OTAK ISU PEMAKZULAN GIBRAN: DARI KASEBUL SAMPAI SOSKA

Dalam buku Pater Beek, CIA dan Freemason dijelaskan tentang organisasi bawah tanah yang disebut Kaderisasi Sebulan atau populer disebut Kasebul. Organisasi ini direntis oleh Pater Beek yang dijuluki Black Pope karena sepak terjangnya yang kelam di kawasan Asia Tenggara. Sejak tahun 1950-an, Pater Beek sudah beroperasi di Indonesia bekerjasama dengan CIA untuk melawan PKI. Tak mengherankan ketika pecah peristiwa 1965, Pater Beek sebagaimana dituturkan M Sembodo dalam bukunya, menyerahkan daftar 5000 orang-orang PKI pada CIA untuk dibersihkan.

Pasca trategi 1965, Pater Beek membuat kaderisasi untuk pemuda-pemuda Katolik dengan tulangpunggung mahasiswa dan mahasiswi. Kaderisasi ini yang kemudian dikenal dengan nama Kaderisasi Sebulan (Kasebul). Pusat pertama Kasebul di asrama Realino Yogyakarta. Menurut Beek, setelah komunis dihancurkan, ada musuh yang sama-sama hijau: tentara dan Islam. Tapi yang perlu diwaspadai pertama adalah kekuatan Islam.

Dalam organisasi Kiri seperti PRD (Partai Rakyat Demokratik), kader Kasebul cukup mendominasi. Agar terkesan kekasebul-kasebulan, misalnya, Dwi Hartanto memakai sama samaran “Lukas” agar ada kemiriman dengan Injil Lukas, padahal agamanya Islam. Dominasi Kasebul dalam tubuh PRD untungnya bisa diimbangi oleh kader-kader PII  (Pemuda Islam Indonesia). Dengan begitu tak terjadi kasebulisasi dalam PRD.

Tentu tidak hanya di PRD kader-kader Kasebul berada. Hampir di semua partai politik ada. Bahkan di partai berbasis Islam seperti PKB ada kader Kasebul yang maju sebagai caleg. Tentu di antara semua partai politik yang ada, kader Kasebul terbanyak ada di Partai Banteng. Orang kedua di partai Banteng adalah kader Kasebul dari Yogyakarta. Posisinya kuat di partai itu sehingga Putri Mahkota di pinggirkan.

Tentu pasangan paling klop Kasebul adalah Soska (Sosialis Kanan).  Walaupun sosialis sebetulnya mereka pendukung kapitalisme. Salah satu corongnya tentu saja Rocky Gerung. Pada awalnya mereka ini pendukung Jokowi garis keras. Namun setelah Jokowi balik arah, mereka paling depan menghantamya. Dalam perjalan politik Indonesia, orang-orang Soska ini selalu jadi benalu. Mereka berusaha menetek pada siapa saja yang sedang berkuasa. Zaman Gus Dur mereka mendukungnya, namun yang pertama pula yang menyerang Gus Dur. Tentu saja karena merasa Gus Dur tak bisa memenuhi keinginan mereka.

Dalam isu pemakzulan Gibran, Kasebul dan Soska bertemu dengan barisan pensiunan tentara yang sedang merajuk. Sebagai pendukung Anies dan Ganjar, pensiunan tentara-tentara ini tidak dapat jatah. Mereka ngereok dengan menjadikan  Gibran sasaran amukan. Tentu saja tujuannya agar mendapatkan perhatian.

Soska dan purnawirawan tentara ini tentu tak punya massa. Harapan mereka tentu ke partai Banteng. Selain punya massa, Banteng juga memiliki tangan di parlemen. Mereka berharap Banteng yang maju paling duluan. Namun Banteng juga dalam masalah. Hasto berada di dalam terungku. Tentu dia tidak bebas melakukan manuver-manuver politik. Puyenglah mereka itu.

Kombinasi Kasebul, Soska dan segelintir purnawiaran tentara ini mengapa tidak suka Gibran? Tentu secara politik kita sudah paham. Namun di balik alasan politik tersebut tersembunyi alasan mistis.

Weton Gibran adalah Senin Kliwon. Sedangkan weton Prabowo sama dengan Jokowi, Rabu Pon. Bila dipasangkan, mereka masuk dalam katagori Lungguh. Artinya, mereka adalah pasangan yang ideal dan harmonis. Jumlah weton keduanya adalah 26. Angka tersebut bila ditambahkan berjumlah 8. Selain angka keramat Prabowo, 8 merupakan angka yang tak berujung pangkal. Inilah yang menakutkan banyak orang.

Selain itu, weton Gibran termasuk tulang wangi (tulang yang harum ). Dalam kosmologi Jawa, tulang wangi merupakan weton keramat. Selain memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena-fenomena tidak kasat mata, Senin Kliwon juga mempunyai keberuntungan yang bagus. Bila melihat perjalanan Gibran, keberuntungannya seperti Jokowi. Selalu ada jalan untuk menggapai kesuksesan. Seperti Raja Midas, apapun yang disentuhnya bisa menjadi permata.

Di sisi lain, dalam kepercayaan Jawa, Gibran adalah bocah angon (bocah pengembala). Masyarakat Sunda menyebutnya budak angon. Ia adalah satria piningit. Kehadirannya akan mengembalikan kejayaan Nusantara. Kedatangannya pada awalnya ditandai dengan adanya kekacauan, namun semua akan berangsur-angsur berubah menuju keharmonisan. Dia pemimpin yang melayani dan mengayomi.

Kombinasi antara posisi Lungguh, tulang wangi dan bocah angon inilah yang membuat Kasebul, Soska dan segelintir purnawirawan tentara ketakutan. Karier Gibran akan moncer. Oleh karena itu harus diganjal. Kalau tidak Gibran akan terus melaju. Mampukah mereka melawan kehendak alam?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *