SUARA GEMERICIK RAJA JULI DARI PBB

Suatu waktu Sawerigading hendak menebang pohon Wélenrénngé. Ini pohon raksasa. Digambarkan tingginya sepertiga Gunung Semeru. Di pohon itu segala makhluk hidup harmonis. Suara burung berpadu suara moyet. Yang kasat mata dengan yang gaib menjadi satu. Guna membuat kapal untuk mempersunting calon istrinya, We Cudai, Sawerigading hendak menebang pohon Wélenrénngé. Kapal itu akan digunakan untuk menantang ganasnya samudera menuju tanah Tiongkok.

Kisah Penebangan Pohon Welenreng (Ritumpanna wélenrénngé ) itu terdapat dalam epos La Galigo. Sejak awal karya sastra mengajarkan tentang kearifan menjaga alam. Semua itu muncul sebelum Barat mengenalkna konsep ekologi mendalam (deep ecology). Dari mula La Galigo menolak konsep antraposentrisme yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam. Dalam La Galigo manusia adalah bagian dari semesta yang mesti merawat alam, bukan mengeksploitasi dan merusaknya.

Nilai kearifan menjaga kelestarian alam dalam epos La Galigo inilah yang disuarakan Raja Juli di markas PBB, New York. Dalam pidatonya ia menggaungkan kembali pentingnya hutan adat dan masyarakat adat dalam melestrikan hutan. Di tengah gerusan modernisasi dengan akumulasi modal yang gila-gilan, hutan menjadi barang jarahan. Dalam kondisi rusaknya hutan, masyarakat adatlah yang menjaga hutan dari aksi para pemilik modal. Maka mereka mengenalkan istilah “hutan larangan”, “hutan wingit” atau “hutan angker”. Tujuan akhirnya agar hutan tetap lestari.

Misalnya, bagi masyarakat Cerekang, hutan dan sungai merupakan pengejawantahan dari Batara Guru. Oleh karena itu, ajaran yang mereka dapat dari epos La Galigo tersebut, mereka wariskan secara turun temurun agar anak cucu mereka tetap setia menjaga kelestarian alam. Sampai hari ini, masyarakat Cerekang sebagai pelindung hutan dan sungai di Luwuk Timur. Laku mereka sebagai perwujutan perlawanan terhadap antroposentrisme.

Maka Raja Juli mengingatkan pada dunia internasional tentang perlunya solidaritas menjaga alam. Menurutnya, dalam lanskap politik apapun, semangat untuk menjaga hutan tak boleh dipunggungi. Hutan bukan sekadar paru paru dunia. Hutan adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa hutan manusia hanyalah sepasukan zombie yang bergentayangan di bumi.

Suara Raja Juli di markas PBB bukan suara yang keras penuh kutukan, melainkan suara gemericik aliran sungai purba yang memberikan ketenangan bagi batin manusia. Raja Juli kembali menggemakan suara yang ia timba dari mata air negerinya yang menghormati hutan. Suara yang dengan tegas menolak antroposentrisme yang berkembang di Barat. Baginya, sebagaimana konsep manunggaling kawulo gusti (bersatunya rakyat dan pempimpan), manusia dan alam juga manunggagal: tak terpisahkan

Dari epos La Galigo kita bisa belajar bahwa satu pohon Wélenrénngé yang tertebang bisa menyebabkan bencana. Tertebangnya pohon tanpa terkendali akan membawa petaka. Ketika pohon Wélenrénngé hendak ditebang, burung gerda pun meratap:

“Tampil pula meratap burung gerda,….

…..menangis meratap berkata,

 “Tahan dahulu jiwamu Wélenréng,

kau dengarkan ratap tangis belas kasihku padamu.”

Dan, dari markas PBB, suara gemericik Raja Juli merupakan upaya agar burung gerda tak meratap lagi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *