BERITA DUKA: BANTENG DITABRAK WHOOSH

Hari ini Banteng ramai-ramai menghujat Whoosh. Padahal, kader terbaik Banteng yang gagal dalam Pilpres, dua tahun lalu memuji setinggi langit Whoosh. Bagaimana pujiannya?

Di akun IG-nya, Ganjar Pranowo menuliskan judul : “Whoosh 350 km/jam. Pembangunan memang harus secepat itu.” Judul itu dilengkapi dengan berbagai pose Ganjar yang nyengir kuda di dalam gerbong Whoosh.

Saat Whoosh berhenti di Stasiun Padalarang, Ganjar berucap, “Wah ternyata sudah sampai. Hanya 25 menit ini dari Halim ke Padalarang. Cepat sekali ya, saya mereview saja belum selesai kok sudah sampai.” Ada perasaan kertesimaan Ganjar ketika merasakan kecepatan Whoosh–seperti ketersimaan ketika ia menonton vidio tanpa cerita. Mungkin ia baru sadar bahwa bangsanya telah memiliki kereta cepat seperti negara-negara maju di Eropa, Jepang dan Tiongkok. Kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Sebagai kader Banteng yang hidup di kandang, ia baru sadar zaman bergerak begitu cepat.

“Dengan transportasi umum, maka perpindahan orang semakin cepat. Terbayangkan tidak dengan kereta cepat ini, orang bisa tetap tinggal di Bandung tapi bekerja di Jakarta. Mereka bisa berpindah dengan cepat dan nyaman,” kata Ganjar. Di dalam gerbong Whoosh otak Ganjar menjadi encer. Ia bisa menjelaskan dengan baik pentingnya transportasi umum bagi mobilisasi manusia untuk bekerja.

Kita hidup  bukan di dalam kandang. Dunia telah bersulih sedemikian rupa. Siapa yang cepat, itulah yang dapat. Sebagaimana dituliskan Pramoedya Ananta Toer, “abad kita sekarang adalah abad Rakyat dan Ilmu Pengetahuan.” Tanpa kedua, tulis Pramoedya, “kita hanya bebodoran.”

Ganjar lantas bersabda,“Pak Jokowi itu kalau kata anak muda sekarang sudah top-topan, gila-gilaan kalau soal infrastruktur termasuk transportasi umum. Maka tugas kita harus meneruskan dan mengutilisasi agar ada manfaat dan nilai tambahnya untuk masyarakat.” Di dalam gerbong Whoosh, Ganjar sadar akan kehebatan Jokowi sebagai sosok yang “top-topan” dan “gila-gilaan” dalam membangun infrastruktur. 

Ganjar melaju di dalam gerbong Whoosh pada tanggal 3 Oktober 2023, bukan hari ini. Saat itu, segenap warga Banteng belum menunjukkan kepandirannya. Belum ada beling yang melukai hatinya. Semuanya masih satu suara memuji kehebatan Whoosh. Bagi siapa saja yang memiliki sedikit akal sehat maka akan mengagumi Whoosh. Dalam usia 80 tahun setelah merdeka, bangsa kita telah memiliki kereta cepat. Tanpa keberanian Jokowi, hari kita hanya akan menjadi penonton derap kemajuan zaman.

Berbeda dengan gajah yang meniliki ingatan yang kuat, Banteng memiliki daya ingat yang lemah. Bisa dikatan daya ingat Banteng berada di bawah rata-rata. Kenyataan ini bisa kita lihat dari ucapan-ucapan para kader Banteng. Setahun dua  tahun lalu masih memuji-muji Whoosh, kini setelah Jokowi memilih di sisi Gajah dibandingkan di sisi Banteng, mereka berbalik menyerangnya dengan brutal.

Kita sadar Banteng sedang ketaton/terluka. Ambruknya kandang Banteng dan kekalahan demi kekalahan yang mendera, membuat Banteng gegar otak. Tak mengherankan kalau hari ini mereka mengalami amnesia massal. Lupa akan kehebatan Whoosh. Tak ingat pernah membanga-banggakan Whoosh. Hari ini mereka tak sadar mandi dalam kubangan ludahnya sendiri.

Kader-kader Banteng merupakan bagian dari kekuatan reaksioner, gerombolan anti kemajuan. Pandangan mereka yang masih feodalistik, menunggu titah Mamak Banteng dalam setiap laku dan tindakan, merupakan sisa dari kekolotan masa lalu yang masih mereka pertahankan di abad modern. Mereka menjual Sukarno, tapi bukan Sukarno yang revolusioner, namun hanya baju Sukarno yang rombeng. Whoosh telah membuyarkan romatisme Banteng yang nyaman hidup dalam buaian kebudayaan yang beku.

Whoosh sejatinya merupakan perwujudatan dari Tri Sakti Bung Karno: berdikari dalam bidang ekonomi. Tanpa teknologi maju, kita akan tetap menjadi paria di antara bangsa-bangsa lain. Jalur-jalur rel kereta api yang dilalui Whoosh merupakan peta jalan dalam kemajuan ekonomi bangsa kita. Tapi semua ini tak akan dipahami oleh Banteng. Bagi Banteng, asal sudah kenyang makan rumput, semua sudah selesai. Tak perlu memikirkan masa depan. Toh, bagi Banteng, rumput akan tumbuh sendiri.

Kita harus melawan upaya Banteng yang sedang merisak Whoosh. Sebodoh-bodohnya orang akan membersihkan kutu busuk yang menempel di tubuhnya. Dalam upaya bangsa kita untuk menjadi negara mandiri, maju dan modern, Banteng adalah kutu busuk itu. Kita tak mungkin hidup bersama kutu busuk.

Entah, kita mesti bersyukur atau berduka ketika Banteng ditabrak Whoosh. Satu yang pasti: Ambyarlah mereka. Terburailah kebodohannya, tercecer kemana-mana.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *