Apa yang terjadi di Nepal hanya kekenesan anak-anak muda. Tujuan dari kekenesan adalah menarik perhatian. Mereka melakukan demonstrasi, penjarahan dan pembakaran, sekadar agar mata tertuju pada mereka. Setelah tingkah polah seperti itu, mereka tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, panggung direbut oleh tentara.
Mengapa anak-anak muda menjadi kenes? Kapitalisme menciptakan alienasi. Manusia menjadi terasing dengan diri mereka sendiri. Anak-anak muda menjadi korbannya. Saat ini media sosial menjadi etalase komoditi dunia. Barang-barang dengan berbagai merek berseliweran di layar gawai. Bujuk rayu ditawarkan untuk memilikinya. Maka keterasingan menurut Karl Marx bukan semata manusia terpisah dari produk yang dihasilkan, tetapi juga manusia menyembah komiditi yang dihasilkan kapitalisme.
Anak-anak muda ini korban bujuk rayu masyarakat konsumsi. Mereka ingin memiliki Iphone seri terbaru, mobil paling gres, tas paling branded, sepatu terbaik, baju mode terbaru atau pergi berplesir dengan kapal pesiar ke negara-negara Moi Indie. Bila bisa memiliki semua itu, mereka akan merasa keren. Mereka masih bocah yang melihat barang-barang bermerek akan bisa mencungulkan eksitensi diri. Mereka masih ingusan yang melihat bahwa kedirian akan ada bila berpenampilan seperti di iklan-iklan. Kapitalisme membuat mereka menjadi konsumtif. Di sisi lain,kapitalisme membuat mereka miskin.
Tak mengherankan, ketika terjadi aksi penjarahan seperti di Nepal, maka yang mereka ambil adalah barang-barang bermerek. Tempat-tempat barang bermerek ada di Istana dan rumah pejabat.Dalam kasus di Indonesia, mereka mengambil jam berharga milyaran, kucing, televisi, sepatu atau baju. Dengan riang gembira mereka memamerkan harsil jarahan di depan kamera, lantas tersebar melalui media sosial. Kenapa melakukan itu yang akan memudahkan aparat menangkap mereka? Karena yang dibutuhkan mereka adalah perhatian. Oleh karena itu, mereka perlu flexing hasil penjarahan agar publik mengetahuinya. Dengan begitu, mereka berharap akan mendapatkan tempik sorak karena berhasil menjarah barang-barang bermerek milik pejabat.
Kekenesan anak-anak muda di Nepal berbeda dengan kekenesan anak muda gen Z di era Tumapel. Anak muda itu bernama Ken Arok. Seperti anak-anak muda zaman kiwari, dia juga suka mencari perhatian. Sejak kecil pekerjaannya adalah menjarah barang milik penduduk. Setelah remaja, mulai menjarah upeti kerajaan. Mulailah dia mendapatkan perhatian. Dicari ke sana-kemari. Namun, Ken Arok tidak berhenti sekadar menjadi kenes. Dia belajar kepada para Brahmana. Dari proses belajar inilah dia mendapatkan pemahanam ideologi, politik dan pentingnya organisasi.
Dalam hal ideologi, Ken Arok ingin menciptakan masyarakat egaliter, menghapus sekat-sekat agama Hindu dan Budha. Dialah yang pertama meletakkan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Dalam hal politik, Ken Arok sadar bahwa untuk mengubah keadaan perlu merebut kekuasaan. Maka dia masuk dalam pemerintahan Tunggul Ametung. Dari dalam, dia melakukan kudeta. Arok juga sadar bahwa dirinya tak bisa sendirian merebut kekuasaan. Dia melakukan kerja-kerja pengorganisiran, mengumpulkan siapa saja yang mau berjuang dengan dirinya. Kombinasi antara ketiga hal tersebut—ideologi, politik dan organisasi—membuat perjuangan Ken Arok berhasil.
Kapitalisme berhasil membuat anak-anak muda tergiring menjadi budak konsumsi, sembari menyapihnya dari ideologi, politik dan organisasi. Akhirnya, apa yang dilakukan oleh anak-anak muda di Nepal (dan Indonesia) hanya melakukan huru-hara. Mereka tak memiliki tujuan yang jelas tentang maksud dan yang diinginkan dari aksi mereka. Yang penting ngamuk sana-sini. Pada ujungnya, ketika huru-hara berakhir, maka oligarki yang mengambil keuntungan. Anak-anak muda itu hanya menjadi kuda tunggangan. Setelah semua berakhir, mereka akan kembali live tik tok dengan konten-konten wagu, mabar atau mengumpat-ngumpat di media sosial.
Pada akhirnya kekenesan merupakan fase kehidupan manusia. Anak-anak muda ini memang tak peduli dengan semua itu. Mereka sudah puas ketika bisa menyalurkan ekspresi lewat aksi pembakaran, penjaran dan mendapatkan tempik sorak dari para revolusioner uzur di negara masing-masing. ***





