Gaya woman on top memungkinkan Megawati mengontrol gerakan dan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai kepala suku pasukan Banteng, Megawati menggemari gaya woman on top ini. Bisa dikatakan merupakan gaya favoritnya.
Dalam posisi woman on top, Megawati bisa menggoyang, memelintir, maju mundur, menggesakkan ataupun memutar situasi politik sesuai dengan kehendaknya. Dalam posisi misionaris terbalik ini, Megawati bisa dominan mengatur ritme permainan. Lawan main yang ada di bawah berada dalam kendalinya. Itulah mengapa Megawati paling menyukai gaya woman on top.
Sebagai pihak yang mau selalu dominan, Megawati akan sewot ketika ada orang yang tak mau didominasi. Dalam kandang Banteng sendiri, banyak kader-kader yang disingkirkan karena tak mau mengikuti gaya woman on top Megawati. Siapa saja yang tak mau mengikuti gaya itu, akan disepaknya. Megawati selalu mau dalam posisi di atas sebagai pihak yang mengontrol dan mengatur panjang pendeknya permainan. Dia mau jadi pengendali, bukan menjadi gedebok pisang yang pasrah di bawah.
Di internal kandang Banteng, Megawati sangat menyukai Hasto. Selama ini Hasto selalu pasrah dan nurut mengikuti gaya woman on top Megawati. Hasto sendiri sangat menikmati gaya ini walaupun harus menanggung beban yang berat. Apalagi lagi ketika Megawati melancarkan gerakan mengulir dan mengebor, Hasto hanya bisa merem melek menikmati daya cengkram politik Megawati. Inilah mengapa Megawati lebih menyanyangi Hasto dibanding kader lain yang ada di kandang Banteng. Tak mengherankan kalau Hasto diangkat kembali menjadi sekjen partai. Dengan menjadi sekjen, setiap saat Hasto bisa melayani gaya woman on top Megawati dalam mengatur ritme permainan politik di kandang Banteng.
Ketika hendak memaksakan gaya woman on top di luar kandang Banteng, Megawati seringkali kelimpungan dan senewen. Tidak semua mau dipaksa dengan gaya itu. Masing-masing mempunyai gaya kesukaan. Ada yang suka gaya “minak jinggo”, “asu gancet”, “dekapan cumi-cumi” maupun gaya lainnya. Akibatnya, di luar kandang Banteng, syahwat politik Megawati sering tak tersalurkan karena pihak lain emoh memakai gaya woman on top. Akibatnya, Megawati sering tantrum. Kalau sudah tantrum, tak mau datang diundang ke acara kenegaraan. Sebagai misal, Megawati tak mau datang ke perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Di luar kandang Banteng, goyangan politik Megawati dengan gaya woman on top-nya dianggap tidak mengairahkan lagi. Zaman telah berubah tapi Megawati tetap dengan fantasi politik yang itu-itu saja. Akibatnya, dia menjadi sosok yang terasing di tengah arus politik kiwari. Karena tak tersalurkan hasrat politik woman on top-nya, Megawati sering uring-uringan. Kalau sudah uring-uringan, remnya menjadi blong los dol. Dampaknya, tukang bakso dia ejek, ibu-ibu pengajian dia nyinyiri, nitizen dia caci maki, polisi dia rendahkan, KPK dia salah-salahkan, serta rakyat dia bodoh-bodohkan. Begitulah kalau hasrat woman on top Megawati tak terlampiaskan sehingga tak mendapatkan klimaks.
Dampaknya, Banteng semakin disengiti oleh elit politik lain hingga para jelata. Akibatnya, suara Banteng semakin kecil. Kalah telak di kandangnya sendiri. Megawati tentu semakin tantrum. “Airin, ngomong yang keras!” atau “Siapa yang ndak mau nurut, out, gitu aja,” atau “Eh, wartawan (teriak) merdeka. Kalau ndak, keluar!” Itulah contoh-contoh teriakan Megawati kalau gaya woman on top-nya tak dilayani.
Memang hanya Hasto yang siap sedia dengan sukarela dan menikmati gaya woman on top Megawati. Keduanya memang seperti sejoli di kandang Banteng. Semoga hubungan mereka selalu mawaddah wa rahmah. Dengan begitu rumah tangga kandang Banteng tak akan bubar atau retak, walaupun isinya hanya mereka berdua. Cie cie.***





