ADA SOSDEM DALAM WAWANCARA GIBRAN

Gibran Rakabuming Raka tampil memukau dalam wawancara di kanal SCTV. Tanpa rasa kagok dia menyampaikan gagasan-gagasannya dengan lancar dan jernih. Sebagai anak muda, Gibran menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin negara ini. Tak salah bila Prabowo Subianto memilih Gibran sebagai wakil presiden.

Ada yang menarik dalam wawancara Gibran ini. Pandangan-pandangan sosial demokrasinya (sosdem) keluar dengan runtut. Ada kata kunci yang diucapkan Gibran dalam wawancara itu: keadilan ekonomi.

Keadilan ekonomi merupakan dasar sosial demokrasi untuk melawan kecenderungan ekonomi liberal yang kapitalistik. Seperti kita tahu, sosial demokrasi lahir berlandaskan teori Marxist yang menempatkan ekonomi sebagai basis struktur. Sebagai basis, bangunan ekonomi akan mempengaruhi supra strukturnya, baik itu politik, hukum, maupun sosial budaya. Dalam pengantar Das Kapital, dengan gamblang Karl Marx—sebagai kritik terhadap Hegel—menyatakan: “Bagi saya sebaliknya, yang ideal itu tidak lain dan tidak bukan hanya dunia material yang dicerminkan oleh pikiran manusia, dan diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pikiran.”

“Dunia material” yang dimaksud oleh Marx adalah corak produksi masyarakat, yaitu basis ekonomi yang berkembang dari era komune primitif, perbudakan, feodalisme dan sekarang kapitalisme. Dalam corak produksi inilah ada hubungan produksi. Dalam masyarakat kapitalis, dalam hubungan produksi terjadi eksploitasi ketika borjuasi (pemilik modal) menindas buruh. Akibatnya, terjadi ketimpangan ekonomi, ada yang sangat kaya, ada pula yang teramat miskin. Sistem seperti inilah yang dikoreksi sosial demokrasi. Seperti kata Gibran sebagai kritik terhadap bentuk ekonomi kapitalis yang timpang maka dibutuhkan keadilan ekonomi.

Sejauh ini kita tidak tahu Gibran belajar tentang sosial demokrasi di mana. Yang pasti dari wawancara itu dia begitu memahami konsep sosial demokrasi dengan baik. Katanya, “kita selalu mendorong, menginisiasi, bagaimana tiap-tiap negara itu berhak menentukan arah ekonominya…yang namanya kerjasama, partnership, cooperation, tidak boleh mendikte, tidak boleh menciptakan ketergantungan.” Apa yang disampaikan Gibran adalah keadilan ekonomi global yang menjadi intisari dari sosial demokrasi.

Bahkan dengan berani Gibran mengkritik neoliberalisme, yaitu bentuk baru kapitalisme untuk menjajah negara berkembang. Dengan gamblang Gibran menyatakan bahwa selama ini, “Negara berkembang hanya menjadi pasar. Negara berkembang hanya menjadi pemasok raw material berupa bahan-bahan mentah.” Akibatnya, negara berkembang tetap miskin sementara negara maju semakin kaya raya. Ketimpangan ini sudah berlangsung lama dan masih terjadi hingga hari ini.

Kritik Gibran ini menghujam langsung ke jantung kapitalisme. Lenin pernah menyatakan bahwa puncak tertinggi dari kapitalisme adalah imperialisme. Dan, wujud imperialisme gaya baru adalah neoliberalisme. Kita tak tahu apakah Gibran membaca Lenin atau tidak, tapi kritik yang disampaikan sama dengan dikatakan Lenin bahwa kapitalisme menjadikan negara “jajahan” sekadar sebagai pasar dan pemasok bahan mentah semata.Dan, bagi Gibran hal semacam ini harus dipungkasi. Sebagai jalan keluar adalah program hilirisasi semua sumber kekayaan alam. Dengan hilirisasi sebuah negara bisa menentukan peta jalan ekonominya sendiri, tanpa didikte oleh kekuatan kapitalis.

Gibran juga paham, dalam sosial demokrasi, keadilan ekonomi bukan hanya ditingkat global semata, tetapi juga di dalam negara sendiri. Hasil dari hilirisasi akan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Baik untuk pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sumber daya manusia. Selain itu, negara mesti hadir secara nyata dalam kehidupan rakyat.

Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bentuk nyata dari kehadiran negara untuk menciptakan keadilan ekonomi. Targetnya, 80 juta orang akan mendapatkan MBG. Dengan adanya MBG, sumber daya manusia akan meningkat. Dengan begitu pula daya saing juga akan naik. Tidak ada lagi murid, lansia dan ibu hamil yang kelaparan. Semuanya mendapatkan makanan yang bergizi dan layak sebagai wujud keadilan ekonomi yang nyata.

Guna menciptakan keadilan ekonomi, Gibran juga menyatakan perlunya percepatan pembangunan di daerah yang masih tertinggal seperti Papua. Oleh sebab itu menyelesaikan pembangunan jalan trans Papua, sarana pendidikan dan kesehatan seperti rumah sakit, merupakan hal mendesak yang akan dilakukan. Jalan trans Papua akan menjadi urat nadi untuk memupus ketimpangan ekonomi di Pulau Kepala Burung itu. Adanya rumah sakit modern di Papua membuat warga tidak perlu berobat lagi ke Makassar. Dan untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan akan dibangun 24 rumah sakit serupa dalam jangka waktu lima tahun.

Menariknya, dalam wawancara itu Gibran tidak hanya memaparkan keadilan ekonomi, tapi juga pentingnya demokrasi. Sosial demokrasi sangat menghargai demokrasi. Dengan jelas Gibran  berpihak pada demokrasi. Ketika ada netizen yang bertanya tanggapannya tentang banyak orang yang menghujat dirinya, dengan jitu Gibran menjawab: “Itu bukti demokrasi di negara kita berjalan dengan baik.” Gibran menyiratkan bahwa keadilan ekonomi juga perlu ditopang dengan demokrasi yang baik.

Demokrasi memberikan kesempatan yang sama pada warga negara untuk menyampaikan pendapatnya dan menentukan pilihan secara bebas tanpa tekanan siapapun. Sosial Demokrasi menjunjung nilai demokrasi seperti yang disampaikan Gibran.Seperti kita tahu, negara yang memiliki indeks demokrasi tertinggi adalah Norwegia yang menganut sistem sosial demokrasi. Norwegia adalah negara paling demokratis di dunia, dan inilah sepertinya yang dijadikan model oleh Gibran.

Wawancara Gibran telah memberikan petunjuk bagi kita bahwa telah muncul bintang terang di langit khatulistiwa: telah lahir sosok muda sosial demokrat di bumi Indonesia. Sosok yang telah lama kita tunggu kemunculannya, seperti Zahran Mamdani di New York. Di Indonesia, kini Gibran muncul membawa bendera itu.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *