Aksi demonstrasi di Pati hanya berlangsung setengah hari. Dengan mudah polisi mematahkannya. Padahal mantan-mantan aktivis Kiri sudah pada ngaceng (ereksi) diiringi desahan “Revolusi akan dimulai dari Pati.”
Apa yang terjadi di Pati hanyalah upaya faksi-faksi borjuasi untuk bagi-bagi jatah. Hal yang wajar dalam demokrasi borjuis. Banteng sebagai pemilik suara terbanyak di parlemen lokal, tentu meminta bagian yang besar. Dengan 14 kursi mereka berusaha memegang kendali. Mereka sadar sang Bupati bukan dari kandangnya. Oleh karena itu, mereka perlu melakukan politik injak kaki. Partai-partai di luar kekuasaan juga begitu. Bohir-bohir dari pusat juga berkepentingan. Ocehan bahwa ini perlawanan rakyat hanyalah halusinasi saja. Rakyat hanya kuda troya saja.
Para pembenci pemerintahan Prabowo-Gibran—terutama dari Kasebul dan Banteng–menebarkan berita-berita bombatis. Propaganda mereka seragam: pemerintah panik, takut, semangat Pati akan menyebar, geng Solo kalut, Pati akan membuat rezim mati. Propaganda mereka persis propaganda CIA menjelang Peristiwa 1965: menciptakan ketakutan.
Kelompok anti Prabowo-Gibran—Kasebul, Banteng, LSM dan antek-antek asing—ini memang menginginkan situasi terus-menerus kesruh. Ketika ada siswa yang keracunan karena program Makan Bergizi Gratis (MBG), mereka dengan sigap menyebarkan digrup-grup WA. Tujuannya agar orangtua resah bahwa program tersebut membahayakan bagi anak-anak mereka. Tujuan akhirnya tentu agar program MBG ditolak. Ketika ada masalah tambang, mereka tabuh gendang tentang bahaya tambang. Ujungnya agar hilirisasi tambang kandas di tengah jalan. Saat ada kasus pelacuran di IKN, mereka segera saut menyaut bicara tentang dekandesi moral. Tujuannya agar IKN tak dilanjutkan karena membawa dampak buruk bagi masyarakat. Saat harga beras naik turun, mereka segara menebarkan propaganda program swasembada pangan serta food estate gagal total.
Inti dari propaganda pembenci pemerintahan Prabowo-Gibran adalah menciptakan pesimisme. Ketika rakyat pesimis terhadap pemerintah, mereka akan senang karena ada peluang untuk mendeligitimasi pemerintahan. Ulah-ulah seperti ini akan terus-menerus terjadi ketika pemerintah konsisten dengan program-program seperti MBG, hilirisasi, pembangunan infastruktur, sekolah rakyat, Danantara, swasembada pangan dan energi. Ada kepentingan dari kapitalisme Barat untuk mengganjal program-program tersebut.
Maka yang terjadi di Pati hanyalah titik kecil dari upaya mendelegitamasi pemerintahan Prabowo-Gibran. Bagi borjuasi, bupati akan dipertahankan bila masih menguntungkan atau digulingkan karena dianggap merugikan. Jangankan sekadar bupati, Sukarno dan Gus Dur saja digulingkan karena dianggap tidak menguntungkan kepentingan mereka. Pun, dengan Soeharto. Tangan-tangan modal bekerja. Dan, sekali lagi rakyat hanyalah kuda troya. Sebagaimana disampaikan Clifford Greertz, negara borjuasi sama dengan Negara Teater, di sana selalu akan ada drama, tragedi dan komedi.
Kerinduan mantan-mantan aktivis Kiri akan masa lalu, membuat mereka heboh seperti anjing yang terbakar ekornya setiap ada demonstrasi seperti di Pati. Sembari, tentu saja, menglorofikasi sejarah masa lalu mereka dan merasa ikut berperan dalam terjadinya demonstrasi hari ini. Tujuannya agar timbul keseakanan bahwa mereka adalah orang-orang revolusioner di masa lalu dan tetap revolusioner di hari ini.
Tak ada komune Paris di Pati. Aksi spontanitas seperti eksibisionis yang memamerkan kelaminnya di depan umum: menciptakan kepuasan mastrubasi. Sementara komune Paris memang diorganisasikan dan dipimpin dengan rapi. Itupun hanya mampu bertahan 72 hari.***





