Kisah Banteng untuk memancing gegeran politik merupakan kisah klasik dalam cerita Jawa. Karakter Banteng selain dungu, juga gampang dijadikan umpan politik. Maka ada ungkapan “Seperti Banteng dicucuk hidungnya.” Artinya menurut saja karena kebodohannya. Berbeda dengan Gajah yang cerdas sehingga menjadi simbol Dewa Kecerdasan dalam wujud patung Ganesha, Banteng hanya paham menanduk dan makan sekenyang-kenyangnya. Kelamahan Banteng inilah yang dimanfaatkan Joko Tingkir untuk membikin ontran-ontran di alun-alun Demak. Banteng menjadi gila. Menanduk siapa saja yang ada didekatnya. Dan, Joko Tingkir yang mendapatkan nama harum: berhasil menaklukan Banteng gila.
Peristiwa 27 Juli 1996 sekisah dengan cerita Joko Tingkir. Dalam buku Menyibak Tabir Orde Baru, Jusuf Wanandi menjelaskan peranan Benny Moerdani dalam kisruh ditubuh Banteng. Benny yang sejak awal tahun 1990-an sudah tersingkir dari pentas politik Orde Baru, mencari tungangan baru untuk melawan Soeharto. Menunggang Beringin dan Kabah jelas tidak mungkin. Satu satunya yang bisa ditunggangi adalah Banteng. Kebetulan Bantengnya betina.
“Kita harus melindungi Megawati. Jangan sampai mengecewakan dia. Saya tahu orang tua satu itu ingin menggesernya. Ini tidak adil,” kata Benny Moerdani. Kita tahu Benny merupakan sekutu Pater Beek yang menggagas Kasebul (Kaderisasi Sebulan). George J Aditjondro, salah seorang kader Kasebul, menyatakan peranan Benny bersama Ali Moertopo dalam pembentukan CSIS. Pada awal Orde Baru, Benny dan CSIS menjadi bagian yang mendukung total invansi Indonesia ke Timor-Timor. Kecewa karena adanya invansi itu, Aditjondro keluar dari Kasebul. Karena keluar, maka dia sering diserang oleh kader Kasebul dari UGM: Antonius Made Tony Supriatma. Made Tony sering mengintrik Aditjondro di depan Ben Anderson dengan berbagai isu yang memojokan. Keduanya sama-sama kuliah di Universitas Cornell. Metode intrik ini sudah biasa digunakan Kasebul untuk menghancurkan lawan politiknya.
Alasan lain Aditjondro keluar dari Kasebul karena organisasi itu mulai mengarahkan serangan ke Islam. Dengan alasan-alasan itu, Aditjondro menulis :” …saya tidak bisa lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek.” Dalam berbagai garis ideologi dan politik Kasebul, Benny lewat CSIS-nya sangat berperan. Mereka menjadi mesin penggilas politik umat Islam. Peristiwa seperti Komando Jihad, Pembajakan Wayloya, kerusuhan Tanjung Priok hingga subuh berdarah di Talangsari, merupakan upaya mereka untuk mencitrakan Islam sebagai agama kekerasan.
Upaya Benny untuk “melindungi Megawati” dari ancaman “orang tua satu itu (Soeharto), seperti kisah Joko Tingkir: membuat Banteng mengamuk. Dan, pada tanggal 27 Juli 1996, Banteng mengamuk di Jalan Diponegoro 58, meluas sampai Pasar Senen. Setelah Banteng mengamuk, maka Joko Tingkir-Joko Tingkir bermunculan. Kelompok Benny ketika itu, sebagaimana dituturkan Jusuf Wanandi, diantaranya adalah AM Hendropriyono dan Agum Gumelar. Sementara di sisi seberang ada Faisal Tanjung, Sutiyoso dan SBY. Masing-masing kelompok berusaha memanfaatkan peristiwa Banteng mengamuk untuk kepentingan politik. Maka PRD (Partai Rakyat Demokratik) lah yang menjadi kambing hitam.
Perburuan terhadap kader-kader PRD tak berhenti setelah 27 Juli 1996. Ketika bom meledak di rumah susun Tanah Tinggi unit 501, 18 Januari 1998, PRD kembali dituduh dan dikejar-kejar yang berujung pada penculikan. Menariknya, ketika penggebrekan di Tanah Tinggi paska bom meledak, ada dokumen yang berisi bantuan dari Sofian Wanandi untuk aksi rencana pemboman tersebut. Maka dikait-kaitkanlah PRD dengan CSIS. Kita tidak tahu siapa yang meletakan dokumen itu di sana (ya, walaupun tahu pura-pura tidak tahu saja), yang pasti PRD hendak dihancur leburkan. Sejak Benny disingkirkan Soeharto, CSIS sudah berseberangan dengan Orde Baru.
Di laptop yang disita di Tanah Tinggi juga ada notulensi yang menyebutkan peranan “Pak Brewok” dalam membantu pendanaan. Intelijen terkecoh, mengira “Pak Brewok” adalah Surya Paloh. Tentu Surya Paloh terkaget-kaget juga ketika diintrograsi dan dikaitkan dengan pendanaan perakitan bom di Tanah Tinggi. Sementara itu, “Pak Brewok” yang sesungguhnya bebas lenggang kangkung.
Dari arsitektur peristiwa 27 Juli 1996, PRD hanya tumbal saja demi “Melindungi Megawati” (sebagaimana dikatakan Benny Moerdani). Ada kepentingan jaringan Kasebul untuk menggunakan Megawati sebagai alat untuk melawan Soeharto. Sebab, kemesraan Kasebul dengan Soeharto sudah berakhir. Soeharto semakin dekat kelompok Islam, yang dianggap sebagai ancaman bagi kelompok Kasebul. Dan, saat Adian masih sibuk ngloco, PRD sudah berada di barisan terdepan melawan Soeharto. Saat Adian beler setelah menengggak kawa kawa yang dicampur autan, PRD sudah menyatakan perang terbuka pada Orde Baru di dalam Manifesto-nya. Kondisi ini yang membuat PRD dan Kasebul dalam posisi yang beririsan: ada titik temu. Sudah menjadi rahasia umum, tidak sedikit pula kader Kasebul dalam tubuh PRD. Bisa dikatakan, gurita Jesuit ikut pula membelit PRD.
Hari ini apa yang ditanam PRD dua puluh sembilan tahun lalu telah berbuah. Lima orang kader terbaik PRD masuk dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. Budiman Sudjatmiko, Agus Jabo, Nezar Patria, Faisol Riza dan Mugiyanto Sipin ada dalam struktur kabinet. Beberapa yang lain seperti Aan Rusdiyanto, Andi Arief dan Nuraini menjadi komisaris diberbagai BUMN. Sebagian yang lain, seperti Panel Barus menjadi deputi dan sebagaian lain menduduki posisi di lembaga-lembaga negara—seperti Bin Bin Firman Trisnadi yang berada di Sekretariat Negara dan Ricky Tamba di KSP. Semua ini memperlihatkan kualitas kader-kader PRD yang diakui oleh Prabowo. Sebagai kader yang pernah ditempa di medan revolusi, mereka siap ditempatkan di mana saja.
Memang ada pula kader-kader PRD yang masih menjadi gelandangan politik. Membuat gerakan-gerakan yang tiada arti dengan membuat statement ini dengan ciri khas “kami yang berdantangan di bawah ini yang masih terluka hatinya.” Rata-rata mereka sudah uzur. Hidup dalam nostalgia masa lampau dan keseakanan romatis revolusioner. Hidup dalam alam impian masa muda yang seakan masih progresif. Bagi mereka statement atau peryataan sikap adalah sebentuk kerevolusioneran dan kebersihan nurani. Namun jumlah mereka hanya seperti kotoran di ujung kuku: sedikit dan tak berarti.
Ada pula kelompok minoritas dari kader-kader PRD yang menjadi oposisi di grup-grup WhatsApp. Apapun kebijakan pemerintah akan dihantam. Bagi mereka, pemerintah saat ini adalah Dajjal yang tak ada benarnya—Raja Ampat salah, MBG keliru, hilirisasi kemenyan bentuk kebodohan dan lain sebagainya—sembari sesekali menumpahkan sinisme terhadap Jokowi yang sudah tak berkuasa. Semua yang diperbuat oleh pemerintah dianggap sebagai keburukan. Karena hanya di grup-grup WhatsApp, gerakan semacam hanya bertujuan menghibur sesama kamerad, saling membelai hati yang gundah gulana. Sebagaimana gonggongan anjing pudel, kesan yang muncul dari mereka ini adalah kelucuan, bukan sangar–anggap saja sebagai open mic dalam pentas lawakan berdiri.
Sebagai penutup kisah Kudatuli, seorang kader Kasebul (yang tak mau disebutkan namanya dengan inisial “D”) yang sangat penting posisinya di KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan) pada zaman Reformasi, mengatakan: “Kita (maksudnya organisasi Kiri) ini hanya dijadikan martil saja oleh Kasebul.” Saya jawab : “Lha kowe kok gelem (Kok kau mau)?” Dia menjawab: “Iman.”***





