KITA SEMUA BERHUTANG BUDI PADA GENERASI REVOLUSIONER KPRP

Kita, sebagai wujud terima kasih patut mengalungkan karangan bunga melati kepada generasi revolusioner KPRP (Komite Perjuangan Rakyat Untuk Perebuhan). Tanpa kehadiran KPRP, mungkin kita masih berada dalam cengkraman Orde Baru. Tanpa KPRP, bisa jadi kita masih dalam zaman kegelapan kediktatoran militer. Sebagai bangsa yang beradap, sekali lagi kita patut memberikan ucapan terima kasih: Terima kasih KPRP.

Haris Rusli Moti, Fendry Ponomban dan ribuan anggota KPRP yang lain merupakan generasi emas yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Mereka dengan tulus iklas berjuang demi tegaknya demokrasi di Indonesia, demi dicabutnya Dwi Fungsi ABRI dan Lima Paket UU Politik. Tanpa generasi ini tagar #Indonesiagelap akan menemukan relevansinya. Bila KPRP tak ada, kita tak akan menyaksikan kemenangan Prabowo-Gibran menjungkalkan Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin.

Kita mesti bersyukur kepada ibu-ibu yang telah melahirkan generasi KPRP. Generasi yang tak pernah mundur hanya karena bayonet, pentungan, gas air mata dan terjangan panser. Generasi yang tumbuh menjulang di antara generasi tua yang lapuk. Generasi yang berani bilang tidak pada kediktatoran dan teriak revolusi atau mati.

Saya teringat sebait puisi Moti yang diberikan kepada kekasihnya. Puisi itu diikat pada sekuntum mawar merah. Bunyi puisi itu:

“Kekasih,
Kucium bibirmu dengan keabadian.”

Kekasih dalam puisi tersebut bukan berarti tambatan hati, melainkan merujuk pada ibu pertiwi;seorang pemuda yang mengasihi tanah airnya. Cium merupakan sebentuk kemesraan dalam hubungan. Keabadian dalam puisi tersebut bermakna sebagai kelanggengan perjuangan. Artinya, perjuangan untuk membela ibu pertiwi hanya bisa langgeng apabila ada kemesraan, rasa welas asih dan kasih sayang. Dan, sekuntum mawar merah adalah penanda keberanian.

Bila melihat sekilas wajah Moti maka ada kesan sangar di sana. Akan tetepi, ada kelembutan di hatinya. Dan kelembutan itu adalah sebentuk humanisme. Suatu kemanusian yang tulus bahwa semua manusia adalah bersaudara. Dan, rasa kemanusian ini tercemin dalam diri semua anggota KPRP. Berdeda dengan Forkot atau Aldera yang beorientasi pada kekuasaan, KPRP berorientasi pada kemanusian, tak masalah hidup miskin dan kekurangan yang penting selalu di sisi rakyat tertindas. Bisa dikatakan, generasi KPRP merupakan ahli waris kemanusian dunia, sejak kata “manusia” dikenal zaman Adam sampai masa kecerdasan buatan.

Kita beruntung menyaksikan kelahiran generasi terbaik, generasi KPRP. Chairil Anwar mau hidup seribu tahun hanya untuk menjadi penyaksi lahirnya generasi mutiara ini. Peristiwa semacam ini tak akan terulang seratus abad sekali. Sekali lagi, kita beruntung. Dalam abad ini kita menyaksikan pejuang-pejuang tangguh seperti Sri Wahyuningsing, Veronica Kusuma, Irmawati [paling banyak disebut di buku], Elisabet Ida dan yang lainnya. Kehadiran mereka seperti secercah nyala senthir di tengah gelapnya jalan demokrasi.

Kader-kader KPRP, meminjam judul lagu Denny Chaknan, selalu hidup Sinarengan (bersama-sama), yang ngobrol raono entek e ning tengah wengi (bercengkrama tak habis-habisnya sampai tengah malam) dan akan mlaku teko tuwo bebarengan (berjalan bersama hingga tua nanti) sambil mengenang masa lalu yang gemilang. Selalu hanggegem asto (bergandengan tangan) agar hubungan selalu bakoh bebrayan (kuat dalam menjalani hidup).

Hadirnya buku Mendongkel Kursi Sang Tiran adalah rahmat bagi kita semua. Dibandingkan buku yang dibuat Aldera yang berjudul Aldera: Potret Gerakan Politik 1993-1998, buku KPRP tentu sembilan kali lebih baik. Aldera hanya menghasilkan potret, KPRP tidak hanya menghasilkan potret, tetapi juga membingkainya dengan pigura emas dan memajangnya di dinding keabadian revolusi. Di bawahnya terukir kalimat dengan tinta merah: Satu Bumi Merah.Jangan Patah Sampai Sang Tiran Menyerah!

Saya kira, buku Mendongkel Kursi Sang Tiran sudah melebihi Tetralogi Bumi Manusia. Fendry adalah perwujudan Minke di Abad Modern dan Wibowo Arif adalah Pangemanann yang me-rumahkaca-kan gerakan di zaman robotik.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *