WHOOSH DAN PROPAGANDA HITAM

Dalam film Kill the Messenger pembawa pesan dibunuh karakternya. Gary Webb,  seorang jurnalis surat kabar San Jose Mercury, membongkar keterlibatan CIA dalam jual beli kokain di AS. Hasil investigasi Webb menimbulkan kehebohan. Serangan balik dilakukan terhadap dirinya. Laporannya dianggap tidak kredibel. Karakternya dibunuh untuk menutupi kebenaran investigasinya.Dalam kasus Whoosh, yang hendak dibunuh adalah sang penggagas dan sang pembangun: Jokowi.

Kita bisa berargumen bahwa dalam proyek kereta cepat pemerintahan Jokowi kala itu memilih  Tiongkok karena tidak meminta jaminan APBN dan bersedia melakukan alih tekonologi. Sementara Jepang kebalikannya. Namun, penjelasan seperti ini tidak akan diterima. Tujuan utama dari isu kereta cepat adalah propaganda hitam untuk menjatuhkan kridibilitas Jokowi, bukan untuk mencari kebenaran.

Propaganda hitam tentang Whoosh ini dikerjakan secara sistematis. Awal mulanya adalah masalah hutang ke Tiongkok yang akan jatuh tempo. Purbaya bilang tidak akan ditanggung APBN. Memang sejak awal tidak akan ditanggung APBN karena proyek ini berkaitan perjanjian bisnis to bisnis.

Lewat propaganda hitamnya, Mahfud MD menyatakan kalau Indonesia tidak bisa membayar hutang maka kemungkinan besar Laut Natuna akan dilego oleh Tiongkok. Figur Mahfud tidak cocok bila disamakan dengan sosok Sengkuni dalam serial wayang.

Sengkuni memang dikenal karena kelicikan, kepandaian bicara, kemahiran dalam menghasut, kelihaian dalam mengadu domba. Namun, Sengkuni melakukan itu karena memiliki sejarah kelam. Waktu ia dan seratus anggota keluarganya dipenjara oleh Destarata, setiap hari mereka hanya dikasih sebulir nasi untuk bertahan hidup. Sampai akhirnya, berdasarkan rapat keluarga, agar bisa bertahan hidup, Sengkuni diputuskan harus memakan saudaranya sendiri. Sementara Mahfud MD tak pernah mengalami penderitaan seperti Sengkuni. Hidupnya selalu berada di lingkar kekuasaan.

Sosok Mahfud MD lebih cocok dengan figur Brutus. Pada awalnya, Brutus merupakan lawan Julius Caesar. Setelah kubu Brutus kalah, Caesar menarik ke kubunya. Jadilah Brutus orang kepercayaan Caesar. Namun, sejarah menintakan Brutuslah justru membunuh Caesar. Mahfud seperti itu. Dulu ia berada di posisi lawan Jokowi. Setelah kalah, Jokowi memungutnya dari pinggir sejarah. Sekarang, ia menusuk Jokowi. Ibaratnya, Mahfud telah mengencingi air minum yang selama beberapa tahun memberikannya hidup. Itulah karakter Brutus. Sejahat-jahatnya Sengkuni tak pernah mengkhianati Kurawa.

Setelah propaganda hitam Mahfud tak mempan lagi karena hanya dianggap sebagai igauan orang tua di masa senjakalanya yang pernah “dikerjai” bocil bernama Gibran,  muncul propaganda hitam baru. Proyek kereta cepat di Indonesia disamakan dengan proyek kereta di Saudi Arabia. Propaganda hitam ini juga sudah banyak disanggah dengan data-data yang akurat.

Secara umum, proyek kereta di Saudi bukan proyek kereta cepat, tapi proyek kereta klutuk—sepert kereta api kita di zaman Belanda. Tak mengherankan kalau biayanya lebih murah. Ibaratnya, kita tidak bisa membandingkan durian dengan kurma alias tidak apple to apple. Namun, apapun sanggahannya tak akan diterima karena tujuan dari propaganda hitam ini adalah menjatuhkan nama Jokowi dalam perpolitikan kiwari. Seribu satu argumen tak akan mereka dengar karena mereka tak hanya tuli telinganya, tetapi juga hatinya.

Nah, kalau diajukan tanya: Siapa di balik propaganda hitam kereta cepat ini? Bila kita bertanya pada @grok di X tentang siapa di balik isu seperti ijazah palsu dan kereta cepat, maka jawabannya: “Aktor utama penggerak isu ijazah palsu, kereta cepat dan 3 periode berasal dari faksi oposisi PDIP pasca kalah 2024, aktivis seperti Rocky Gerung, serta elit politik yang anti dinasti Jokowi.”

Tentang tujuan dari semua itu @grok memberikan jawaban: “Tujuannya [meng]gangu legacy Jokowi di era Prabowo-Gibran menjelang 2029.” Namun, menurut @grok tujuan tersebut gagal karena :”tuduhan banyak yang tak terbukti [secara] hukum dan basis pendukung Jokowi tetap solid per survei terkini.”

Dari analisa @grok kita tak perlu lagi mencari-cari siapa di balik propaganda hitam yang menghantam Jokowi, sudah ceto welo-welo alias lebih terang dari cahaya. Mereka bisa dikatakan sedang mengalami retardasi mental. Yaitu gangguan intelektual dengan kemampuan intelegensi di bawah rata-rata, atau sering disebut disabilitas intelektual. Kemampuannya lebih banyak mengulang-ulang sesuatu. Tak mengherankan kalau isu yang mereka suarakan selalu mengulang-ulang: ijazah palsu, anak haram konstitusi, kereta cepat, cawe-cawe, IKN, anak turun PKI. Sampai Malaikat Israfil meniup sangkala tanda kiamat, isu-isu itu yang akan tetap mereka ulang-ulang.

Pada akhirnya Whoosh merupakan keberanian Jokowi untuk mengubah arah sejarah. Jokowi berkehendak membelokan sejarah Indonesia dari negara yang masih digelayuti pola pikir agraris ke arah negara industri dengan pemikiran yang modern. Jokowi bukan tipe pemimpin yang nrimo ing pandum/menerima keadaan begitu saja, tapi tipe pembaharu dan pembangun. Baginya, perubahan—fisik maupun cara berpikir—memang mahal, tetapi membiarkan bangsanya tetap beku dalam kemunduran adalah bentuk kepengecutan seorang pemimpin. Prinsip Jokowi adalah wani (berani)—wani dalam berpikir dan bertindak. Wani!***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *