KONSTRUKSI HITAM TERHADAP RAJA JULI

Banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, memunculkan nama filsuf Jacques Derrida. Dalam konteks Indonesia, banjir bandang yang terjadi di tiga tempat itu bukan semata peristiwa alam semata, tapi telah menjadi peristiwa konstruksi hitam terhadap Raja Juli.

Menurut Derrida, orang menggunakan bahasa untuk membangun konstruksi atas berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, bahasa tidak pernah netral karena selalu dalam proses pembentukan dan perlecutan. Dan, konstruksi sendiri merupakan proses pembentukan makna, baik lewat bahasa maupun gambar untuk memberikan pengaruh tertentu kepada orang banyak. Proses konstruksi inilah yang sedang dialami Menteri Kehutanan, Raja Juli.

Bagaimana proses konstruksi hitam berjalan terhadap Raja Juli berlangsung?

Pertama, setelah terjadi banjir di tiga wilayah menghiasi berbagai pemberitaan, foto Raja Juli sedang bermain gaple kembali disebar. Walaupun gambar tersebut telah diklarifikasi, dimunculkan lagi narasi Raja Juli main gaple dengan tersangka pembalak hutan.

Narasi ini tentu tidak berhenti pada permainan gaple semata, tetapi dikembangkan sebuah cerita bahwa Raja Juli kongkalikong dengan pembalak hutan. Tidak penting narasi ini benar atau tidak, yang terpenting adalah kesimpulannya: maka terjadinya banjir bandang di Aceh, Sumut dan Sumbar akibat Raja Juli kongkalikong dengan pembalak hutan. Narasi seperti ini memang tidak bertujuan mencari kebenaran, tetapi untuk membuat konstruksi hitam bahwa Raja Juli adalah orang yang jahat, perusak hutan yang bermain mata dengan pembalak hutan.

Kedua, disebarkan berita berjudul Bupati Tapsel Bongkar Fakta Kemenhut Aktifkan Kembali Izin Penebangan Sebulan Sebelum Banjir. Bila menilik pada konstruksi yang hendak dibangun dalam berita tersebut, bahwa selama sebulan hutan di Tapsel habis ditebangi sehingga ketika hujan lebat banjir bandang terjadi. Berita yang belum diuji kebenarannya ini langsung disebarkan, termasuk oleh akun X resmi milik Partai Gerindra (namun kemudian dihapus). Berita ini kemudian diklarifikasi oleh Kemenhut bahwa pernyataan Bupati Tapsel tidak benar. Walaupun sudah dibantah, namun narasi yang dibangun telah berhasil melakukan konstruksi hitam bahwa banjir yang terjadi adalah kesalahan Raja Juli sebagai menteri kehutanan.

Masih banyak konstruksi-konstruksi lain. Dari dua contoh tersebut  bisa diamati bahwa konstruksi hitam untuk menenggelamkan nama Raja Juli dalam konteks banjir yang terjadi di tiga wilayah dilakukan secara sistematis. Serangan sistematis ini tidak hanya menggunakan media online dan media sosial, tetapi juga di grup-grup WA maupun telegram. Tentu tujuannya agar Raja Juli mundur atau direshuffle.

Setelah kita mengetahui konstruksi hitam terhadap Raja Juli, baru kita bisa melakukan tahap selanjutnya yang oleh Derrida disebut sebagai dekonstruksi. Lewat dekonstruksi kita mengetahui bahwa konstruksi hitam yang seolah-olah bersimpati terhadap bencana banjir, sebetulnya merupakan upaya-upaya politik yang tidak bekerja di ruang hampa. Narasi-narasi tersebut merupakan bentuk serangan yang dilakukan secara sadar untuk menjatuhkan kredibilitas Raja Juli.

Lewat dekonstruksi, kita dengan ceto welo-welo mengetahui siapa di balik konstruksi hitam terhadap Raja Juli. Pertama, para mafia hutan yang selama ini mengeksplotasi kawasan hutan. Semenjak Raja Juli menjadi menteri kehutanan, ruang gerak mereka dibatasi. Pengawasan ketat dilakukan terhadap kawasan hutan sehingga para mafia ini tak bisa leluasa menjarah pohon-pohon di hutan. Raja Juli juga banyak mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada rakyat seperti perluasan kawasan hutan adat.

Kedua, LSM yang banyak didanai oleh asing. Mereka ini yang disebut oleh Ulil sebagai “wahabi lingkungan.” Mereka berupaya mencegah agar bangsa Indonesia tidak melakukan hilirisasi tambang dan sumber daya yang lain. Mengatasnamakan lingkungan, bersama para pemuja moi indie, mereka berusaha menjegal upaya hilirisasi tersebut dengan berbagai cara. Dengan dana besar dari Soros, tak henti-hentinya mereka melakukan propaganda hitam tentang kerusakan alam di Indonesia. Tentu salah satu sasarannya adalah Raja Juli.

Ketiga, kekuatan-kekuatan politik yang memusuhi PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Kita semua tahu, Raja Juli juga Sekjen PSI. Sebagai partai politik, tentu ada kekuatan lain yang ingin menjatuhkan PSI. Tanpa disebut pun kita sudah mengetahuinya. Tanpa harus memakai kaca pembesar, sudah ceto welo-welo

Tentu tujuan dari segala konstruksi hitam ini tak berhenti pada Raja Juli. Tujuan akhirnya adalah upaya deligitimasi terhadap Jokowi. Dibangun konstruksi bahwa banjir ini akibat kebijakan Jokowi yang ugal-ugalan. Padahal berdasarkan data yang ada, setelah era reformasi, pemberian konsensi hutan yang paling besar terjadi pada era SBY. Sekitar 55 juta hektar diberikan selama 10 tahun SBY menjadi presiden. Sementara Jokowi hanya memberikan ijin sebesar 7,9 juta hektar dalam waktu 10 tahun.

Mengapa Jokowi perlu didelegitimasi?

Pertama, berdasarkan survei Burhanuddin Muhtadi, tingkat kesuakaan terhadap Jokowi masih 83%. Padahal sudah satu tahun Jokowi tidak menjadi presiden. Artinya, pengaruh politik Jokowi masih sangat kuat. Dengan kata lain, Jokowi masih menjadi magnet dan faktor penentu dalam perpolitikan hari ini dan ke depan.

Kedua, saat ini Jokowi diidentikan dengan PSI. Dengan pengaruh politik yang masih sangat besar, tentu banyak yang khawatir apabila suara pendukung Jokowi terkumpul di PSI. Oleh karena itu, lewat berbagai isu, dari ijazah palsu sampai banjir, digunakan untuk mendelegitimasi Jokowi.

Pada akhirnya, kita beruntung mengenal filsuf seperti Jacques Derrida. Dengan bantuannya kita bisa membongkar konstruksi hitam terhadap Raji Juli yang muaranya akan berakhir ke Jokowi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *