MEMBACA MADILOG KARYA TAN MALAKA (BAGIAN I)

BAB I: LOGIKA MISTIKA

Tan Malaka membuka Madilog dengan pembahasan mengenai Logika Mistika. Menurutnya, Logika Mistika adalah logika yang berdasarkan rohani. Dengan mengambil contoh pembentukan alam semesta bersadarkan keyakinan rakyat Mesir kuno, Tan Malaka memberikan penjelasan apa yang disebut Logika Mistika. Masyarakat Mesir mengenal Dewa Matahari/Rah sebagai dewa tertinggi. Dewa inilah yang membentuk jagad raya dengan segala isinya. Penciptannya terjadi sebagai berikut:

Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah :

Ptah : maka timbullah bumi dan langit.

Ptah : maka timbullah bintang dan udara.

Ptah : maka timbullah sungai Nil dan daratan.

Ptah : maka timbullah tanah-subur dan gurun.

Masyarakat Mesir mengenal Dewa Matahari sebagai dewa tertinggi. Dewa inilah yang membentuk jagad raya dengan segala isinya. Dalam proses terbentuknya alam semesta, Dewa Matahari cukup dengan bersabda “jadilah”, maka langsung jadilah jagad raya ini. Tidak butuh tahapan-tahapan seperti ketika petani menanam padi, mulai dari membajak sawah, menambur benih sampai panen, dengan kata lain membutuhkan waktu dan proses dengan tahapan-tahapan tertentu. Sementara Rah tidak membutuhkan waktu. Ketika Dia bilang jadi, maka jadilah. Dia berada di luar ruang dan waktu.

Kekuasaan Rah ini menimbulkan pertayaan, mana yang muncul terlebih dahulu, rohani/ide atau zat/materi? Perdebatan inilah awal mula munculnya filsafat idealisme dan filsafat materialisme. Filsafat idealisme memandang ide muncul terlebih dahulu. Sementara filsafat materialisme memandang materi hadir paling awal. Penjelasan ini akan dibabar lebih lanjut ketika membahas masalah filsafat.

Apa yang dimaksud dengan Rohani oleh Tan Malaka? Yang dimaksud adalah kodrat, kracht dan force. Menurutnya, kodrat dan benda/materi tidak terpisah. Masalah mana yang lebih dahulu. Bagi Tan Malaka, benda/materi harus ada terlebih dahulu sebelum kodrat itu terlihat:

“Benda mesti dahulu kita saksikan, barulah dibelakangnya bisa kita saksikan kodratnya. Kodrat listrik, tiadalah bisa kita lihat rupanya, tetapi kita saksikan kekuatannya. Kekuatannya ini bisa kita ukur dengan tepat. Kodrat listrik itu bisa menggerakkan mesin, bisa memberi panas dan cahaya. Tetapi kodrat listrik itu tak bisa membikin zat baru, seperti orang, hewan, malah sebutir beraspun listrik itu tak bisa bikin.”

Apa yang dimaksud kodrat?Dalam hal ini kodrat semacam potensi/kekuatan suatu benda yang tak tampak. Kita hanya bisa melihat potensi listrik apabila mencoba memegang aliran listrik dan merasa tersengat, atau ketika memencet sakral dan lampu menyala, kita baru mengetahui bahwa ada aliran listrik. Setiap benda memiliki potensi/kekuatan, namun tidak seperti materi yang terlihat, bisa diraba, potensi ini merupakan sesuatu yang abstrak. Makna abstrak di sini adalah tidak berwujud atau tidak berbentuk.

Tan Malaka membedakan ilmu dan bukan ilmu. Menurutnya, Kisah Dewa Rah menciptakan jagad raya bukan ilmu karena tidak bisa diperiksa kebenarannya. Sementara teori Darwin tentang evolusi merupakan ilmu karena bisa diperiksa apakah teori itu salah atau benar, tentu saja lewat serangkaian penelitian.

Munculnya ilmu pengetahuan inilah yang menggoyahkan keberadaan Logika Mistika. Ilmu pengetahuan, sebagaimana teori evolusi Darwin mengungkapkan bahwa materi muncul terlebih dahulu dibandingkan rohani/kodrat. Ilmu pengetahuan bekerja atas dasar metode ilmiah yang bisa diverifikasi oleh siapapun.

Bagi Tan Malaka, rohani/kodrat tidak bisa memciptakan benda. Rohani/kodrat ibarat kata-kata. Dia memberikan contoh: “Lapar tak berarti kenyang buat si miskin. Si Lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja, walaupun kita ulang 1001 kali. “

Lewat berbagai penemuan ilmiah, Tan Malaka menyangkal Logika Mistika. Sebagaimana pemikiran Marxis, ia memandang dialektika materialisme yang tepat dibandingkan dialektika idealisme. Dari penjelasan Tan Malaka tentang Logika Mistika adalah berasal dari ungkapakan Marx bahwa lingkungan sosial (kondisi material) yang menentukan kesadaran (ide). Sebagai contoh adalah ketika seorang seniman memiliki ide melukis Ratu Pantai Selatan, maka ia pasti berada di likungan sosial yang terdapat sosok perempuan, laut dan pakaian, dan sesuatu yang material lainnya. Dari sesuatu yang material itulah ia olah idenya menjadi sebentuk lukisan.

Bagi yang belum memahami Logika Marxisme, penjelasan Tan Malaka akan membingungkan. Tiba-tiba saja Tan Malaka berangkat dari mitologi Mesir kuno untuk menjelaskan Logika Mistika.

Yang perlu dijelaskan terlebih dahulu adalah dua aliran besar dalam filsafat. Pertama adalah logika idealis atau dikenal juga sebagai logika formal. Sebagaimana namanya, dalam logika ini ide memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam logika. Plato dikenal sebagai bapak filsafat idealis. Dalam pandangan Plato, dunia nyata tempat kita yang hanya pancaran dari dunia ide. Baginya, dunia ide inilah dunia sebenarnya. Plato mengumpamakan seperti manusia yang dihukum di dalam gua. Manusia tersebut diikat menghadap ke dinding gua. Pada suatu saat lewat di depan gua serombongan manusia yang membawa obor sehingga menciptakan bayangan di dinding gua. Orang yang berada di dalam gua melihat bayangan yang lewat sebagai kenyataan, padahal hal itu hanya pantulan bayangan semata. Bila kita sekarang menggenggam ponsel, berdasarkan idealisme Plato, maka ponsel yang kita pegang hanyalah bayangan dari ponsel sebenarnya yang berada di dunia ide.

Logika Mistika inilah yang sebetulnya logika idealis atau logika formal. Tan Malaka sendiri tidak menjelaskan makna “mistika” ini. Apakah berasal dari kata “mistik” atau yang lain? Bila merujuk pada kamus, mistik berarti “halgaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia.” Namun bila merujuk pada uraian Tan Malaka yang mengambil contoh dari mitologi Mesir kuno tentang Dewa Rah, maka dewa memang sesuatu yang gaib, sebuah kekuatan adikodrati yang berada di luar manusia. Akan tetapi, dalam penjelasannya, Tan Malaka bukan merujuk pada sesuatu yang gaib, tetapi pada roh atau sering disebutnya kodrat. Bila merujuk pada penjelasannya, roh/kodrat ini lebih bermakna sebagai energi yang ada tetapi tak terlihat. Tan Malaka mengambil contoh dari unsur dan fenomena alam. Dalam Madilog, Tan Malaka mengambil contoh sebagai berikut:

Tiangnya ilmu kodrat (Mechanika), ialah satu cabang dari ilmu pasti, ialah “The Law of Conservation of Force’’, yakni Undang Tentang Ketetapan Jumlah Kodrat di dunia ini. Kawannya ialah Undang ketetapan Jumlah Benda di dunia ini. Syahdan menurut Undang Ketetapan Kodrat itu, maka kodrat yang hilang pada satu bentuk bisa didapat pada bentuk yang lain. Jadi jumlahnya kodrat tadi tinggal tetap saja. Undang ini dilaksanakan oleh Joule, seorang Ahli Ilmu Kodrat Inggris (1818-1889), seperti berikut :

Dengan empat cara, Joule membuktikan persamaan panas dan Kodrat (mechanica) energy. Dia dapatkan, bahwa buat menaikkan panasnya 1 pond air dengan 1 derajat, perlu dipakai 772 feet-pounds, kaki-pond. Artinya, ialah banyaknya kodrat yang perlu dipakai buat menaikkan 772 pond satu kaki ke atas.

Jadi Joule mendapat panas. Tetapi dia kehilangan kodrat. Jumlah kodrat di dunia tinggal tetap seperti dahulu. Cuma sekarang kodrat yang hilang itu berupa panas, yaitu satu bentuk dari kodrat juga.

Kemudian Tan Malaka membandingkan contoh tersebut dengan contoh lain:

Banyak persamaannya dengan seorang hartawan yang umpamanya mempunyai uang yang nilainya R. 1.000.000., tetapi yang R. 500.000. dia belikan rumah, kapal dan sebagainya. Sebagian dari hartanya sudah bertukar rupa, ialah menjelma menjadi rumah, kapal dsb. Tetapi jumlah nilainya tetap R. 1.000.000. juga. Hartanya itu betul bertukar bentuk, uang mas bertukar menjadi rumah, kapal dan sebagainya, tetapi rumah dan kapal itupun harta juga.

Bila merujuk pada contoh-contoh di atas, maka roh/kodrat dalam pengertian Tan Malaka jelas berbeda dengan pengertian umum. Dalam pengertian umum, roh adalah unsur dalam jasad yang menyebabkan makhluk menjadi hidup, atau makhluk yang tidak berjasad seperti malaikat, setan atau hantu. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa roh/kodrat dalam pengertian Tan Malaka adalah sesuatu yang tak terlihat namun bisa menggerakan sesuatu, sebagai contoh energi dari uap panas yang bisa menggerakan mesin disel. Menurut Tan Malaka, roh/kodrat tersebut jumlahnya tetap, hanya bisa berganti bentuk sebagaimana harta/uang bisa berubah menjadi rumah, mobil, tanah atau emas dengan nilai yang sama dengan harta/uang yang dimiliki. Contoh Tan Malaka ini sebetulnya menyederhanakan masalah, karena dalam perkembangannya, harga mobil, tanah, rumah atau emas, bisa naik atau turun. Perubahan ini tentu akan mengubah harta/uang yang dimiliki seseorang.

Kedua, makna roh dari yang ada dalam Madilog ini juga merancukan dengan roh dalam pengertian Hegel. Seperti dalam pandangan Marxis, Dialektika Hegel disebut pula sebagai Dialektika Idealis/Roh. Dialektika tersebut perpusat pada ide/roh. Menurut Hegel bahwa ide/roh inilah yang menggerakan segala sesuatu. Apakah yang dimaksud Tan Malaka ini seperti itu? Bahwa Logika Mistika sama dengan Dialektika Hegel? Bila ditelisik, bahwa roh adalah yang mengerakkan segala sesuatu sebagaimana contoh-contoh yang diuraikan Tan Malaka, bisa jadi Logika Mistika = Dialektika Hegel.

Dialektika Hegel ini ditolak oleh Karl Marx. Dalam dialektikanya, Marx membalik Dialektika Hegel yang dianggapnya abstrak. Dialektika mestilah konkret, maka bagi Marx, dialektika materilah yang tepat, bukan dialektika ide/roh. Bila bagi Hegel kesadaran yang menentukan realitas, bagi Marx materilah yang menentukan kesadaran manusia sebagaimana disampaikan dalam The German Ideology: “Bukan kesadaran yang menentukan kehidupan: kehidupan yang menentukan kesadaran.” Artinya bahwa hubungan produksi dalam masyarakatlah yang menentukan kesadaran manusia. Dalam masyarakat kapitalisme, misalnya, ide pemilik modal bahwa mereka bisa mengambil keuntungan dengan menghisap proletar merupakan pemikiran yang berasal dari proses produksi sistem kapitalis. Artinya, setelah berpoduksi, menghasilkan barang (material, sepatu, misalnya), memunculkan ide untuk mengambil keuntungan yang besar dengan memberikan upah yang murah kepada buruh. Dengan kata lain, ide untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya itu muncul setelah ada barang yang dihasilkan. Atau seperti contoh pelukis di atas, bahwa setelah melihat sosok perempuan, laut dan pakaian perempuan Jawa, si pelukis memiliki ide untuk melukis Ratu Pantai Selatan. Atau seperti Newton yang setelah melihat buah apel jatuh di dekatnya, dia kemudian mempunyai ide tentang hukum gravitasi.

BAB II FILSAFAT

Pada bab ini Tan Malaka membahas masalah filsafat. Semestinya secara sistematika bab ini lebih dahulu dibandingkan bab Logika Mestika. Dengan begitu pembaca mendapatkan gambaran terlebih dahulu tentang filsafat sebelum membahas logika. Sebagaimana kita ketahui, logika merupakan cabang dari filsafat yaitu filsafat untuk berpikir.

Sejak awal Tan Malaka sudah mengenalkan sosok Marx dan Engels. Dia menyatakan Marx sebagai bapak Dialektika Materialis dan Surplus Value (nilai lebih). Di sinilah Tan Malaka mulai membedakan antara filsafat idealis dan materailis. Tan Malaka menuliskan:

“Idealis dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran buat memisahkan para ahli filsafat dalam dua barisan, semata-mata berdasarkan atas sikap yang diambil si pemikir, ahli filsafat dalam persoalan yang sudah kita tuliskan lebih dahulu, yakni mana yang pertama, primus, mana yang kedua. Benda atau fikiran, matter atau idea. Yang mengatakan pikiran lebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang idealis. Yang mengikut materialisme, itulah yang materialis.”

Idealisme berangkat dari pikiran atau idea sebagai yang terlebih dahulu. Sementara materialisme melihat kebalikannya, benda atau matter sebagai yang pertama. Plato, Hume, Berkeley hingga Hegel merupakan filsuf dengan aliran idealisme. Sementara Diderot, Lamartine hingga Marx dan Engels merupakan filsuf dengan aliran materialisme. Tentang cara berpikir idealisme,Tan Malaka menuliskan:

“Kalau Hume hendak mengetahui apakah benda yang bernama buah jeruk itu umpamanya, maka yang ia insyafi Cuma rasanya yang manis itu, kulitnya yang licin itu, beratnya yang ½ atau ¼ kilo itu, warnanya yang hijau atau kuning itu, bunyinya yang nyaring atau lembek itu. Bunyi itu ada di telinga, dalam badan Hume, bukan pada jeruk, beratnya di tangan Hume, bukan pada jeruk, rupanya pada mata, rasanya di lidah atau di ujung jari Hume. Semuanya bunyi, rupa dan rasa itu dengan perantaraan saraf, nerve, berjalan ke pusat ke centre, ke otak.”

Jadi, bagi Hume tak ada jeruk yang ada ide tentang jeruk. Sesuatu itu disebut jeruk karena di kepala manusia ada konsep/ide tentang jeruk dengan rasa manis, memiliki kulit licin, beratnya ½ atau ¼ kilo, memiliki warna hijau kuning, bila dipencet lembek, dengan pohon banyak capang dan daunnya. Jeruk beda dengan durian karena di dalam konsep yang di kepala durian memiliki ciri utama kulitnya berduri, sementara jeruk tidak. Dengan begitu, jika konsisten dengan idealisme, bahwa manusia itu tidak ada, yang ada adalah konsep/ide tentang manusia. Pun, tentang alam semesta ini, semuanya hanya ide. Maka Plato mengatakan bahwa jeruk, durian, manusia dan alam semesta yang sebenarnya ada di dunia ide, sementara yang kita lihat hanya bayangan semata.

Puncak dari idealisme adalah Hegel. Seperti yang telah disinggung di atas, Dialektika Hegel disebut juga dengan Dialetika Idealis. Mengapa disebut dialektika? Hegel memperkenalkan dialektika yang terdiri dari tesis, anti thesis dan sistesis. Bila Soeharto adalah thesis, maka gerakan mahasiswa adalah anthesis. Benturan antara thesis dan anti thesis ini melahirkan sinthesis berupa orde reformasi. Bila plus adalah thesis dan minus adalah anti thesis, maka aliran listrik adalah sintesisnya. Lantas mengapa Dialektika Hegel disebut idealis? Tan Malaka menuliskannya:

“Buat Hegel “absolute Idee” ialah, yang membikin benda “Realitat”. “Die absolute Idee macht die Gesichte” absolute idee yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya, melainkan Absolute Idee “deren nachdrucklichen Ausdruck, die Philosophie ist” yang tergambar nyata pada filsafat.”

Bagi Hegel yang memegang peranan adalah Ide Absolut atau Roh Absulut. Artinya, dialektika Hegel, thesis, anti thesis dan sintesis hanya ada dalam kepalanya, bukan berada di realitas. Bila mahasiswa melawan Soeharto dan kemudian menghasilkan Orde Reformasi, misalnya, maka hal itu (pertentangan) hanya ada dalam kepala. Bila pemilik modal melawan buruh dan kemudian menghasilkan kenaikan upah, misalnya, maka kejadian itu hanya dalam pikiran. Bisa disebut Dialektika Hegel adalah dialektika di kepala. Maka disebut pula sebagai Dialektika Idealis karena yang ada dalam realitas, semisal pemerintahan Prabowo berhadapan dengan PDIP dalam realitas politik kita, maka itu hanya bayangan dari dialektika yang ada di kepala. Konsep Hegel inilah yang kemudian dikritik oleh Marx. Tan Malaka menuliskannya:

“Hegelisme yang selama ini dianggap berkepala di kaki dan berkaki di kepala, dibalikkan sebagai mana mestinya. Bukan pikiran yang menentukan pergaulan, melainkan pergaulan yang menentukan pikiran.”

Artinya, Marx menempatkan dialektika dalam realitas yang kemudian mempengaruhi pemikiran. Bila Hegel menyatakan bahwa ide membentuk realitas, maka Marx membaliknya, realitaslah yang mempengaruhi ide. Maka Dialektika Marx disebut sebagai Dialektika Materialis. Dengan begitu pertentangan/dialektika dalam masyarakatlah yang membuat terjadinya perubahan, sebagaimana ditulis oleh Tan Malaka:

“Dialektika, yakni pertentangan yang berlaku pada zaman Berbudak, ialah pertentangan budak dan tuan. Pada zaman feodal, pertentangan Ningrat dan Tani, pertentangan pemimpin gilde dengan anggota gilde. Pada zaman Kapitalisme sekarang pertentangan buruh dan kaum modal. Pertentangan klas yang berdasar atas pertentangan ekonomi itulah yang menjadi kodrat buat menumpu masyarakat pada satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu tingkat ke tingkat yang lain.”

Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat antara yang menindas dan yang ditindas itulah yang kemudian membentuk sejarah masyarakat, dari masyarakat komune primitif, perbudakan, feodalisme hingga masyarakat kapitalisme. Basis pertentangan tersebut adalah kondisi ekonomi atau corak produksi. Bila suatu corak produksi tidak mampu menjawab lagi problem masyarakat, maka akan terjadi pertentangan yang mengakibatkan digantikan corak produksi lama menjadi corak produksi baru. Seperti yang dituliskan Marx dalam Manifesto Komunis bahwa “sejarah manusia adalah sekarah pertentangan kelas”, yaitu kelas yang menindas dan ditindas. Adanya Dialektika Materialis ini, Tan Malaka kemudian memaparkan dua aliran dialektika:

“Dengan lahirnya Marxisme, maka Hegelisme berbelah dua: Dialektika Idealistis dan Dialektika Materialistis. Yang pertama dipegang oleh kaum yang bermodal dan berkuasa dengan pengikutnya, yang kedua, oleh kaum proletar yang revolusioner.”

Dialektika Materialis adalah senjata bagi kaum pergerakan sehingga perlu dipelajari. Dialektika ini adalah dialektika perlawanan yang digunakan sebagai metode berpikir untuk mengalisa kondisi obyektif dan merumuskan strategi, taktik maupun metode perjuangan.

BAB III DIALEKTIKA

Bab ini masih berkaitan langsung dengan dua bab sebelumnya, Logika Mistika dan Filsafat.

Menurut Tan Malaka, ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan logika. Pertama, tempo. Kita tidak bisa memberikan pinilaian ya atau tidak jika itu berkaitan dengan tempo. Tan Malaka memberikan contoh Thomas Edison. Pertayaannya, Edison pinter atau bodoh? Ketika kecil dia dianggap bodoh dan sempat diusir dari sekolah. Namun dalam tempo perjalanan hidupnya, Edison mampu menemukan lampu pijar. Dia berubah menjadi orang yang jenius. Ketika peristiwa melibatkan tempo, logika tidak bisa langsung memberikan jawaban ya atau tidak.

Kedua, Berkena-kenaan, Berseluk beluk. Terutama dalam ilmu alam, logika tidak bisa langsung memberikan jawaban. Tan Malaka mencotohkan dua pendapat ahli biologi, Lenxeus dan Darwin. Lenxeus menganggap dunia hewan tidak berkenaan dan berseluk beluk dengan dunia tumbuhan. Hewan berada dalam spesiesnya sendiri, dan sebaliknya. Hewan tak bisa menjadi tumbuhan, dan sebaliknya. Di antara hewan sendiri tidak ada hubungannya dengan hewan lain, juga di tumbuhan. Kodok tidak ada hubungannya dengan burung. Sementara Darwin berpendapat sebaliknya, bahwa antara dunia hewan dan tumbuhan ada hubungannya. Dalam proses evolusi, keduanya berkena-kenaan dan berseluk beluk. Juga di antara spesies hewan dan tumbuhan. Ada tumbuhan setengah hewan, yaitu tumbuhan yang bisa memangsa hewan seperti kantong semar. Bila diteliti, ada pula hubungan manusia dengan hewan. Dalam kaitan seperti ini, logika tidak bisa langsung memberikan jawaban. Membutuhkan penelitian untuk memberikan jawaban.

Ketiga, pertentangan. Dalam suatu pertentangan, logika tidak bisa memberikan jawaban ya atau tidak. Tan Malaka memberikan contoh hutang piutang antara orang Arab dengan petani.Seorang petani meminjam uang kepada orang Arab dengan bunga tertentu. Singkat cerita, petani tersebut tidak bisa membayar hutang dan bunga yang terus-menerus naik. Maka orang Arab membawa perkara tersebut ke pengadilan. Hakim memutuskan menghukum si petani. Pertanyaan yang muncul dari pertentangan tersebut, adilkah keputusan hakim? Maka bagi Tan Malaka, kita tidak bisa serta merta memberikan jawaban adil atau tidak. Untuk memberikan jawaban kita mesti berpihak kepada salah satu. Jika kita berpihak kepada orang Arab, maka keputusan pengadilan adalah adil. Hakim sudah memutuskan dengan benar karena siapapun yang berhutang wajib membayar. Bila kita berpihak kepada si petani, putusan tersebut jelas tidak adil. Si petani merupakan korban dari renternir. Sebagai pihak yang lemah semestinya dilindungi.

Keempat, gerakan. Tan Malaka memberikan contoh bola yang sedang bergerak. Di manakah letak bola itu? Di sini atau di sana? Inilah yang kemudian membuat dialektika muncul. Bahwa dalam dialektika, semua benda itu bergerak. Tidak ada yang diam. Bumi mengelilingi matahari. Atom-atom yang bergerak dalam partikel. Hingga hidup manusia yang selalu bergerak. Dalam menghadapi sesuatu yang terus bergerak ini, maka logika dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang timbul. Setelah menjabarkan keempat persoalan di atas, Tan Malaka kemudian menarik kesimpulan:

“Pada empat perkara tsb, diataslah timbulnya persoalan Dialektika. Kalau dipandang dari penjuru tempoh, maka Dialektika itu boleh juga kita namai Ilmu Berpikir Berlainan, yaitu dalam hal berpikir yang memperhatikan tempoh dimasa sesuatu benda, tumbuh dan hilang, hidup dan mati. Kalau dipandang dari penjuru kena-mengena dan selukbeluknya sesuatu benda dengan benda lain, maka Dialektika tadi boleh pula dikatakan Ilmu Berpikir yang dalam hal kena-mengena, dalam hal berseluk-beluk (verkettung und Zusammenhang, kata Engels), bukan sendirinya. Sering sekali Dialektika dinamai Ilmu Berpikir pertentangan. Dan seperti sudah kita katakan diatas juga pernah dinamai Ilmu Berpikir dalam Gerakan. Kata Engels juga kita mesti mempelajari suatu benda dengan memperhatikan “pertentangannya, kena-mengenanya serta selukbeluknya, pergerakannya, tumbuh dan hilangnya”. “

Selanjutnya Tan Malaka membahas hubungan dialektika dan logika. Tan Malaka menjelaskan tentang logika formal atau logika Aristoteles. Logika ini umum dipakai dalam melakukan penalaran. Logika ini mempunyai tiga hukum:

1. A = A yang dikenal sebagai hukum identitas

Mangga = Mangga

2. A bukan non A

Mangga bukan Durian

3. Tidak ada jalan durian

Mangga tidak bisa menjadi Durian

Tan Malaka menjelaskan perbedaan logika dengan dialektika. Menurutnya, pada matematika dan ilmu alam tingkat rendah berlaku logika. Sementara pada matematika dan ilmu alam tingkat tinggi berlaku dialektika. Tentang logika Tan Malaka memaparkan difinisi yang diberikan oleh Ueberweg: “Pertanyaan yang pasti dan berpengertian pasti apakah satu sifat termasuk pada satu benda, mesti dijawab dengan ya atau tidak.” Misalnya, ketika kita ditanya apakah 2+2=4, kita bisa menjawab secara langsung dengan ya, karena hal itu sudah pasti. Apakah putih = hitam, kita bisa menjawab tidak, karena berdasarkan pengetahuan tentang warna hal tersebut berbeda.

Selanjutnya, Tan Malaka menuliskan:

“Kalau bertemu perkara yang simple, mudah, kita mesti pakai Logika, tetapi kalau berjumpakan yang sulit, complex, kita mesti pakai perpaduan dari dua pertentangan. Dia tiada menyatakan Dialaektika, melainkan perpaduan dua pertentangan, ialah perpaduan putih dan hitam, A dan Non A yang menurut definisi Ueberweg bermula, tiada boleh terjadi.”

Persoalan yang komplek atau sulit di sini adalah persoalan yang membutuhkan penalaran lebih lanjut. Semisal persoalan kasus hukum antara orang Arab dan si petani yang telah disebutkan di atas. Kita tidak tidak bisalangsung menjawab A=A yang artinya ya, atau A bukan non A yang artinya tidak. Kalau menurut Ueberweg maka jawabannya ya dan tidak sekaligus. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, posisi kita akan menentukan jawabannya. Ketika kita bertanya terlebih dahulu, dimanakah posisi kita dalam kasus tersebut, maka persoalan tersebut bukan lagi persoalan logika namun sudah persoalan dialektika, mengingat dalam persoalan tersebut sudah ada pertentangan antara si kaya dengan si miskin.

Tan Malaka mengajukan contoh yang lain, berkaitan dengan tempo. Semisal diajukan pertanyaan, bisakah air menggerakan roda lokomotif? Kita bisa menjawabnya tidak. Bila pertanyaan adalah bisakah uap air memutar roda lokomotif, tentu jawabannya bisa. Sekarang jika pertanyaan diajukan dalam tempo air sedang dimasak untuk menghasilkan uap, bisakah air memutar roda lokomotif? Maka kita tak bisa langsung menjawab, tetapi mengajukan pertanyaan dulu: berapa suhunya? Bila suhunya belum mencapai 100 derajat celcius, kita menjawabnya tidak; bila suhunya sudah 100 derajat celcius, kita menjawabanya ya. Di sinilah yang bekerja dialektika, bukan logika.

Setelah memahami logika dan dialektika, Tan Malaka kemudian membahas dialektika idealis dan dialektika materialis. Seperti yang telah diuraikan di atas, dialektika idealis merupakan pemikiran yang dipelopori oleh Hegel, sementara dialektika materialis dipelopori oleh Marx dan Engels. Keduanya memakai dialektika, bahwa pertentangan menggerakkan segala sesuatu. Cuma bedanya, pertentangan menurut Hegel hanya terjadi di kepala, sementara menurut Marx bertentangan tersebut dalam realitas obyektif. Tan Malaka menjelaskan perbedaan dialektika idealis dan dialektika materialis sebagai berikut:

1. Hegel : Dialektika sama dengan Metaphysika, Ilmu gaip.

Dialektika Materialis: Dialetika itu berdasarkan Hukum Gerakan Gerakan Benda sebenarnya dalam alam.

2. Hegel: Absolute Idee ialah pembikin Benda yang nyata.

Dialektika Materialis: Absolute Idee itu adalah satu abstraksion, satu perpisahan impian dari gerakan dimana keadaan dan batasnya benda ditentukan.

3. Hegel: Keadaan maju, sesudah diketahui pertentangan dan penyelesaian pertentangan ini dalam pikiran.

Dialektika Materialisme: Pertentangan dalam pikiran ialah bayangan dalam otak kita, satu terjemahan dari pikiran kita, tentang pertentangan dalam Alam, pertentangan benda dalam Alam ini, disebabkan pertentangan dasarnya. Dasarnya itu ialah gerakan.

4. Hegel: Kemajuan Idee, pikiran itu mengemudikan kemajuan benda.

Dialektika Materialisme: Kemajuan benda itu menentukan kemajuan pikiran.

Bila ada contoh tentang kondisi upah buruh, maka pemecahan sebagai berikut. Bila memakai dialektika idealis: pikiran kita memikirkan kondisi buruh yang buruk.Upah mereka rendah. Sebagai solusi dari hal tersebut adalah pengusaha menaikkan upah buruh. Dengan begitu buruh akan sejahtera.

Bila memakai dialektika materialis: kapitalisme melalui pemilik modal dalam proses produksi suatu barang, sepeda misalnya, mencuri nilai lebih. Nilai lebih tersebut sebetulnya milik buruh sebagai bagian dari yang bekerja. Karena dicuri, upah buruh menjadi rendah, tidak sesuai dengan kerja yang telah mereka lakukan. Keadaan tersebut menimbulkan pertentangan. Jelas pertentangan tersebut terjadi karena proses produksi, bukan dipikiran manusia. Oleh karena itu, penyelesainnya harus dilakukan oleh buruh dengan menuntut kenaikan upah. Bila dalam pola pikir dialektika idealis maka pertentangan tersebut cukup diselesaikan di kepala, sementara dialektika materialis menyelesaikannya dalam realitas masyarakat kapitalis. Bila dialektika idealis menyelesaikan pertentangan tersebut di kepala kemudian menyerukan kepada pengusaha untuk menaikkan upah buruh, maka dialektika materailis melihat adanya pertentangan tersebut kemudian kaum buruh melakukan perjuangan untuk mengubah kondisi tersebut.

Setelah membedakan dialektika idealis dengan dialektika materialis, Tan Malaka membahas materi dan ide. Materi adalah segala segala sesuatu yang nyata, terdengar, bisa diraba, dikecap dan dicum. Sementara ide merupakan bentuk pikiran atau pengertian kita tentang materi yang ada dalam otak kita. Perdebatan yang muncul dalam filsafat, sebagaimana disinggung di atas, materi dulu atau ide dulu.

Dalam Marxisme, hubungan antara materi dan ide adalah dialektis. Artinya bahwa materi memang muncul terlebih dahulu baru kemudian memunculkan ide. Namun hal ini berlaku dialektis, bahwa selanjutnya ide bisa mengubah materi. Tan Malaka menjelaskan:

“Marx biasanya membalikkan perkara itu. Buat Marx tidak saja keadaan masyarakat menjadi alat adanya paham masyarakat, tetapi paham tadi pada satu ketika membalik mempengaruhi masyarakat. Pada tingkat pertama memang benda menentukan pikiran, tetapi sesudahnya itu pikiran itu melantun, membalik mempengaruhi benda.”

Sebagai contoh adalah kerja koki. Pertama ada bahan-bahan masakan seperti ayam, santan, cabe, bawang merah, bang putih dan santan. Seorang koki melihat bahan-bahan tersebut. Dari situ timbul ide untuk memasak semur ayam. Ide tersebut kemudian dikerjakan dengan mengubah materi-materi tersebut, dari berbagai bahan masakan berubah menjadi semur ayam. Pertama, materi (bahan-bahan) mempengaruhi pikiran sampai kemudian memunculkan ide memasak semur ayam. Kedua, dari pikiran semur ayam kemudian koki memasak untuk mengubah materi yang ada dengan mengolahnya. Maka ide semur ayam telah berhasil diwujudkan. Proses inilah terjadinya dialektika antara materi dan ide.

Untuk mengungkap yang nyata itulah Marx membuat Thesis Tentang Feuerbach. Thesis tersebut berisi:

Thesis 1: “Kesalahan semua ahli filsafat sampai sekarang ini diantaranya termasuk Feurbach, ialah memandag yang nyata itu sebagai objek, buat peramatan saja, tidak sebagai Fatigkeit, perbuatan manusia tidak sebagai Praktek-Manusia”.

Penjelasannya: Bagi Marx bahwa yang nyata selain yang bisa diindrai oleh manusia, juga termasuk perbuatan manusia. Segala perbuatan manusia seperti kerja, korupsi, atau mengajarkan sesuatu, dan lain-lain, adalah sesuatu yang nyata.

Thesis 2: Masalah apakah pemikiran manusia dapat diakui sebagai kebenaran objektif bukanlah masalah teori melainkan masalah praktik. Dalam praktik manusia harus membuktikan kebenaran pemikirannya, yaitu, realitas dan kekuatan pemikirannya, keduniawian pemikirannya. Persengketaan mengenai nyata atau tidak-nyatanya pemikiran yang terisolasi dari praktik adalah perkara yang sepenuhnya skolastik.

Penjelasannya: Sebuah teori diuji dalam praktek. Bila dalam pratek tak tepat, maka teori tersebut keliru.

Thesis 3: Doktrin materialis bahwa manusia adalah produk dari keadaan dan pengasuhan, dan bahwa, oleh karenanya, manusia yang berubah adalah produk dari keadaan yang berbeda dan pengasuhan yang berubah, melupakan manusia-lah yang mengubah keadaan di sekitarnya dan bahwa sang pendidik itu sendiri harus dididik. Maka dari itu, doktrin ini niscaya memecah masyarakat ke dalam dua bagian, yang satunya lebih unggul daripada masyarakat (semisal, dalam Robert Owen).

Terjadinya secara bersamaan perubahan keadaan dan perubahan aktivitas manusia hanya dapat dibayangkan dan dipahami secara rasional sebagai praktik yang merevolusionerkan.

Thesis Feuerbach ada sebelas, tiga thesis yang disampikan di atas berkaitan dengan perdebatan materi dan ide. Marx menerangjelaskan tentang materi dan ide secara jelas, sementara dalam penjelasan Feuerbach masih abstrak. Maka untuk menutupnya Marx menampilkan pada thesis 11: Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; namun intinya adalah mengubahnya. Artinya tugas orang berpikir adalah mengubah dunia, bukan sebatas menafsirkan dunia.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *