Satu yang pasti: Partai Solidaritas Indonesia (PSI) anti imperialisme.
Pertama, sikap anti imperialisme ditunjukkan PSI lewat pernyataan yang gamblang: “Kami mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran yang telah mencederai hukum internasional(PSI.id).” Kedua, pernyataan belansungkawa atas gugurnya Ayatullah Khamanei. Ucapan duka tersebut disampaikan oleh ketua umum, ketua harian, sekjen hingga 38 DPW PSI di seluruh Indonesia.Sekitar 100 karangan bunga dari PSI berjajar didalam kediaman kedubes Iran dan meluber sampai ke jalan raya.
Dalam situasi perang poros AS-Israel vs Iran, kita tidak bisa netral. Berada di tengah sama saja membiarkan agresor memporakporandakan bangsa lain yang berdaulat. Sikap netral sama artinya mengkhianati konstitusi: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa,” dan dengan tegas digoreskan “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Bagi bangsa Indonesia segala bentuk penjajahan “tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Apa yang dilakukan AS-Israel merupakan bentuk penjajahan gaya baru. Mereka menyerang negara yang berdaulat dan membunuh pemimpin negara itu yang dipilih secara demokratis. Dan, PSI sudah benar: menentang tindakan agresor seperti itu. Sikap ini tentu merupakan bentuk kepeloporan politik. PSI-lah satu satunya partai politik di Indonesia yang memberikan sikap tegas anti imperialisme AS-Israel.
Sebagaimana dikatakan Karl Marx, “imperialisme adalah gejala ekses kapitalisme.” Artinya, imperialisme muncul dari sistem kapitalisme yang menghendaki tersedianya pasokan bahan baku untuk industri dan pasar baru untuk hasil produksi mereka. Maka datanglah bangsa-bangsa Eropa ke Asia, Amerika Latin dan Afrika untuk melakukan penjajahan. Imperialisme gaya baru masih terjadi sampai hari ini: neo-imperialisme.
Mengapa AS-Israel mau menginvasi Iran? Peristiwa ini menandakan ada krisis dalam tubuh kapitalisme. Amerika terseok-seok menghadapi Tiongkok. Dominasi Amerika dalam perdagangan dunia sedikit demi sedikit digerogoti Tiongkok. Mereka kepayahan dalam menghadapi Perang Dagang. Terjadi krisis di dalam negaranya.
Bagi negara kapitalisme hanya ada dua jalan untuk mengatasi krisis tersebut:neoliberalisme dan perang. Iran merupakan negara yang tak mau mengadopsi sistem neoliberalisme. Iran memilih jalannya sendiri seperti Tiongkok, Kuba, Korut hingga Vietnam. Tak mau tunduk pada kehendak Amerika, Iran diperangi.
Para peliharahan imperialis Amerika di Indonesia seperti Rizal Mallaranggeng dan para bestie-nya menyatakan serangan Amerika Serikat ke Iran bertujuan untuk menyelamatkan rakyat Iran dari sistem teokrasi yang totaliter. Dengan enteng mereka melancarkan propaganda hitam bahwa rezim Iran membantai rakyatnya sendiri dan melakukan penindasan. Mereka hendak berperan sebagai Dewa Demokrasi yang seolah-olah paling tahu kehendak rakyat Iran. Padahal di negaranya sendiri mereka tak mampu berbuat apa-apa. Ketika gerakan rakyat berjuang menumbangkan kediktatoran Soeharto, mereka terkencing kencing lari ke luar negeri saking ketakutannya. Dan, sekarang menjual dirinya dengan murah ke Amerika.
Iran tetaplah Iran. Mereka menolak tunduk dan takluk. Mereka, meminjam kata kata Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya, telah “melawan dengan sehormat-hormatnya.” Banyak analis mengatakan Iran hanya akan mampu bertahan satu dua hari. Dengan congkok mereka mengatakan Iran kalah persenjataan. Bagi analis otak udang ini, perang hanya masalah senjata dan anggaran pertahanan. Mereka tak mengambil pelajaran dari Vietnam, negara yang membuat Amerika terkena serangan jiwa akut, mengalami delusi dengan menghibur diri dari kekalahan melalui film Rambo. Dan, kini Iran berdiri tegak, membuat Amerika dan sekutu-sekutunya kelimpungan.
Terhadap imperialisme kita tak dapat setengah setengah. Seperti dikatakan Multatuli, “Setengah-setengah tidak akan menghasilkan apa-apa. Setengah itu tidak baik. Setengah benar sama saja dengan tidak benar.” Dalam melawan imperialisme, sikap di tengah-tengah adalah bentuk pengkhianatan terhadap manusia dan kemanusian. Dan, itulah serendah-rendahnya manusia.
Dan, sekali lagi: PSI tak memilih di tengah-tengah. PSI memilih berada di sisi perjuangan rakyat Iran***





