HASTO: PANGERAN DIPONEGORO ATAU DE KOCK?

Dalam pledoi di depan sidang pengadilan, Hasto mengindentikkan dirinya dengan Pangeran Diponegoro. Kita jadi termangu-mangu dengan hal itu. Perbandingan itu seperti membandingkan tai sapi dengan daging sapi. Tidak hanya tidak apple to apple, hanya orang lupa ingatan membandingkan kotoran dengan daging. Apakah Hasto lagi lupa ingatakan gara-gara kasus hukum yang membelitnya? Bisa jadi.

Hasto seorang Katolik. Pangeran Diponegoro seorang Muslim dengan jiwa jihad. Hampir selama 10 tahun kurang sedikit Hasto mendukung penuh kekuasaan pada masa rezim Jokowi. Apa pun yang dikerjakan Jokowi akan dipuji oleh Hasto.

“Di bawah Presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur mencapai progress tercepat sejak republik ini berdiri,” puji Hasto.

“Presiden Jokowi ingin memberi motivasi bagi semua penyandang difabel bahwa banyak hal positif yang bisa dan mampu dilakukan, “ puji Hasto.

“Berbeda dengan pemerintahan sepuluh tahun sebelumnya, terlalu banyak rapat tidak mengambil keputusan,” puji Hasto kepada Jokowi sembari menyindir SBY.

Pujian-pujian tersebut hanya sejumput contoh sikap Hasto dalam mendukung kekuasaan Jokowi. Saking cintanya Hasto kepada Jokowi, seperti lagu Gombloh: “tai kucing (te)rasa coklat.”

Itulah Hasto. Dia penjilat nomor satu di negeri ini. Sampai mewek-mewek pun dia lakukan, asal bisa menjilat. Apakah sikap seperti ini sama dengan Pangeran Diponegoro?

Sejak belia Diponegoro sudah menentang kekuasaan. Sebagaimana ditulis oleh Peter Cerey dalam buku Kuasa Ramalan, Diponegoro sudah meninggalkan keraton sejak muda, hidup di Tegalrejo. Diponegoro jarang muncul di Keraton Yogyakarta. Tentu beda dengan Hasto, semasa Jokowi berkuasa, sering keluar masuk Istana. Dengan tabiatnya seperti itu, masak Hasto mau menyamakan dirinya dengan Diponegoro.

Pada masa muda Diponegoro mengisi waktunya dengan tirakat dan bertapa, menyepi dari satu tempat wingit ke tempat wingit lainnya. Dia melakukan laku batin untuk memperteguh spiritualitasnya. Inilah yang menjadi modal bagi dirinya untuk melawan kolonialisme Belanda.

Perang Diponegoro atau dikenal sebagai Perang Jawa merupakan perang terbesar yang dialami Belanda di tanah jajahan. Perang yang berlangsung selama lima tahun ini telah menguras kas Belanda. Dengan gigih Diponegoro memimpin perlawan dengan perang gerilya, membuat pasukan Belanda kelimpungan.

Sebelum Perang Jawa, masyarakat Jawa telah menunggu datangnya Ratu Adil. Penderitaan akibat penjajahan Belanda yang tak tertanggungkan oleh wong cilik, telah menumbuhkan kenyakinan akan hadirinya sang Pembebas. Sekitar tahun 1819, Imam Sampurno, seorang pandita mendapatkan wisik setelah bertapa di Gunung Lawu. Setelah itu dia pergi ke Lodoyo, Blitar, Jawa Timur. Di tempat ini ia melakukan tirakat. Lepas tirakat dia menulis layang pituduh, yang meramalkan akan terjadi pageblug di tanah Jawa. Benar seperti yang diramalkan, wabah korela menyerang tanah Jawa. Korban bergelimpangan. Baru setelah masa pageblug ini, maka akan muncul sosok Ratu Adil yang disebutnya Ratu Agama  atau Paneteg-Panatagama.

Sosok Ratu Adil kemudian dipercaya oleh masyarakat Jawa ada dalam diri Diponegoro. Dialah yang dikenal sebagai Ratu Adil Panatagama si pembela wong cilik, para petani Jawa. Lantas Hasto dengan menyamakan dirinya Diponegoro mau dianggap juga sebagai Ratu Adil? Hai, man. Bangun dari mimpi lu.

Lebih tepat, Hasto ini sama dengan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Keduanya sama-sama Nasrani. Karakternya sama: pemecah belah. Selama dalam kekuasaan, Hasto memecah belah hubungan Jokowi dengan SBY maupun Prabowo. Di internal Banteng, dia memecah belah kader-kader agar dia sendiri yang bisa menetek kepada Mamak Banteng. Karakter Hasto tak jauh beda dengan kompeni yang suka mengadu domba. Tak ada bedanya sikapnya dengan de Kock yang memecah masyarakat Jawa agar memusuhi Pangeran Diponegoro.

Bila de Kock mengkhianati Diponegoro dalam perjanjian damai di Magelang, Hasto dan Mamak Banteng mengkhianati Prabowo dalam perjanjian Batutulis. Seperti pinang dibelah dua antara Hasto dan de Kock: sama-sama pengkhianat.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *