PRABOWO SANG ANTI KAPITALIS & KEMENYAN GIBRAN

Salah satu problem kapitalisme Indonesia adalah terhambatnya industri manufaktur. Sejak zaman kolonial Belanda, industri ini tidak pernah dibangun secara serius. Setelah Tanam Paksa diakhiri dan disahkan UU Pokok Agraria 1870, modal swasta bebas masuk ke Hindia Belanda. Mereka sebagian besar menanamkan modal di sektor perkebunan—tebu, kopi, teh, dll. Saat itu sektor perkebunan merupakan celengan babi yang bisa membuat modal dengan cepat menggendut. Dampaknya mereka melupakan industri manufaktur, hanya berfokus menjual hasil perkebunan/bahan mentah ke Eropa.

Satu-satunya industri yang dibangun hanya industri gula. Sebagai bagian hilirisasi tebu, pabrik-pabrik gula dibangun. Sebagai penunjang dibangun pula rel kereta api, jalan, saluran irigasi dan pendidikan untuk tenaga admitrasi rendahan. Pabrik gula secara langsung membuka lapangan kerja sehinga lahirlah buruh pabrik—cika; bakal proletariat. Namun, perluasan hilirasi tebu tidak mampu mendorong perluasan industrialisasii yang lain.

Dalam proses ini, kolonialisme Belanda keteteran dalam membangun industri manufaktur. Adanya perkebunan kapas, misalnya, tidak mendorong Belanda untuk membangun industrialisasi tekstil. Belanda justru membangun industri tekstil di negerinya sendiri. Industri dasar seperti baja dan besi juga tidak dibangun secara serius oleh penjajah Belanda. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan kapitalisme di Indonesia berkembang cacat. Setelah Indonedka merdeka, perkembangan kapitalisme masih juga terseok-seok. Inilah yang menurut Prabowo bangsa Indonesia mengalami suatu paradoks.

Bangsa ini selama ratusan tahun belum mampu secara maksimal mengelola sumber daya alamnya. Setelah 80 tahun merdeka, barang-barang mentah mengalir ke luar negeri, dijual dengan harga yang murah. Masih seperti era kompeni, bangsa ini hanya mengekspor nikel, bauksit, batubara dan lain-lainya tanpa diolah terlebih dahulu. Akibatnya, bangsa asing yang menaggok keuntungan yang besar.

Oleh karena itu, Prabowo melanjutkan hilirisasi yang telah dirintis oleh Jokowi. Pembangunan industri untuk hilirisasi kekayaan alam di Indonesia bukan semata-mata mengolah bahan mentah menjadi bentuk barang jadi, tetapi juga mengubah arah ekonomi politik di Indonesia. Seperti dikatakannya sendiri, Prabowo menolak sistem kapitalisme. Baginya sistem ini menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat. Menurutnya, teori tetesan ke bawah adalah omong kosong. Itulah sebabnya, sistem ekonomi baru perlu dibangun, suatu sistem ekonomi yang egaliter dengan distribusi kekayaan yang adil.

Prabowo berpasangan dengan bocil dari Solo yang paham betul pola pikirnya. Dalam satu kesempatan, Gibran mengatakan kalau dirinya yang diserang dengan berbagai isu—termasuk pemakzulan— dia akan diam saja. Namun, kalau Prabowo yang diserang, dia akan berada barisan terdepan untuk membelanya. Dialah senopoti ing ngaloga bagi Prabowo. Tak mengherankan kalau Gibran yang paling depan membela program hilirisasi, program yang paling banyak mau dijegal oleh kepentingan asing.

Dikanal youtube-nya, Gibran beberapa kali menyampaikan pentingnya hilirisasi. Sejauh ini, Gibranlah sosok muda yang paling paham problem kapitalisme di Indonesia. Tak banyak yang tahu Gibran telah membaca The History of Java karya Thomas Stanford Raffles. Gibran juga membaca Indonesia: The Rise of Capital karya Richard Robison. Juga buku Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Indonesia karya Vedi R. Hadiz. Dengan begitu Gibran paham betul problem dan jalan keluar bangsa Indonesia menjadi bangsa maju.

Bagi Gibran, ada dua problem kapitalisme Indonesia. Pertama, masih lemahnya industrialisasasi. Akibatnya, tidak melahirkan borjuasi dan buruh yang tangguh. Solusi dari problem ini adalah hilirisasi. Kedua, selama ini industrialisasi hanya berpusat di Jawa. Kelemahan ini harus diatasi dengan membuka pusat-pusat industrialisasi di luar Jawa. Semakin dekat dengan barang baku akan semakin baik. Dengan meluasnya industrialisasi, selain membuka lapangan kerja, juga akan memajukan sektor yang lain—pendidikan, kesehatan, hiburan, pariwisata, dll.

Dari dua jilid buku Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga, Gibran tahu tentang kemenyan. Sudah sejak lama kemenyan Nusantara ini diperjual belikan di pasar global. Tentu saja masih dalam wujud mentahnya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan Gibran menyampaikan pentingnya hilirisasi kemenyan. Di saat sebagian besar warga bangsanya hanya sebatas tahu kemeyan untuk ritual keagamaan, Gibran sudah melompat jauh ke depan. Dia paham, bahan baku kemenyan di Indonesia sangat besar, bila diolah akan memberikan pendapatan yang besar pula. Dari satu sektor saja, kemenyan, bila dilakukan hilirisasi akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kaya.

Pasangan Prabowo dan Gibran merupakan pasangan yang klop, seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Keduanya saling melengkapi. Sama-sama paham problem masyarakat dan jalan keluar bangsa Indonesia menuju Idonesia Emas.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *