SEBELAS TAHUN PSI: VINI, VIDI, VICI

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas
Hari ini tumbuh dari masamu
Tangan kami yang meneruskan
Kerja agung juang hidupmu
Kami tancapkan kata mulia
Hidup penuh harapan:
Suluh dinyalakan dalam malammu,
Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.”

(Puisi Henritte Rolland Holst (Tante Janet) di nisan Aliarcham, Tanah Tinggi)

PSI (Partai Solidaritas Indonesia) merupakan bagian dari generasi “yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.” Dipelopori anak-anak muda, PSI hadir untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa karena “hari ini tumbuh dari masamu”. Ya, masa ketika republik ini berjuang untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Ketika kata merdeka menjadi harga mati. Saat keinginan untuk “menciptakan kecerdasan bangsa” dan “kesejahteraan umum” baru digoreskan. Ketika “kami bangsa Indonesia” lahir dari perjuangan yang panjang.

PSI merupakan partai modern yang menolak feodalisme, diskriminasi dan menekankan solidaritas dan egalitar. Sebangai partai super terbuka, saham dimiliki oleh seluruh anggota partai. Suara seorang Ketua Umum sama dengan suara anggota di ujung Papua, Aceh, Rote hingga Miangas. Oleh karena itu, dalam sejarah kepartaian di Indonesia, PSI lah pelopor menggunakan e-vote ketika memilih Ketua Umum. Seluruh suara anggota dihitung, tak boleh ada yang tercecer.

Sebagai partai modern, PSI tak dikendalikan oleh orang per orang, namun oleh seluruh kolektif partai. Sebagaimana mesin jam, semua bergerak sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain. PSI digerakkan oleh pemikiran dan diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada tindakan progresif tanpa teori progresif. Itulah prinsip yang dipegang oleh PSI.

Rakyat merupakan inti tulangpunggung PSI. Maka seruan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, dalam HUT PSI ke-11 agar anggota PSI senantiasa berada di tengah-tengah rakyat, sudah tepat. Dengan begitu PSI akan meluas anggotanya, strukturnya dan program-programnya. Dari rakyat PSI berasal dan untuk rakyat pula PSI berjuang. Oleh karena itu, memisahkan PSI dengan rakyak seperti memisahkan ikan dari air. Guyub dengan rakyat merupakan kunci keberhasilan PSI untuk menjadi partai besar.

Gajah berbeda dengan Banteng. Gajah bekerja dengan otak dan kecerdasan, Banteng bekerja dengan otot dan kedunguan. Sebagai partai berlambang gajah, PSI akan bekerja dengan otak dan kecerdasan sebagaimana Dewa Ganesha. Dengan begitu PSI akan meninggi ideologinya, moral politiknya dan pengabdian kepada rakyatnya.

Dari rentang sebelas tahun perjalanan, PSI telah belajar dari kekalahan demi kekalahan. Bukan untuk melemahkan, namun untuk mencari jalan keluar baru agar kemenangan bisa diraih. Barisan ditata kembali agar satu komando satu tindakan dengan berlandaskan prinsip sentralisme demokrasi. Dengan modal ini, PSI akan menjadi kekuatan yang solid.

Dengan semangat vini, vidi, vici (datang, melihat dan menang), PSI akan menyalakan suluh agar bangsa Indonesia menjadi bangsa pemenang dalam menyejahterakan rakyatnya. Ibarat baling-baling, PSI akan selalu berputar agar cita-cita itu terwujud. Tak ada kata mundur. Persis sajak Diponegoro karya Chairil Anwar:

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali….
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati…

MAJU…

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu….
Sekali berarti
Sudah itu mati….

MAJU…

Barisan yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep akan selalu: maju, serbu, serang dan terjang. Dan semangat ini telah dideklarasikan dalam perjalannya ke sebelas.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *