NGERI! ADA AMIR SJARIFOEDDIN DI KANTOR PSI

Rabu malam, selepas adzan Magrib, Amir Sjarifoeddin menyambangi kantor PSI (Partai Solidaritas Indonesia) di Tanah Abang. Tapi bukan fisiknya yang hadir, melainkan tapak-tapak perjalanan hidupnya lewat buku Amir Sjarifoeddin karya Rudolf Mrazek. Andy Budiman, Waketum PSI, yang malam itu tampil sebagai pemantik diskusi, dengan apik menjelaskan paradoks seorang bapak bangsa bernama Amir Sjarifoeddin

Amir seorang Kristen yang taat sekaligus seorang komunis yang militan. Ketika Jepang masuk ke Indonesia, ia bekerja sama dengan Belanda untuk membangun gerakan anti fasis. Tentu menimbulkan kontroversi. Lebih lanjut, dari penuturan Andy, Amir adalah kandidat presiden selain Sukarno. Kalau itu terjadi, maka Indonesia akan memiliki presiden dari suku Batak, Kristen dan komunis.

Amir pula yang menandatangani Perjanjian Renville karena percaya Frank Graham, delegasi Amerika Serikat yang beragama Kristen, akan mendukungnya. Ia Perdana Menteri yang tercampakkan dan kemudian bergabung dengan Musso dalam Peristiwa Madiun. Pada ujungnya, Amir ditembak mati oleh tentara, persis tanggal 19 Desember 1948, enam hari sebelum perayaan kelahiran Yesus Kristus.

Diskusi malam itu semakin hangat ketika Haji Kokok Dirgantoro mempertanyakan hasil dari gerakan anti fasis. Seperti kita tahu, Amir mendapatkan uang sebesar 25.000 gulden dari Belanda untuk membangun perlawanan terhadap Jepang yang menjajah Indonesia. Akibat perlawanan terhadap Jepang, Amir ditangkap dan disiksa dengan sadis. Ia hendak dihukum mati oleh Jepang, namun Sukarno meminta kepada kempetai untuk membebaskannya. Amir dibebaskan persis sebelum Jepang menyerah kalah. Sementara kawan-kawannya yang lain sudah terlanjur dieksekusi mati. Oleh para dewa, Amir masih dibutuhkan. 

Pengaruh gerakan anti fasis tertampak dari munculnya pemberontakan di berbagai kota. Salah satu yang bikin heboh adalah pemberontakan Peta di Blitar. Supriyadi, seorang perwira Peta, melawan Jepang dengan pemberontakan bersenjata. Perlawanan itu memang bisa dipatahkan, namun memberikan semangat perlawanan di daerah-daerah lain. Rapat IKADA dan gerakan pemuda melucuti tentara Jepang merupakan buah lain dari gerakan anti fasis yang digalang Amir. Pramoedya Ananta Toer mengisahkan pemberontakan tersebut dengan bagus dalam novelnya Perburuan

Tokoh Islam progresif, Ahmad Sahal, mempertanyakan hubungan Sukarno dengan Amir. Mrazek sendiri tidak banyak mengungkap pertautan Sukarno dengan Amir. Ketika Sukarno ditahan Belanda dan PNI bubar, Amir menjadi wakil ketua Partindo cabang Batavia. Setelah Sukarno dibebaskan, Amir menjadi tokoh yang paling diwaspadai oleh Belanda. “Namun, pidato yang paling meriah disampaikan oleh Amir Sjarifoeddin,” tulis Mrazek mengutip laporan agen pemerintah Belanda. Persamaan Sukarno dan Amir, sama-sama suka pidato. Mrazek juga mengungkapkan bahwa sikap Sukarno terhadap Peristiwa Madiun adalah ambivalen. Mengutip Guy Pauker, “Sukarno tak berani terang-terangan mengutuk orang Komunis.” Menurut analisa ini, Sukarno dan Soedirman hendak menjaga keseimbangan kekuatan sayap kanan dan sayap kiri.”

Tak mau ketinggalan, Furqan AMC sebagai aktivis Free Palestin menggugat peranan Hatta dalam Peristiwa Madiun 1948. Dengan penuh semangat, Furqan yang satu kota kelahiran dengan Hatta, mempertanyakan kenapa Hatta tega membiarkan Amir dieksekusi. Sebagaimana dicatat oleh Mrazek, sekitar 40.000 laki-laki dan perempuan terkena program rasionalisasi Hatta di tubuh tentara. Sebagian besar mereka adalah anggota Pesindo, tentara revolusioner bentukan Amir. Setelah itu, 60.000 lainnya akan segera menyusul. Dan, sebagai bagian dari program rasionalisasi, Madiun akan dijadikan ibu kota militer yang baru di Jawa Timur. Kebijakan inilah yang dianggap sebagai provokasi oleh Hatta sehingga pecah Peristiwa Madiun 1948.

“Hatta sama sekali tak pernah ragu ihwal apa yang terjadi di Madiun,” tulis Mrazek. Hatta tetap yakin bahwa Musso hendak mendirikan Negara Republik Soviet Indonesia.Terhadap sosok Amir, Hatta menuliskan, “ Dia adalah seorang intelektual yang percaya pada komunisme (ateis) dan kadang kala dia adalah seorang Kristen(teis).” Bagi Hatta, Amir merupakan suatu teka-teki. Sepertinya Hatta ragu, mungkinkah seorang komunis sekaligus seorang Kristen?

 

Sebagaimana diuraikan Mrazek, setelah bertahun-tahun Peristiwa Madiun lewat, Hatta menolak tuduhan bahwa dirinya berada di balik eksekusi Amir. Namun ia juga tidak mengecam eksekusi tersebut. Rupanya, dalam diri Hatta memiliki teka-tekinya sendiri. Entah, apakah Furqan puas dengan penjelasan Mrazek atau tidak, hanya dia dan kelincinya yang tahu.  

 

Yus Ariyanto dengan jernih menjelaskan sosok Amir dari perspektif Abu Hanifah. Seperti yang diuraikan Mrazek, Abu Hanifah merupakan sahabat Amir ketika kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Dalam perjalanan selanjutnya, Amir berada di sisi kiri dan Hanifah memilih jalan ke kanan. Sementara kader muda PSI, Bayu Arasy, dengan sistematis menjelaskan pengaruh Profesor Scepper terhadap diri Amir. Dalam suatu kesempatan, sebagai pengikut Imanuel Kant, Scepper meminta murid-muridnya membaca The Idea of the Holy karangan Rudolf Otto. Ia memang seorang Kantian dengan pandangan humanis pengaruh politik etik.

Ragam pandangan dalam diskusi Membaca Amir Sjarifoeddin di kantor PSI, memperlihatkan bahwa Amir bukan manusia satu dimensi. Ia seorang Kristen, komunis, pejuang kemerdekaan, penyuka dansa dan jago bermain biola, pernah menjadi Perdana Menteri dan ditembak mati karena konflik politik. Setelah ditangkap akibat Peristiwa Madiun, Amir nampak sendiri berada di gerbong kereta. Ia konon sedang membaca karya Shakespeare, Romeo and Juliet. Mungkin kisah tersebut merupakan alegori atas kehidupan Amir yang penuh tragedi: seorang bekas Perdana Menteri yang ditembak mati oleh tentara yang dibentuknya sendiri.

Mungkin kata-kata Ernest Bloch yang dikutip Mrazek ada benarnya,” Pahlawan mesti mati sebelum dia benar-benar sadar kembali.” Itulah Amir Sjarifoedin yang Rabu malam singgah di kantor PSI.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *