Setelah membaca buku Mendongkel Kursi Sang Tiran untuk yang kesembilan kalinya, saya baru sadar tidak ada nama Lina. Apakah ini kesengajaan yang dilakukan Kiswondo? Dalam sejarah yang masih disusun secara patriakis, seringkali sosok-sosok perempuan ditenggelamkan. Padahal peranan Lina sangat besar dalam sejarah KPRP. Tanpa Juliet tak akan ada Romeo. Tak ada Laila maka tak ada pula Majnun. Pun, tanpa Adinda maka Saijah hanya pemuda desa biasa.
Saat itu, Lina masih mahasiswi hukum di Universitas Admajaya. Tinggal di asrama Syantikara yang diasuh oleh Suster Ben, Lina termasuk penganut Katolik yang taat. Dalam buku ini, Kiswondo juga tak memasukkan nama Suster Ben. Saya tidak yakin ada kecendurungan misoginis dalam diri Kiswondo sehinga membenci perempuan. Mungkin ini hanya masalah lupa atau kelewatan saja. Dalam sejarah gerakan Kiri di Yogyakarta dan juga KPRP, peranan Suster Ben tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia sangat akrab dengan Haji Faisol Riza. Suster Ben meninggal setahun yang lalu di Bandung.
Lina adalah generasi awal mahasiswi dari asrama Syantikara yang bergabung dengan KPRP. Berasal dari kelas menengah mapan, ia tidak pernah bersentuhan dengan ide-ide Kiri. Bukan pula bagian dari kelompok studi progresif. Tak pernah pula bergabung dengan organisasi mahasiswa seperti PMKRI. Ia mewakili generasi yang masuk kampus pasca 27 Juli 1996. Generasi baru yang terputus dari generasi Hari Subagjo.
Lina berbeda dengan Dhohir Farisi, misalnya. Sama-sama satu generasi (masuk universitas tahun 1997), Dhohir semenjak SMA di Probolinggo sudah bertautan dengan dunia Kiri. Sewaktu SMA, Dhohir sudah menjadi kurir yang ditugaskan untuk menyembunyikan Raharjo Waluyo Jati. Ia yang menjemput Jati di terminal Bungurasih, Surabaya. Dengan bus Akas jurusan Surabaya-Jember, pasca Kuda Tuli, Dhohir menyembunyikan Jati di salah satu pesantren di Probolinggo. Selain itu, kakak Dhohir adalah aktivis Kiri legendaris: Haji Faisol Riza. Tak mengherankan, begitu masuk Fakultas Filsafat UGM, Dhohir sudah bergaul dengan aktivis Kiri di Dian Budaya seperti Kiswondo dan Susilo.
Sementara Lina tak mempunyai tautan seperti itu. Ia berangkat dari kesadarannya sendiri bergabung dengan dunia aktivisme progresif. Memang aneh ketika nama Lina tidak disebut sama sekali oleh Kiswondo. Padahal Lina merupakan bagian pertama dari generasi pasca 27 Juli yang bergabung, bahkan sebelum KPRP terbentuk. Ia sudah hadir di acara mogok makan dan mimbar demokrasi. Tempat favoritnya adalah selesar depan ruangan Pijar, meriung bersama yang lain.
Lina bukanlah kembang api. Artinya, ia tidak muncul sekilas lalu menghilang. Banyak yang muncul ketika ramai-ramai demonstrasi 1998, namun setelah itu menghilang entah kemana. Lina aktif sejak KPRP masih di Fakultas Filsafat UGM hingga pindah ke daerah Pandega Marta VI/ No 22. Bahkan ketika KPW PRD DIY dengan ketua Haris Rusli Moti terbentuk dengan sekretariat di Kricak, Lina juga masih mondar-mandir di sekretariat PRD sembari aktif di KPRP.
Sejarah berkaitan pula dengan konstruksi, tapi saya belum yakin juga ada konstruksi untuk menghilangkan mana Lina dari buku Mendongkel Kursi Sang Tiran. Saya belum paham mengapa hal ini terjadi. Setelah saya pelajari lebih lanjut, buku ini terlalu fokus pada narasi besar. Upaya untuk menglorifikasi masa lalu dengan menautkan dengan peristiwa besar—Orde Baru dan tetek bengeknya—mengabaikan narasi-narasi kecil yang sebetulnya menarik untuk dikisahkan.
Narasai-narasi kecil berkaitan dengan manusia dengan segala probematika hidupnya—impiannya, harapannya, ketakutannya, keberanian, perasaan demorasilasi,cinta maupun rasa putus asa—disingkirkan dari buku ini. Kalaupun ada manusia dalam buku ini, ia hanya berhenti pada nama, bukan manusia yang berdarah daging.
Dalam buku ini ada nama Daru Supriyono, Elisabet Ida dan Veronica Kusuma, namun mereka hanya disebut sebatas aktivis baru. Seolah-olah mereka hanya nama, tidak dimunculkan perasaan-perasaan, apa yang dilakukan, harapan, keinginan, kecemasan sehingga kemudian bergabung dengan KPRP. Mereka seperti ada begitu saja karena ki dalang Penulis mau mereka berada di pentas buku yang ia tulis. Sejarah bagi penulis buku ini hanya sebatas nama dan peristiwa, bukan kehidupan manusia yang nyata. Padahal yang membuat sejarah adalah manusia. Namun manusia disingkirkan dari buku Mendongkel Kursi Sang Tiran.
Alfa pada narasi-narasi kecil, buku ini hanya hanya fokus pada tempat-tempat yang berkaitan dengan aktivitas revolusioner. Pajeksaan, misalnya, oleh Kiswondo tidak ditulis. Padahal di Pajeksaan, sebagian nama-nama yang ada di buku ini menjadi manusia seutuhnya. Mereka menumpahkan kesuntukannya di Pajeksan, bukan sebagaimana manusia yang dituntut teriak revolusi.
Di Pajeksan mereka berdendang, merintih, putus asa, berdebat tenteng remeh temeh sembari berseru ala Heru Shaggydog: Angkat gelasmu kawan!. Setelah menenggak air kedamaian—meminjam lirik Shaggydog—mereka mendapatkan kembali kemunisiannya—kemanusian yang tak disetir oleh ideologi dan materi kursus politik.
Hilangnya nama Lina muncul karena selalu ingin menjadi bagian sejarah besar. Tak sanggup mendokontruksi sejarah masa lalu yang penuh dogma. Tapi mau apa lagi: semua ingin ditulis sebagai pahlawan.***





