TAK ADA KATA PERSATUAN DI OTAK MEGAWATI

Sudah diduga Megawati tak ada nyali untuk datang ke acara pidato kenegaraan presiden di MPR dan perayaan HUT ke-80 kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Megawati merupakan tipe anak mami yang gemar memeram dendam. Gus Dur ia musuhi, SBY ia punggungi dan Jokowi ia emohi. Sepanjang sejarah Indonesia, hanya Megawati yang memusuhi presiden-presiden yang lain.

Sekarang dengan telanjang kita bisa melihat kebusukan hati Megawati. Dia bisa saja membenci SBY dan Jokowi, tapi setidaknya bisa menghormati Prabowo Subianto sebagai pihak yang mengundangnya. Belum kering tinta tanda tangan Prabowo yang memberikan amnesti kepada Hasto Kristiyanto, namun Megawati secepat itu pula meludahi wajah Prabowo.

Prabowo tentu sadar pernah dikhianati Megawati dalam Perjanjian Batutulis. Tapi hal itu kecil bagi Prabowo. “Rasa sakit hati hanya setitik debu yang dengan mudah bisa ditebah,” kata Prabowo. Oleh karena itu, ketika berkuasa, Prabowo berusaha merangkul siapa saja, termasuk Megawati yang pernah mengkhianatinya. Sebagai manusia Indonesia, Prabowo pernah menyaksikan perpecahan bangsa ini yang justru merugikan diri sendiri. Tak mengherankan kalau dalam banyak kesempatan, Prabowo mengingatkan agar kita tidak mudah diadu domba. Prabowo selalu menekankan pentingya persatuan nasional. Ironisnya, persatuan nasional yang selalu didengungkan oleh Bung Karno, dikhianati oleh anak biologisnya sendiri: Megawati.

Sebaliknya, Megawati justru menggemari perpecahan. Baginya, permusuhan bisa memberikan orgasme politik. Gairah politiknya selalu membuncah-buncah ketika memusuhi pihak lain. Selama SBY berkuasa, tidak pernah Megawati mau menjalin komunikasi. Dia sangat dendam dengan SBY karena telah mengalahkannya dengan sangat telak dalam Pilpres 2004 dan 2009. Baginya hal itu sangat memalukannya. Dengan mata telanjang, lewat Pilpres secara langsung, Mega tersadar bahwa rakyat emoh dengan dirinya.

Ketika Jokowi berkuasa, dengan adigang, adigung dan adiguna, Megawati kembali menjadikan SBY seterunya. Sebagai partai yang berkuasa, Megawati mengisolasi SBY dan Prabowo dari kekuasaan Jokowi. Namun, Jokowi tak bisa dikendalikan begitu saja. Jokowi selalu berusaha merangkul siapa saja. Dia tak mau ikut tambuhan gendang dendam Megawati. Setelah periode kedua kekuasaanya, Jokowi merangkul Prabowo dan SBY.

Dendam Megawati semakin membara ketika kalah dalam Pilpresn 2024. Jagoannya hanya mendapatkan 16 % suara. Kali ini Jokowi yang menjadi sasarannya. Bagi Megawati, kekalahan itu akibat ulah Jokowi. Dia tak pernah sadar diri bahwa penyebab utama kekalahannya adalah arogansi dirinya dan partainya. Sepertinya Megawati tak pernah bercermin sehingga tak sadar Banteng yang ditungganginya semakin berkeriput, semakin uzur dan semakin tak menarik lagi bagi rakyat walaupun telah diberikan gincu.

Lewat Hasto, Kasebul sangat dominan di kandang Banteng. Sebagaimana kita tahu, karakter Kasebul adalah memecah belah. Setelah Soeharto berkuasa, Pater Beek memerintahkan kader Kasebul masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Seperti kita ketahui, PDI merupakan hasil fusi berbagai partai politik, salah satunya Partai Katolik. Ketika Megawati menjadi ketua umum PDI, pengaruh Kasebul semakin menguat, baik lewat Benny Moerdani maupun CSIS. Dan sekarang, lewat Hasto, Kasebul semakin menghegemoni kandang Banteng. Megawati tak bisa lepas dari bujuk rayu Hasto dengan air mata buayanya.

Kata persatuan telah dihapus dari kamus Megawati. Dalam politik, Megawati selalu berkeinginan mendominasi dengan gaya “women on top”. Megawati mau bersatu dengan Prabowo dengan syarat SBY dan Jokowi disingkirkan. Megawati mau menjadi “si ratu” ketika Prabowo mengajaknya dalam satu koalisi. Tentu syarat semacam itu akan ditolak mentah-mentah oleh Prabowo yang menghendaki adanya persatuan nasional. Prabowo hendak memintal benang persatuan, sementara Megawati ingin merobek-robeknya. Inilah karakter “rai gedhek” (tak tahu malu) Megawati: sudah kalah tapi tak tau diri.

Sekarang kita patut bersyukur lepas dari kekuasaan Bantang yang selalu ingin menang sendiri. Pada akhirnya kita akan tersadar: Menitipkan kekuasaan pada Banteng sama dengan menitipkan dendeng pada anjing. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *