TANPA PRD, PDIP HANYA BANTENG UZUR (REFLEKSI HUT KE – 29 PRD)

Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan tonggak penting bagi demokrasi di Indonesia. Pemberontakan rakyat di kantor DPP PDI Jalan Diponegoro ini dipelopori oleh PRD (Partai Rakyat Demokratik). Partai ini didklarasikan pada tanggal 22 Juli 1996. Sebagai partai revolusioner, PRD bertekad menggulingkan kediktatoran Soeharto. Tekad ini bertemu dengan momentum kisruh di tubuh PDI (Partai Demokrasi Indonesia).

Akibat dualisme kepemimpinan, kantor DPP PDI dikuasi massa pro Megawati. Mereka marah karena terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI dianulir oleh Soeharto. Awalnya mereka hanya berkumpul-kumpul saja di kantor DPP PDI, tanpa tahu harus berbuat apa. Namun situasi berubah cepat ketika PRD masuk dalam kerumunan itu, terjadilah radikalisasi. Budiman Sudjatmiko cs berhasil membuat massa menjadi revolusioner. Orasi-orasi kader PRD dipanggung demokrasi, membuat energi perlawan massa membuncah.

Saat itu Hasto Kristiyanto dan Ganjar Pranowo masih culun. Mereka diplonco oleh kader-kader PDI yang senior untuk membuatkan kopi, membelikan rokok, mencucikan celana dalam dan memijat tubuh yang pegal-pegal. Sementara itu, kader-kader PRD yang seusia dengan mereka sudah memimpin perlawanan dengan gagah perwira. Memang sejak mula kualitas Hasto dan Ganjar berada jauh di bawah kualitas kader-kader PRD. Di sisi lain, Megawati hanya bisa senyam-senyum menghadapi situasi yang memanas. Saat itu, Megawati masih gemetaran mandi keringat ketika orasi di depan massa. Sebelum tampil, ia mesti dilatih oleh Eros Djarot.

Pecahlah peristiwa 27 Juli alias Kudatuli.  Terjadi kerusuhan di seputar Jalan Diponegoro, Salemba, Pramuka hingga Pasar Senen. Majalah Pembebasan Edisi No.1 Bulan Oktober 1996 menuliskan: “Mimbar tersebut berubah menjadi kerusuhan pada tanggal 27 Juli, ketika kantor DPP PDI diserang oleh aparat bersenjata dan preman bayaran.”

Orde Baru kaget dengan adanya kerusuhan tersebut. Puyeng mengatasi situasi, maka PRD yang dijadikan kambing hitam. Kasospol ABRI, Mayjen Syarwan Hamid, beberapa hari setelah kerusuhan, di depan layar kaca menyatakan: ” Melihat lagu yang dimainkan massa mimbar bebas itu adalah lagu-lagu PKI.” Hantu PKI (Partai Komunis Indonesia) dihidupkan kembali. Tanda alarm bahaya. Menurut Syarwan kelompok Setan Gundul ini memiliki ciri-ciri sering memakai istilah: “Progresif, revolusioner, borjuis, kapitalis, imperialis, panggilan kawan—kamerad, dalam bahasa Rusia—merupakan istilah-istilah komunis (Pembebasan, Oktober 1996)”.

Sementara Menkopolhukam, Soesilo Soedarman, menyatakan lambang PRD, gir bintang, mirip dengan lambang SOBSI, organisasi buruh yang berafiliasi dengan PKI. Maka perburuan terhadap kader-kader PRD dimulai. Ketika PRD diburu-buru, Megawati hanya ongkang-ongkang kaki, tak lecet sedikitpun. Saat kader-kader PRD ditangkap dan diadili, Megawati tak pernah datang ke ruang sidang. Ketika pimpinan PRD dipenjara, tak sekalipun Megawati membesuk. Tak mengherankan kalau Pramoedya Ananta Toer menyindir bahwa  sekadar teh pahit pun tak pernah diberikan Megawati pada PRD. Sebagai anggota PRD,  Pramoedya menilai Megawati:

Dia orang Orba juga. Dia memainkan peran konfigurasi demokrasi Pancasilanya Harto sebagai anggota parlemen. Sebagai anggota parlemen, tidak pernah mengangkat soal pembantaian massal, dan perampasan kebebasan massal, pada masa ia hidup. Jadi belum lagi, prinsip politik, prinsip moral saja tidak punya. Kalau prinsip moral saja tidak ada, bagaimana mau main bersih di politik? Di samping itu saya tidak pernah lihat Megawati punya konsep-konsep, apalagi di bidang sosial ekonomi. Megawati bukan ayahnya. Ayahnya orang yang sangat hebat (Wawancara Amy Goodman dengan Pramoedya Ananta Toer untuk program radio mereka, Democracy Now!).

PRD lah yang membuat nama Megawati melambung. Setelah Peristiwa 27 Juli, PRD mempelopori aliansi Mega Bintang Rakyat (MBR). Aliansi ini dirancang untuk menghadapi Pemilu 1997. Lewat MBR, massa PDIP, PPP dan rakyat bersatu dalam kampanye-kampanye di jalanan. Ratusan ribu selebaran disebar oleh kader-kader PRD. Dalam kampanye terakhir di Jakarta, jalanan dipenuhi jutaan massa MBR sembari meneriakkan Boikot Pemilu.

Megawati pun dijadikan tokoh oposisi. PDIP menanggok suara di Pemilu 1999. Dan, pengkhinatan dimulai. Pertama, Megawati mendukung Sutiyoso menjadi gubernur DKI Jakarta. Padahal Sutiyoso, saat itu Pangdam Jaya, memimpin penyerbuan kantor DPP PDI sehingga pecah Peristiwa 27 Juli.  Kedua, setelah menjadi wakil presiden, Megawati mengkhianati Gus Dur. Demi kursi presiden, Megawati ikut barisan memakzulkan Gus Dur. Dengan jahat Megawati dan Amien Rais merekayasa penggulingan Gus Dur.

Ketiga, setelah menjadi presiden, Megawati memenjarakan kader-kader PRD yang menolak kebijakannya yang menindas rakyat. Setelah Soeharto, Megalah yang paling banyak memenjarakan kader-kader PRD. Di Yogyakarta, dua kader PRD dipenjara selama 3 tahun. Di Palu, sekitar enam kader PRD dipenjara 6 bulan sampai 1 tahun. Pun, di beberapa daerah lain. Selain itu, preman-preman bayaran dikerahkan oleh PDIP untuk mengintimidasi aksi-aksi PRD. Satu kader PRD dibacok kepalanya di jembatan Gondomanan, Yogyakarta. Bahkan kantor PRD di Yogyakarta dilempari bom molotov.

Keempat, Megawati mengkhianati Prabowo Subianto. Kesepakatan Batutulis dilanggar begitu saja oleh Megawati. Dengan enteng menganggap perjanjian itu tidak ada. Setelah mengkhianati Gus Dur, Prabowo menjadi korban berikutnya. Prabowo berjiwa besar, menerima ulah Megawati dengan kepala tegak.

Kelima, Megawati justru memecat Budiman Sudjatmiko. Padahal Budimanlah yang melambungkan nama Mega ke pentas politik nasional. Tanpa Budiman, hari ini Mega hanya akan dikenal sebagai emak-emak sosialita Menteng. Namun, dengan enteng Mega justru menyingkirkan Budiman yang telah berjasa dalam hidupnya. Kalau watuk (batuk) bisa disembuhkan, tapi kalau watak Megawati yang dengan mudah melakukan pengkhianatan dan menyingkirkan orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, merupakan sesuatu yang tak bisa diubah.

Tanpa PRD, PDIP hanyalah Banteng uzur yang sedang menunggu hari akhirnya. PRD telah membuat PDIP menjadi besar. Tanpa PRD, hari ini PDIP masih berada di dalam kandang sembari menggaruki bijinya.

Selamat ulang tahun ke-29 bagi PRD. Dirgahayu. Seperti puisi di batu nisan Aliarcham: “Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas. Hari ini tumbuh dari masamu.”

Bila hari ini masih ada kader-kader PRD  yang memuja-muja PDIP dan Megawati, sudah dipastikan mereka mengalami keterbelakangan dalam berpikir atau bisa jadi memiliki kecerdasan intelektual di bawah rata-rata. Begitulah tinta sejarah akan mencatat.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *