TAK ADA SUARA MEGAWATI DI TENGAH BADAI PERANG

Pada saat Piala Dunia U20, PDIP terdepan menolak kehadiran Israel dalam ajang tersebut. Mereka saut menyaut seperti burung beo bahwa Israel, sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno, merupakan negara imperialis. Gajar, Hasto dan Megawati paling keras bicara konstitusi. Tapi ketika perang berkecamuk antara Israel dan Iran, kandang Banteng sunyi senyap. Kita tak tahu sikap mereka.

Sebagaimana dikatakan Trimedya Panjaitan, Banteng adalah tempat paling nyaman bagi non Muslim tinggal. Menurutnya, Yerusalem adalah tempat umroh mereka. Baginya, merupakan sebuah kesalahan fatal ketika menolak keikut sertaan Israel dalam Piala Dunia U20 . Kondisi inilah yang membuat banteng meragu dalam menyikapi situasi perang. Seperti judul film Warkop DKI, maju kena mundur kena.

Bila konsisten dengan garis bahwa Israel merupakan negara imperialis, semestinya Banteng mendukung Iran. Tapi mereka tak akan punya nyali untuk itu. Megawati tentu takut ditinggalkan warga hora horenya yang taat ke gereja. Seperti Wahabi, hari-hari ini mereka serba salah. Memang ada kemiripan antara Banteng dan Wahabi, yang membedakan hanya arah kiblatnya. Sebagaimana propaganda Amerika, Iran pasca Revolusi adalah negara radikal. Mereka dianggap anti Barat. Sementara bagi Wahabi, Iran bukan Islam karena Syiah seperti dikatakan Felix Siauw.  Dan, kita tahu bahwa Banteng condong ke Amerika. Walaupun menyerang Israel yang bagi merekaimperialis, Banteng tak akan mendukung Negeri para Mullah.

Bisa jadi Megawati sedang topo mbisu. Cantrik-cantriknya seperti Said Abdullah mengeluarkan pernyataan agar Israel mendapatkan saksi dari PBB. Tapi Said hanya faksi Islam yang minorititas di tubuh Banteng. Pernyataan Said hanya abang-abang lambe saja alias basa-basi. Semacam kentut di tengah padang pasir: tak ada pengaruhnya

Tentu saja yang ditunggu adalah pernyataan Bunda Mega. Kita akan sangat mendukung bila Megawati akan membela Iran. Kalau perlu mengirim satgas-satgas Banteng terbaiknya untuk dikirim ke Iran. Tentu pemerintah Iran juga akan sangat berterimakasih bila itu terjadi.

Di Indonesia, kita tahu bahwa Megawati adalah pemimpin politik yang merasa paling taat konstitusi. Ia akan berprinsip bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa.” Dengan begitu semestinya ia akan mendukung Iran untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Israel. Seperti Anwar Ibrahim di Malaysia yang terang-terangan mendukung Iran, sebagai yang paling konstitusi, Megawati sepertinya akan melakukan hal serupa. Tapi apakah harapan ini hanya mimpi di siang bolong? Kita sudah tahu jawabannya.

Kita tahu kelas Banteng hanya kelas partai medioker. Mereka akan mengekor kesadaran massa dibanding memimpinnya. Isu Israel yang dihembuskannya dalam Piala Dunia U 20, bukan karena alasan ideologis, tapi sekadar untuk mencari simpati rakyat. Sialnya, malah caki maki yang didapatkannya.

Nasionalisme Megawati adalah nasionalisme celana cekak. Ia mengusir orang-orang yang tidak mengakui jasa bapaknya dalam Proklamasi untuk menjadi imigran. Wawasan iternasionalisme Megawati adalah menghamba pada kepentingan Amerika Serikat daripada Non Blok. Terlihat dari kasus tambang nikel Raja Ampat, Banteng memilih berkolaborasi dengan LSM Asing demi membela kepentingan Paman Sam.

Diamnya Megawati merupakan bentuk dukungan terhadap Amerika. Ketika Prabowo lebih memilih berada di sisi Kiri, Megawati mau jadi anti tesanya. Tak peduli dulu bapaknya di posisi mana, Megawati lebih memilih menghamba pada Tuan Amerika. Karakter opurtunis memang telah melekat pada dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *