19 MEI MEGAWATI MEMBORBADIR ACEH

Tengah malam atau jam 00.00, 19 Mei 2003, Megawati menandatangi keputusan yang membuat rakyat Aceh terkekung di kampung sendiri. Dengan tangan dingin, Mega mengesahkan operasi militer di Aceh. Tak kurang 30.000 serdadu di kirim ke Tanah Rencong lengkap dengan bedil, panser, pesawat tempur dan semangat membunuh.

Tak cukup dengan itu, 10.000 polisi ikut diterjukan. Aceh berubah menjadi medan Kurusetra, ladang pembantaian dan penyiksaan terhadap anak cucu Cut Nyak Dien. Setelah reformasi, inilah operasi militer terbesar untuk memburu anak bangsanya sendiri.

Aceh bagi Mega dianggap sebagai si liyan, orang lain yang bisa diperlakukan apa saja dengan segala cara. Dalam pandangan seperti, rakyat Aceh adah obyek penindasan bagi kekuasaan otoriter. Pangkalnya Mega tak mau ada kekuatan Islam berkembang di Aceh dan Indonesia. Baginya kelompok Islam adalah sesuatu yang menakutkan.

Seperti kita tahu, PDIP adalah partai yang banyak mengakomodasi Kristen dan Katolik. Dalam sejarahnya, PDI (P) adalah fusi dari nasionalis konservatif yang bergabung dalam PNI, Parkindo (Partai Kristen Indonesia) sebagai perwakilan umat Kristen dan Partai Katolik. Ketiga elemen inilah yang secara kimiawi membentuk PDIP.

PNI adalah tempat bercongkolnya orang-orang yang memiliki kesadaran nasionalis sempit, sementara Parkindo dan Partai Katolik tak mau kekuatan Islam membesar. Dan, Serambi Mekah merupakan perwujutan paling nyata dari menguatnya gerakan Islam.

Dengan memakai teori “asbak” Benny Moerdani, Mega menjadikan Aceh sebagai asbak untuk mematikan gerakan Islam di Aceh. Teori “asbak” ini pernah sukses diterapkan Benny di Tanjung Priok. Tahun 1980-an, gerakan Islam meluas. Situasi ini muncul karena kesenjangan ekonomi Orde Baru. Orang-orang kaya yang disebut konglomerat sebagian beragama Kristen dan Katolik. Merekalah yang menguasai perekonomian Indonesia. Sementara umat Islam yang mayoritas, sebagian besar hidup di tempat-tempat miskin seperti Tanjung Priok.

Oleh Benny, diprovokasilah orang-orang Tanjung Priok. Terjadi kerusuhan. Kesempatan bagi Benny untuk menangkapi tokoh-tokoh Islam. Sebagai”asbak”, Tanjung Priok dipakai Benny untuk mematikan gerakan Islam. Sebagian besar ditangkap, sisanya yang lain ditembak.

Situasi ini menimbulkan rasa trauma bagi umat Islam. Dengan begitu Benny berhasil memukul mundur gerakan Islam dalam jangka waktu yang lama. Sampai kemudian  Soeharto belok ke Islam, mendirikan ICMI dan Benny pun dan sekoci-sekocinya seperti CSIS mulai meninggalkan Soeharto.

Dalam hal Aceh, Mega ingin menjadikan Aceh sebagaimana Tanjung Priok. Mega menganggap orang-orang Aceh sebagaimana Amir Biki di Tanjung Priok yang dituduh melakukan tindakan makar. Oleh karena itu, perlu ditumpas sampai anak cicitnya. Guna menebarkan ketakutan, rakyat sipil diwajibkan memiliki KTP Merah Putih.

Tentu selain bentuk teror, kebijakan KTP Merah Putih merupakan bentuk diskriminasi rasial. Orang Aceh adalah Warga Negara Indonesia, namun karena menjadi target operasi militer Megawati, mereka diperlakukan secara berbeda. Inilah sejarah kelam bagi rakyat Aceh sejak menyatakan bergabung dengan Indonesia.

Kebengisan rezim Megawati pada waktu itu perlu terus-menerus diingat agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Dalam menghadapi persoalan di Papua, Prabowo Subianto sudah benar, yaitu melalui jalan dialog, bukan jalan bayonet. Dalam ruang demokrasi,dialog yang perlu dikedepankan, bukan malah melakukan pembasmian dengan senjata terhadap warga sendiri.

Kita tetap harus waspada terhadap PDIP selama kelompok-kelompok Katolik fundamentalis seperti Hasto Kristiyanto masih mendominasi. Masih besar peluang bagi PDIP untuk melakukan tindakan-tindakan yang beraroma Islamfobia. Waspadalah!***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *