DARI MERAH SAJA KE MERAH JAMBU: MELONGOK SEJARAH KPRP

Hanya dua kata untuk buku berjudul Mendongkel Kursi Sang Tiran: keren,man!

Tapi karena saya dibayar untuk mengulas buku ini, tentu dua kata saja tidak cukup. Buku ini dibuka dengan pengantar yang super keren. Kata pengantar itu diberi kepala: Keberanian Itu Entah Datang dari Mana. Ini kata pengantar terbaik yang pernah saya baca. Menggabungkan unsur-unsur realisme magis ala Gabirel Garcia Marquez, surialisme James Joyce dan Franz Kafka, dan eskpresionisme Affandi. Tentu saja pengantar ini ditulis oleh pengarang yang jenius yang telah menulis cerita pendek Dua Tangisan Pada Suatu Malam—sebuah cerpen terbaik sebelum era kecerdasan buatan. Dulu saya menganggap pengantar Pramoedya Ananta Toer yang ditulis untuk Max Havelaar karya Multatuli adalah yang terbaik. Sekarang saya harus mengoreksinya. Pengantar Pramoedya telah dilampaui oleh pengantar dalam buku ini.

Sampai kata semoga dalam kata pengantar tersebut, tak terasa mata saya membasah. Kalau pertahanan di mata saya tidak kokoh, air mata saya akan ambrol, membanjir, tumpah ruah. Kata pengantar ini disesaki kalimat-kalimat puitis seperti Di sinilah letak kesulitan buku ini, keberanian mengambil resiko, atau kalimat-kalimat yang nakal seperti hari-hari dalam kecemasan dan ketegangan, kalau mau jujur, atau kalimat-kalimat yang membuat terharu seperti saya harus mengapresiasi kedua penulis buku ini, variabelnya terlalu banyak. Intinya, banyak kata dalam pengantar  bisa dicomat sebagai kata mutiara di gelas, kaos, gantungan kunci, bahkan pantat truk seperti kalimat: Ia terlalu rumit. Seasyik kata-kata Dian Sastro: Pecahkan saja gelasnya.

Palagan Sampai Indeks

Bab pertama buku ini bertitel Palagan. Dibuka dengan kalimat yang magis: Dua pekan jelang Soeharto lengser. Malam itu, 5 Mei 1998, suasana mencekam di Gejayan. Bila tipografinya diubah dalam bentuk puisi, akan berbunyi:

Dua pekan jelang Soeharto lengser

          Malam itu,  5 Mei 1998

          suasana mencekam di Gejayan—

                     seruas jalan dari utara ke selatan

                     membelah kawasan kampus paling padat di Sleman,

                     Yogyakarta

 

Orang yang hatinya halus  tentu akan terhayut membaca pembuka bab Palagan yang ditulis oleh Kiswondo ini. Tidak ada yang menyangkal, Kiswondo adalah penyair terbaik yang pernah dimiliki UGM. Dalam menganggit puisi, bahkan WS Rendra yang pernah ngangsu kaweruh di UGM akan sulit menandingi kemampuan pertukangan Kiswondo. Penyair seperti Kiswondo, sebagaimana dikatakan kritikus sastra A. Teeuw, hanya akan muncul sekali dalam jangka waktu 100 tahun.

Sayang Kiswondo berubah dari penyair menjadi penulis makalah pada paragaf-paragraf selanjutnya. Dimulai kalimat: Istilah Orde Baru secara umum…Saya kehilangan Kiswondo sejak kalimat itu. Selanjutnya, saya seperti membaca uraian dalam diktat Lemhanas, kursus politik, seminar wawasan kebangsaan atau kuliah sejarah dengan pengampu Sartono Kartodirdjo. Pembaca disuguhi ulasan yang itu itu saja, data-data yang itu-itu pula. Tak ada daya gedor. Tak ada perasaan was-was seperti ketika membaca Ada hantu berkeliaran di Eropa: Hantu komunisme! Tak ada emosi di sana.

Kiswondo membalap seperti kuda di pacuan. Akibatnya, Kiswondo tidak telaten merajut kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Tak sabar mencari diksi yang pas untuk menggambarkan suasana. Tak  rajin membuka-buka tesaurus untuk mencari kata yang tak klise. Akibatnya, saya menemukan sesuatu yang kering ketika membaca bab Palagan dan seterusnya. Seperti disuruh berjalan di gurun pasir pada siang bolong, sembari dirantai pula. Dengan kata lain: tidak ada rasa. Bila sebuah tulisan tidak ada rasa, kita hanya melafal abjad demi abjad dari alif sampai z.

Kita sudah seringakali mendengar kata Malari. Sudah ratusan kali mendengar NKK/BKK, PRD, SMID dan lain sebagainya. Apakah tidak bosan? Mengapa kita terus-menerus memamah yang itu itu saja? Tanpa berani membuat kajian alternatif? Kajian tandingan terhadap sesuatu yang telah menjadi beku? Sayang sekali Kiswondo tidak mengeluarkan kemampuan Raja Midasnya.

Kiswondo adalah penyair. Semestinya bisa masuk dari sastra. Semisal dari  dari novel Arjuna Mencari Cinta atau Cintaku di Kampus Biru. Pembaca hanya disuguhi sesuatu yang besar dan jauh dari hari ini. Suatu dogma yang selalu ditulis ketika menariskan Orde Baru dan sejarah gerakan. Pasti ada FKMY, DMPY atau SMY. Okelah sejarah bersandar pada fakta, tetapi bukan berarti tidak bisa diolah dengan narasi yang hidup. Max Havelaar karya Multatuli adalah sejarah penindasan Belanda di Lebak. Namun ia olah dengan narasi yang tak membosokan, dengan kisah Saijah dan Adinda yang berpisah di bawah pohon ketapang. Sesuatu yang sudah banyak ditulis sejarawan, menjadi berbeda karena kepiawaian Multatuli dalam mengolah kebenaran hulu menjadi kebenaran hilir. Dan Kiswondo sebenarnya mempunyai kemampuan untuk itu. Mungkin kurang mood saja.

Bila membaca buku ini halaman demi halaman, kita seperti membaca absensi ketika sekolah dulu. Secara kasar saya hitung ada 100 lebih nama-nama yang disebut. Selain nama, tentu saja sekian puluh nama organisasi yang berderet-deret antri untuk masuk dalam gelanggang narasi yang sedang dibangun Kiswondo. Membaca buku ini seperti membaca Apa dan Siapa yang pernah diterbit Grafitipres pertengahan tahun 1980-an.

Okelah. Semua ingin dicatat dalam gelanggang sejarah gerakan Kiri di Indonesia. Namun, lagi-lagi perlu pengolahan sehingga tidak terkesan seperti membaca absensi dan daftar organisasi mahasiswa. Semestinya, meminjam istilah bahasa Inggris yang disampaikan Haris Rusli Moti di catatan penutup, Kiswondo bisa mengolahnya menjadi strory telling. Ketika membaca catatan penutup yang ditulis Moti dengan judul Kita adalah Generasi yang Beruntung Punya “Cerita”—judul sebagaimana kebanyakan cerpen hari ini—saya sudah melonjak kegirangan karena akan mendapatkan sesuatu yang story dan telling sekaligus. Ternyata harapan tinggal harapan.

Namun bukan berarti buku ini tidak menarik. Tetap keren. Dari sekian nama yang disebut, ada satu nama yang menurut saya menarik, yaitu nama L.A. Aris Hartono atau sering disapa Botol. Nama itu disebut di halaman 107. Setelah membaca buku ini saya baru tahu, kalau Botol ini ternyata aktivis revolusioner Kiri. Setahu saya, ketika mengunjunginya di Gang Guru, kerjanya hanya tidur-tiduran di kamar kost. Kadang ketika saya datang, ada mbak-mbak yang baru saya ketahui belakangan sebagai presenter di SCTV. Ternyata seperti Tan Malaka, Botol sedang menyamarkan dirinya dari aktivitas revolusionernya agar tidak ketahui banyak orang. Saya baru sadar sekarang kalau sedang terkecoh. Upaya Botol dalam melakukan kamuflase sungguh luar biasa. Sebetulnya bila saya jeli, dengan membaca namanya Leo Agung, semestinya saya sudah mengetahui afiliasi politiknya.

Nama lain yang menarik untuk saya sebut adalah Hari Subagjo. Saya tidak paham kenapa oleh Kiswondo hanya disebut satu kali,yaitu di halaman 73. Menurut saya dibutuhkan satu halaman khusus untuk menuliskan strory telling Hari Subagjo ini.  Dia bersama Raja Kong dan  Andi Munajat adalah Sang Pemula dalam sejarah gerakan Kiri di Yogyakarta dan nasional. Tanpa ketiga nama ini, arah sejarah Kiri di Indonesia tidak akan seperti saat ini. Sekali lagi saya tak paham kenapa Kiswondo begitu pelit sehingga hanya menyebutnya sekali, tidak dibuatkan satu bab khusus, misal dengan judul Bang Petruk, Mao dan Kiri Sejati. Bagi saya Kiswondo sedikit keteraluan sekadar menyejajarkan Hari Subagjo dengan Bonor Tigor, Isti Nugroho atau Afnan Malay.

Nama lain yang semestinya mendapatkan perhatian lebih adalah Sri Wahyuningsih. Lagi-lagi nama Sri Wahyuningsih hanya disebut sambil lalu oleh Kiswondo. Padahal Sri adalah nama krusial setelah Peristiwa 27 Juli. Satu bab saja tidak cukup utuk menarasikan strory dan telling, apa lagi hanya disebuat ala kadarnya seperti dalam buku ini. Membutuhkan satu buku khusus untuk membabarkan kisah Sri Wahyuningsih. Ketika berada di fase bawah tanah, tanpa peran Sri, gerakan kiri di Yogyakarta akan morat-morat. Dia adalah diregen sesungguhnya yang memimpin orkrestasi gerakan kiri di Yogyakarta.

Tak ada Manik, Tak ada Kasebul dan Tak ada Perpecahan

Setelah membaca kata pengantar sampai catatan penutup, saya menemukan beberapa kekurangan dan kekeliruan. Ada banyak kekurangan dan kekeliruan, saya sebutkan tiga saja.

Di halaman 81 disebutkan kalimat “Pun tak ada arahan dari KPK Yogyakarta.” Bagi saya pernyataan tersebut keliru. Ada pertemuan di salah satu wisma di kawasan Kaliurang. Pertemuan tersebut untuk merespon hasil keputusan Dewan Nasional PRD sebagaimana yang disebutkan di dalam buku ini. Pertemuan dipimpin oleh Haji Faisol Riza didampingi oleh Susilo sebagai ketua KPK PRD (bawah tanah). Dalam pertemuan tersebut Haji Faisol menyampaikan bahwa dibutuhkan pemindahan kader ke Jakarta untuk konsentrasi pengorganisiran kaum miskin kota. Diputuskan empat orang ke Jakarta.

Agenda lainnya adalah evaluasi. Tentu saja salah satu yang dievalusi adalah Manik Wijil Sadmoko alias Admo (pakai d). Betul bahwa Admo adalah koordinator pengorganisiran mahasiswa dengan anggota Ian, Profesor, Nur Hiqmah (sebelum menjadi ketua KNPD) dan Adi. Terutama oleh Haji Faisol, Admo dinilai kurang maksimal karena aktivitasnya hanya klemahan di ruang Pijar sembari udad udud. Maka diintruksikan agar Admo membuat kegiatan. Tentu saja tidak disebut secara spesifik bahwa kegiatannya harus mogok makan. Pun, tidak diintruksikan bahwa membentuk organisasi bernama KPRP. Singkatnya intruksi kepada Admo itu ada. Dengan kata lain, lahirnya KPRP ini tidak bisa dipisahkan dari KPK PRD Yogyakarta via Admo sebagai koordinator organisator mahasiswa

Selanjutnya masalah kekurangan. Dalam buku ini tidak ada disebutkan peranan Kasebul (kaderisasi sebulan) dalam sejarah KPRP. Bila dibaca di indeks, tidak ada nama Dewi Larasati. Padahal dia salah satu sosok penting, khususnya penggalangan dana. Dewi Larasati merupakan salah satu kader non PRD  Haji Faisol. Saya tidak tahu cara Haji Faisol mendapatkan sosok ini. Tiba-tiba saja muncul. Itulah salah satu kelebihan Haji Faisol, licin dalam bergerak.

Selain itu, lewat tangan-tangan yang lain Kasebul juga ikut mendorong agar KPRP menjadi organisasi yang radikal dengan aksi-aksi yang bentrok dengan polisi maupun tentara. Kasebul sangat berkepengian dengan KPRP sehingga mahasiswa-mahasiswi Katolik dikerahkan untuk keluar dari asrama, terlibat dalam aksi-aksi massa. Sebagian dari mereka juga bergabung dengan KPRP. Serikat Jusuit lewat romo-romo mereka juga berkepentingan dengan KPRP. Guna menghamtam Soeharto, mereka butuh sosok Islam yang radikal seperti Haris Rusli Moti.

Dalam buku ini juga tidak ada dituliskan perpecahan dalam KPRP. Sepertinya penulis enggan membabarkan kisah perpecahan di KPRP. Mungkin masih ada anggapan bahwa perpecahan itu aib yang tak perlu dibuka di publik. Padahal perpecahan dalam sebuah oraganisasi Kiri adalah hal biasa. Sampai kini kita masih ingat perpecahan PBSDR menjadi Bolshevik dan Melshevik. PKI juga menuliskan perpecahannya dengan Tan Malaka dan Alimin.

Organisasi sempalan KPRP yang dibidani oleh Gunadi, Yerry, Susi dan Yuli, semestinya dituliskan untuk menghormati pilihan politik mereka. Nama dan oraganisasi mereka perlu juga diabadikan sebagai bagian dari sejarah KPRP. Mereka juga berhak dicatat sebagai bagian dari dialektika perjalanan KPRP dari lahir sampai dikuburkan.

Terlepas dari semua yang saya sampaikan, siapa saja bila ingin bahagia dalam situasi dunia yang serba tidak menentu, minimal perlu membaca buku ini sekali dalam hidupnya. Saya jamin, Anda akan kecanduan membacanya dari halaman italic sampai indeks.

Saya bersaksi bahwa buku Mendongkel Kursi Sang Tiran adalah buku yang keren, dengan pengantar yang keren, isi yang keren, catatan penutup yang keren, ditulis oleh dua orang yang keren, disunting dengan keren, bicara tentang orang-orang yang keren dan tentang organisasi yang keren. Hanya dua kata: keren,man!***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *