POLITIK JOKOWI DAN BANGUN PAGI BANGUN PARTAI

Slogan “Bangun Pagi, Bangun Partai” bisa jadi dianggap sebagai guyonan. Namun, istilah itu muncul dari pengamatan selama 10 tahun terhadap dua partai: PRD dan PKS.

PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera—sebelumnya bernama Partai Keadilan), bisa dikatakan kembar. Kedua partai ini sama-sama partai kader berbasis massa dengan jenjang kaderisasi yang ketat. Dalam pengorganisiran, keduanya menggunakan sistem sel yang rapi. Baik PRD dan PKS bertulangpunggungkan mahasiswa atau biasa disebut kaum borjuis kecil perkotaan. Hanya dua yang membedakan: ideologi dan bangun pagi.

PRD berlandaskan ideologi yang keren: Marxisme-Lenisme. Setelah PKI dihancurkan pada tahun 1965, baru PRD yang berani menghidupkan kembali Marxisme Lenisme. Budiman Sudjatmiko, Nezar Patria, Mugianto, Faisol Riza dan Agus Jabo—yang saat ini berada dalam kabinet Prabowo—merupakan nama-nama yang mempelopori berdirinya PRD dan ditengah ganas-ganasnya Rezim Soeharto menghidupkan kembali Marxisme-Lenisme. Saat itu, tidak ada yang bisa menandingi keberanian anak-anak PRD dalam menghadapi rezim diktator Soeharto.

Daniel Dhakidae menyebutkan dalam bukunya, Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru, bahwa anak muda yang bergabung dalam PRD telah melakukan perlawanan terhadap Orde Baru dengan metode yang belum terbayangkan sebelumnya. “Secara intelektual,” tulis Dhakidae, “mereka mengambil Marxisme sebagai landasan berpikir, yaitu berpikir untuk melawan.” Program mereka juga radikal: Cabut Dwi Fungsi ABRI, penghapusan 5 Paket UU Politik dan Referendum untuk Rakyat Timor Leste. Setelah Soeharto tumbang, ketiga progam tersebut menjadi kenyataan.

Bila PRD berkiblat ke Moskow, PKS berkiblat ke Mesir. Mereka terinspirasi gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Ideologi mereka Islamisme. Berlandaskan ideologi tersebut, mereka membangun partai politik. Terbentuklah Partai Keadilan. Embrio PKS, kelompok Tarbiyah, menghimpun massa melalui halaqah (kelompok diskusi), juga bergerak klandestin.

Tarbiyah tak terbuka, tapi bergerak bak gurita, menguasai lembaga-lembaga kampus, menjadikan masjid sebagai tempat konsolidasi. Ia tak mendongak, tapi berlaku sejajar. Mereka tak melulu bicara surga-neraka, tapi juga bicara politik—mengkritisi Orba. Catatan Greg Fealy, dkk, dalam buku Zealous Democrats: Islamism and Democracy ini Egypt, Indonesia and Turky, menunjukkan pada penghujung tahun 1990-an terdapat sekitar 10-15 persen mahasiswa yang menjadi bagian dari kelompok Tarbiyah.

PRD dan PKS berbeda dalam ideologi, namun keduanya sepakat bahwa demokrasi merupakan syarat utama perubahan ekonomi politik Indonesia yang selama 32 dikangkangi oleh Orde Baru. Keduanya bersepakat–meminjam petilan puisi Wiji Thukul: “tirani harus tumbang.”

Setelah Soeharto tumbang, keduanya ikut dalam Pemilu 1999. PRD memperoleh 78.000 suara dan PK mendapatkan 1.436.565. Nasib keduanya sama: tidak lolos ambang batas parlemen.

Dalam perkembangannya, bangun pagilah yang kemudian membedakan nasib keduanya. Kader-kader PRD jarang yang bisa bangun pagi. Aktivitas mereka paling cepat setelah jam 12 siang. Itupun untuk membangkitkan semangat revolusioner mereka masih harus ngopi-ngopi dan merekok terlebih dahulu. Tidak langsung melakukan kerja-kerja organisasi. Secara keseluruhan, aktivitas politik dilakukan pada malam hari.

Sementara itu, semenjak subuh kader-kader PKS sudah bangun. Mereka pergi ke masjid atau mushola terdekat untuk melakukan salat berjamaah. Selain sebagai tempat beribah, masjid juga merupakan tempat pengorganisiran. Oleh karena itu, mereka berusaha “menguasai” masjid baik yang berada di sekitar lingkungan mereka, kantor maupun kampus-kampus. Strategi ini terbukti efektif menjadikan masjid sebagai basis “putih” mereka. Sementara PRD tidak melakukan itu, selain tidak bisa bangun pagi juga karena tak pernah ke masjid.

Hingga saat ini, seluruh aktivitas manusia dimulai pagi hari. Oleh karena itu, sejak pagi kader-kader PKS sudah melakukan kerja-kerja pengorganisiran. Di kampung, mereka terlibat aktif dalam kegiatan warga. Mulai dari kerja bakti, kegiatan olah raga sampai kegiatan keagamaan. Dengan begitu wajah-wajah kader PKS dikenal luas oleh warga sekitar. Ada kutipan dalam buku Greg Fealy, dkk, yang dipetik dari wawancara dengan kader PKS: ‘Mari kita perbaiki jalanan berlubang dan sediakan sanitasi yang bagus sebelum berpikir memaksakan perempuan berkerudung.’  Artinya,mereka bergerak dari permasalahan yang dihadapi oleh rakyat. Dengan begitu, mereka bisa mengakar.

Orang jarang yang tahu siapa ketua umum dan sekjen PKS karena memang mereka jarang tampil di televisi. Namun, ditingkat akar rumput, kader-kader PKS banyak dikenal karena aktif dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Inilah keunggulan PKS dibandingkan PRD.

Ada ungkapan “Jangan bangun siang nanti rezekimu dimakan ayam.” Karena rajin bangun pagi, PKS mendapatkan rezeki berupa limpahan suara. Setelah kegagalan dalam Pemilu 1999, dalam pemilu-pemilu selanjutnya suara PKS terus menanjak. Sementara itu, karena tidak rajin bangun pagi, PRD semakin tenggelam.

Apa yang bisa kita petik dari PKS selain ideologi yang kuat, organisasi yang rapi, kader-kader militan adalah rajin bangun pagi. Ini pula yang dilakukan Jokowi sehingga bisa menjadi presiden dan politisi yang disegani.

Jokowi dikenal sebagai politikus yang rajin bangun pagi. Dalam satu kesempatan Jokowi pernah mengatakan, “Kalau orang lain kerja jam 8 (pagi) sampai jam 4 (sore), saya kerja jam subuh sampai tengah malam. Karena saya nggak punya kelebihan, yang harus saya lebihkan ya itu, jam kerjanya saya lebihkan.” Dari situ kita bisa melihat bahwa kunci kesuksesan Jokowi adalah bangun pagi (mulai subuh). Ketika embun pagi mulai luruh dari dedaunan, kabut mulai lingsir, Jokowi sudah bangun untuk memulai bekerja. Itu dilakukan Jokowi ketika baru merintis karier dalam usaha.

Saat menjadi pejabat publik, Jokowi tetap rajin bangun pagi. Salah satu aktivitas pagi Jokowi ketika menjadi presiden adalah mengecek harga-harga kebutuhan pokok. Selain itu juga melakukan olah raga seperti lari pagi atau naik sepeda. Dengan kedisiplinan waktu seperti itu tak mengherankan kalau Jokowi sukses dalam karier politiknya.

Apa yang dilakukan PKS dan Jokowi, rajin bangun pagi, bisa kita contoh ketika hendak membangun partai. PKS awalnya partai kecil, tetapi karena rajin bangun pagi kini tumbuh menjadi partai besar. Pun, Jokowi. Sebelumnya tak ada yang mengenal, dengan kebiasaannya bangun pagi, Jokowi mampu menjadi politisi paling diperhitungkan di negeri ini.

Bila kita peras, inti dari Jokowisme adalah bangun pagi untuk memulai kerja, kerja dan kerja!***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *