Kasebul atau Kaderesasi Sebulan atau disebut juga khalwat satu bulan atau retret satu bulan, merupakan kaderasi pemuda Katolik yang digagas oleh Pater Beek. Tujuan kaderisasi ini adalah menciptakan angkatan muda Katolik garis keras guna melawan komunis dan Islam. Suster Theodoro van Thienen—dari kongregasi CB— merupakan suster yang mengurusi rumah tangga Wisma Samadi di Klender, Jakarta Timur, dari tahun 1967-1977. Di tempat inilah selama 30 hari penuh Pater Beek menggembleng pemuda pemudi Katolik yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Dalam wawancara dengan suster Theodoro, yang dikutip dalam tulisan Karel Steenbrink berjudul Kalangan Katolik dan G30S, disampaikan dengan rinci metode pendidikan Kasebul. Sebagai kaderisasi bawah tanah, jarang sekali yang mengungkap bagaimana mereka digembleng selama sebulan. Alumni-alumni Kasebul tak akan memberitahukan kepada siapapun bahwa mereka mengikuti kaderisasi tersebut. Kalaupun ketahuan, dengan berbagai cara, mereka akan melakukan penyangkalan.
Menurut suster Theodoro, Pater Beek datang ke Wisma Samadi sebanyak empat kali dalam setahun. Setiap datang ia membawa 100 orang mahasiswa dan menetap di tempat itu selama 30 hari. Kebanyakan adalah laki-laki, perempuannya hanya 8 sampai 10 orang. Bila ada kader Kasebul perempuan, berarti memang benar-bener pilihan—seperti kawan saya.
Isi materi dalam pendidikan Kasebul adalah tentang situasi nasional, ajaran gereja khususnya Konsili Vatikan II, Islam dan perkembangan politik mutakhir. Sebagaimana dituturkan oleh suster Theodoro, tujuan Kasebul adalah ” mempersiapkan kawula muda ini untuk disebarkan ke desa-desa.” Tujuan akhirnya adalah masuknya kader-kader Kasebul ke dalam pemerintahan dan parlemen.
Pendidikan Kasebul ini sangat keras. Berdasarkan pengakuan suster Theodoro, bahwa “pengalaman novictat tidak ada bandingangannya.” Sekeras apa? Bila berbuat salah, mereka akan dihukum berat. Bentuk hukumannya bervariasi, antara lain ditampar sekeras-kerasnya, tidak dikasih makan atau disuruh jalan di koridor wisma secara bolak-balik seperti Sisifus yang dihukum mendorong batu.
Pater Beek sendiri yang menampar sembari berkata, “tampar balik aku.” Maka terjadi adu tampar. Siapa yang paling kuat menampar yang akan menang, salah satunya harus terkapar baru akan diakhiri. Selain itu, hukuman badan lainnya,yaitu tidak diberikan makan dan minum seharian. Hukuman ini terutama untuk Kasebulwati.
Aktivitas kesehariannya adalah berdoa selama 12 jam. Doa dilakukan dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi. Agar tidak mengantuk, mereka minum kopi. Salah satu ciri khas kader Kasebul adalah kesukaan minum kopi. Selain itu, mereka puasa seharian. Ini mirip puasa orang Jawa, 24 jam penuh. Bila puasa dimulai jam 3 sore, maka berbukanya jam 3 sore keesokan harinya. Alasan Pater Beek menyuruh berpuasa adalah merasakan penderitaan rakyat yang papa. Mereka juga diminta tidak tidur seharian penuh dengan duduk di depan pintu kamar dengan nyamuk-nyamuk yang menggigit. Mungkin ini semacam semadi orang Jawa cuma tidak ada kehadiran sosok Nyi Roro Kidul.
Bagi kader Kasebul yang sering melakukan kesalahan akan dipulangkan. Berdasarkan kesaksian suster Theodoro, dalam satu angkatan ada sekitar 20-25 orang yang dipulangkan. Karena kaderisasi ini bersifat rahasia, mereka yang desersi ini juga dilarang menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Ada kawan saya yang desersi, masih takut-takut kalau menceritakan pengalamannya ketika ikut pendidikan Kasebul.
Ujian lain bagi kader Kasebul adalah ujian kejujuran. Pater Beek akan menaruh uang di dalam buku yang ada di kamar peserta. Bila uang itu hilang, maka Pater Beek akan bertanya siapa yang mengambilnya. Bila tidak yang mengaku, maka akan dicari sampai dapat, termasuk ke warung yang ada di asrama. Uang tersebut sudah diberi tanda sehingga bila dibelanjakan akan ketahuan.
Dari mana biaya selama pengkaderan Kasebul? Pater Beek mendapatkan sumbangan keuangan dari Belanda dan Jerman. Oleh karena itu, selama 30 hari peserta Kasebul ditanggung biaya hidupnya. Mengapa selama 30 hari lama pengkaderannya? Karena mengikuti ajaran Santo Ignatius, pendiri Ordo Jesuit.
Setelah lulus pengkaderan, kader Kasebul harus siap ditempatkan di mana saja. Mereka disusupkan di kelompok Islam, kelompok diskusi, LSM hingga partai politik. Pada era 90-an, banyak kader-kader Kasebul yang disusupkan masuk organisasi kiri seperti SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi), PRD (Partai Rakyat Demokratik) maupun KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan). Mereka berusaha mendominasi organisasi-organisasi tersebut.
Sewaktu Orde Baru, kader Kasebul juga disusupkan ke kalangan dukun. Pater Beek mengangap Soeharto sangat percaya kata-kata dukun, maka perlu ada kader Kasebul yang bekerja di kalangan dukun untuk bisa mempengaruhi Soeharto. Dari kalangan dukun ini, Pater Beek juga banyak mendapatkan informasi tentang Soeharto. “…[K]ita punya beberapa orang yang berpengaruh besar terhadap si dukun,” kata Pater Beek.
Dari penuturan suster Theodoro, kita menjadi tahu bagaimana Hasto Kristiyanto digembleng. Tidak ada kaderisasi sekeras Kasebul. Bisa dicek kaderisasi HMI, PMII atau GMNI, tak ada apa-apanya bila dibandingkan Kasebul. Kaderisasi PRD juga tak sekeras itu.”Kursus kaderisasi kita luar biasa,” kata Pater Beek. “Terus menerobos [menyusup]. Tetapi para pastor ini tidak boleh omong terlalu banyak [menjaga kerahasian Kasebul].”
Salah satu metode Kasebul untuk menghancurkan lawan adalah pecah belah. Inilah yang dipakai Hasto dalam berpolitik: memecah belah. Pater Beek pernah menceritakan bagaimana memecah belah kekuatan Islam pasca peristiwa G30S. Ia selalu melihat Islam sebagai ancaman yang harus diisolasi dari perpolitikan Indonesia. Pun, bagi Hasto.
Yang menjadi misteri, kenapa Hasto yang digembleng sekeras itu gampang nangis-nangis? Dari penuturan suster Theodoro, tidak ada metode nangis-nangis ini dalam materi pendidikan Kasebul. Dari situ kita bisa simpulkan air mata Hasto hanyalah air mata buaya—metode untuk mengeruk simpati dan mengelabuhi lawan.***





