HOPENG PRABOWO DAN TINJU UNTUK BANTENG SERTA PKS

Dua orang ini, Jokowi dan Prabowo, seirama dalam membaca problem bangsanya. Jokowi mendapatkan pengetahuan dari perjalanan hidupnya. Lahir sebagai anak orang biasa telah membuat hidupnya kaya dengan pelajaran. Prabowo lahir sebagai anak elit politik Indonesia, namun tragedi bangsanya membuat hidupnya berpindah-pindah tanpa jelas nasibnya. Sebagai bagian dari keluarga intelektual, ia banyak membaca buku. Berbenturan dengan berbagai waca membuat jalan pikirannya terbuka untuk hal-hal baru yang progresif. Dari dua aliran hidup yang berbeda itu, keduanya bersekimpulan sama: bangsa ini terlambat menjadi modern.

Kereta cepat merupakan simbol dari komodern itu. Whoosh bukan sekadar kecepatan 350 km/jam dan bentangan rel dari Halim sampai Tegalluar dengan menembus perbukitan tataran Sunda. Whoosh merupakan simbol pola pikir bahwa kita sudah menapak ke jalan modernisasi. Pola pikir ini tak bisa diukur dengan angka triliunan.

Sebelum era aufklarung dan renaisance, artinya masih dalam zaman kegelapan, Eropa harus melalui pertempuran yang berdarah-darah. Perang Salib berlangsung dari abad ke-11 sampai abad ke-13. Jutaan orang menjadi korban. Peradaban jatuh bangun. Baru setelah itu mereka memasuki zaman pencerahan. Sementara kita untuk sampai pada Whoosh harus melalui dua penjajahan dan jatuh bangun pasca kemerdekaan. Sekarang kita telah sampai ke titik terang itu, namun banyak tangan yang ingin menutup cahayanya. Mereka ingin kembali ke zaman kegelapan, zaman jahiliyah

Sebelum kemerdekaan, perdebatan menjadi modern sudah berlangsung lama dan bermuara  pada Polemik Kebudayaan. Kita mulai dari Barat atau Timur, atau menggabungkan keduanya. Itulah pertanyaan yang bersilangan di antara para pendiri bangsa. Hari ini Whoosh memperlihatkan pemisahan itu tak penting. Tiongkok (Timur) telah mengoper teknologi warisan James Watt (Barat) dan sekarang hasilnya jarak Jakarta-Bandung hanya butuh satu jam. Dengan begitu, ketika bangun pagi,  kita telah menjadi bagian dari kemodern warga dunia.

Menjadi modern memang bukan semata soal teknologi, tetapi juga cara berpikir yang menghargai ilmu pengatahuan untuk memanusiakan manusia. Menjadi modern berarti kita membuat kerja manusia lebih mudah sehingga memiliki waktu luang untuk dirinya sendiri. Komodern seperti yang dikatakan Naguib Mahfuz dalam Trilogi-nya, “Ia tegak di atas dasar-dasar ilmiah dan bergerak maju secara sistematis menuju sasaran-sarannya.”

Prabowo Subianto tak mau dipukul mundur lagi. Ia justru memukul dua kekuatan konservatif di negeri ini: Banteng dan PKS. Pukulan Prabowo telak mengenai rahang keduanya, membuat limbung dan tak sadarkan diri. Dengan suara baritonnya, Prabowo mengatakan, “Enggak usah khawatir ribut-ribut Whoosh. Saya sudah pelajari masalahnya. Tidak ada masalah, saya tanggung jawab nanti Whoosh semuanya.” Ini bukan sekadar kata-kata, namun proklamasi bahwa kemajuan tak bisa ditawar lagi. Kemodernan yang telah dirintis Jokowi akan ia lanjutkan sampai Bayuwangi.

Sebelum Prabowo mengeluarkan pernyataan itu, Banteng ingin tampil sebagai super hero kesiangan. Berulang kali mereka mengeluarkan paduan suara bahwa Emak mereka, Hajah Megawati, telah tiga kali menolak  kala Whoosh hendak dibangun Jokowi. Tak sadar, pernyataan itu membuka kebodohan mereka sendiri yang anti kemajuan. Karena tak sadar, mereka menelanjangi diri di depan rakyat. Mereka nyaman dalam dekapan kebodohan dan keterbelakangan. Sedekah beberapa gelar profesor kepada Emak Banteng, tak membuat partai ini menjadi partai yang berpikiran progresif dan ilmiah. Mungkin hal ini terjadi memang karena kapasitas otak Banteng.

Seirima dengan Banteng, sehari sebelum Prabowo membuat pernyataan di Stasiun Tanah Abang, PKS tiba-tiba muncul di televisi. Mereka menepuk dada bahwa PKS yang berada di barisan terdepan menolak Whoosh dan IKN. Mereka bangga telah mengganjal program Jokowi. Namun keesok harinya, mereka tak mengira bahwa Prabowo akan membuat pernyataan yang membuat mereka terkapar. ” [Whoosh] Jangan dipolitisasi, jangan kita menari di gendangnya orang,” kata Prabowo.

Banteng dan PKSI sama-sama partai mending. Mending duit Whoosh untuk…Daripada membangun IKN mending…Untuk apa membangun bandara dan jalan tol, mending…Begitulah lagu sumbang mereka. Kalau selama 10 tahun Jokowi mendengarkan mending-mending mereka, bangsa ini tak akan pernah maju. Akan semakin jauh tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa lain di muka bumi.

Habis sudah Banteng dan PKS. Kena pukul Prabowo. Prabowo membuka kotak pandora. Siapa yang progresif dan yang koservatif keluar dari dalamnya. Ia semakin tahu mana kawan dan lawan. Whoosh telah berhasil memisahkan mana yang emas dan mana yang arang.

Setelah membuat puyeng banyak orang yang selama ini membenci Jokowi, keesokan harinya, dalam peresmian Lotte Chemical Indonesia, Prabowo membuat pukulan terakhir yang mematikan: “Aku hopeng sama beliau (Jokowi).” Kita tahu hopeng diambil dari dialek Hokkien yang berarti “kawan sejati”.  Prabowo ingin menegaskan bahwa dirinya tak bisa dipisahkan dari Jokowi. Ia konsisten dengan keberlanjutan. Ia akan membawa warisan Jokowi lebih maju lagi.

Pada akhirnya kita tahu, Jokowi dan Prabowo berada dalam satu bantal dan satu mimpi: membawa Indonesia menuju negara modern.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *