamaan itu sebetulnya tak tepat. Anjing selalu setia. Kita tahu kisah Hachiko, seekor anjing Akita yang tetap setia ketika tuannya telah tiada. Setelah kepergian tuannya untuk selamanya, Hachiko tetap setia menunggu Profesor Ueno di Stasiun Shibuya. Itu dilakukannya hampir selama sepuluh tahun hingga ia menyusul tuannya ke alam baka. Slank tak seperti Hachiko dan anjing-anjing lain di seluruh dunia. Mereka lebih cocok disamakan dengan Banteng. Mengapa? Nanti akan terjelaskan.
Kita paham, Slank kecewa akut. Jagoannya dalam Pilpres, Ganjar-Mahfud, hanya kebagian 16%. Slank bisa jadi mengira, keberhasilan dalam konser Dua Jari ketika mendukung Jokowi karena kebesaran namanya. Namun, semua hanya halusinasi Slank. Ketika mendukung Ganjar dengan konser serupa, suara Ganjar ternyata kempis. Dukungan Slank tak ada artinya, seperti kencing di gurun pasir, langsung menguap, bahkan bau pesingnya.
Kekecewaan Slank ditumpuhkan kepada Jokowi dan Gibran. Mereka berharap mendapatkan simpati, namun caci maki yang diperoleh. Slank rupanya buta aksara. Berbagai survei menyimpulkan angka kesukaan kepada Jokowi masih 80%. Dan, Gibran didukung oleh 58% penduduk Indonesia atau 90 juta lebih orang. Tak mengherankan kalau gebukan drum Bin Bin menghantam dirinya sendiri.
Orang banyak menyerang Slank dengan sarkasme lain. Slank yang menyiapkan lagunya selama berbulan bulan, hanya disanggah balik dengan lagu buatan AI, yang mungkin dikerjakan tak lebih dari satu jam sembari rebahan. Sekarang lagu-lagu serupa mulai bermunculan. Ini tonjokan bagi Slank: karyanya diremehkan. Untuk menciptakan lagu seperti Slank, ternyata AI lebih jago. Inilah perlawanan anak-anak zaman sekarang. Mereka melek teknologi. Menghadapi Slank cukup dengan kecerdasan imitasi.
Sebagai pendukung Banteng, Slank punya tanduk untuk menyerang tapi tak punya otak untuk berfikir. Orang masih ingat, semasa Jokowi menjadi penguasa, Slank diperlakukan secara terhormat. Salah satu personelnya diberi posisi komisaris. Konser-konser Slank pun selalu mulus, tak ada hambatan dari aparat. Inilah titik hantam bagi Slank yang dianggap tak tahu diri. Orang ramai menyebutnya air susu dibalas dengan air tuba. Namun sepertinya yang tepat adalah rai gedhek.
Kita tak tahu kenapa orang-orang yang dekat dengan Banteng menjadi terbelakang dalam berfikir. Sebelumnya ada Butet yang hampir 10 tahun ludahnya sampai kering karena setiap hari digunakan untuk memuji-muji Jokowi. Kini, setelah berkerabat dengan Banteng, sisa umurnya digunakan untuk mencaci maki Jokowi. Masih banyak yang lain. Bila ditulis satu persatu sungai di seluruh dunia akan mengering bila dijadikan tinta dan semua pohon bambu habis ditebang untuk dijadikan pena, tak akan cukup.
Setiap karya seni, termasuk lagu Slank, perlu kita hargai. Di sisi lain, kita pun bisa memberikan penilaian. Kita bisa menilai, lagu Slank gagal sebagai kritik sosial. Bila kita baca lirik-liriknya, hanya rasa frustasi musisi uzur ketika melihat politik hari ini. Slank frustasi bukan karena tak dapat bagian. Mereka marah karena tak mampu lagi mengikuti perubahan zaman. Pun, dari segi popularitas, kalah jauh bila dibandingkan lagu Idgitaf, Sedia Aku Sebelum Hujan. Di semua sosial media, penggalan lagu Idgitaf ini selalu terdengar menjadi back sound:
“Ku yang lama di sini
Menjagamu tak patah hati
Sedia aku sebelum hujan
Apa yang kau butuh, kuberikan.”
Sementara lagu Slank bisa dikatakan mejen, tak mampu meledak. Kita sadar zaman Slank sudah berlalu. Ia mungkin cocok di zaman Orde Baru, tapi tak cocok di zaman kiwari. Setelah masuk kandang Banteng, Slank sudah kehilangan relevansinya dalam ranah kritik sosial. Posisinya menjadi sejajar dengan Deddy Sitorus, Ferdinand Hutahaean dan Adian Napitupulu: penggonggong.
Akhirnya, Slank gagal menggoreng. Tungkunya tak lagi menyala. Padam oleh kecintaan rakyat terhadap Jokowi dan Gibran.***





