Bila kau membaca novel Ernest Hemingway, Lelaki Tua dan Laut, kau akan mendapati pemancing tua, Santiago. Kau akan tahu, selama 84 hari Pak Tua Santiago ada di tengah laut—siang dan malam— tapi tak satupun umpannya disambar ikan. Lantas ia memutuskan untuk mendayung sampannya semakin ke tengah lautan. Akhirnya, pada hari berikutnya, kailnya disambar ikan marlin raksasa. Namun semua belum usai. Pak Tua Santiago harus bertarung dengan hiu-hiu yang ingin merebut hasil memancingya. Inilah kisah tentang kerja keras, ketekunan, ketabahan dan sikap pantang menyerah. Sesuatu yang juga dimiliki Gibran Rakabumi Raka.
Beberapa hari lalu, dalam rangka perayaan Sumpah Pemuda, Gibran tidak hadir di ruang seminar membicarakan peran pemuda di zaman ini dan di masa depan, tapi mendatangi lomba memancing. Tentu yang dilakukan Gibran tidak hanya memancing ikan, tapi juga memancing reaksi dari mereka yang ingin disebut oposisi. Seperti biasanya, berbagai gunjingan bermunculan:”inilah kelas wapres kita.”, “wapres otak kosong” atau “wapres hasil maling konstitusi”. Mereka tak sadar sedang “dipancing” sampai kehabisan tenaga.
Apa yang dilakukan Gibran bisa disebut “kerja kecil, manfaat besar.” Kerja-kerja yang dianggap remeh temeh namun sebetulnya menunjukkan kelas Gibran bukan saja sebagai wakil presiden yang selalu membaur dengan rakyat, tetapi juga paham aktivitas yang sedang digemari rakyat: mancing
Memancing merupakan seni bertahan hidup manusia yang sudah purba. Setelah sebelumnya manusia purba berburu ikan dengan lembing, lahirlah budaya baru ketika manusia berhasil memintal tali dari kulit pohon. Dari situ lahir budaya memancing dengan hasil tangkapan ikan yang lebih banyak. Tenaga kerja yang dikeluarkan pun tidak besar. Cukup duduk di pinggir kali menunggu umpan dimakan ikan. Setelah era jaring dan pukat harimau, memancing tetap bertahan hingga hari ini.
Di malam hari, setelah penat bekerja seharian, kolam-kolam pemancingan sekarang selalu ramai. Wong cilik melepaskan lelah dengan duduk di pinggir kolam, entah dengan mengobrol atau menghisap sebatang rokok. Dengan begitu, mereka bisa memulihkan tenaga dan menenangkan pikiran. Itulah hiburan bagi wong cilik, baik di kampung maupun di kota. Dan, Gibran paham itu.
Dalam lomba memancing, Gibran merasakan kegembiraan wong cilik itu. Ketika senar pancing ketarik, mereka akan teriak girang. Saat umpan tak digubris ikan, mereka akan sabar menunggu. Begitu senar putus karena ikan melawan, mereka kecewa. Perasaan warna warni inilah yang ingin pula dirasakan oleh Gibran. Dengan begitu, sebagai pempimpin, ia bisa paham gejolak hati rakyat.
Suatu waktu Hemingway ditanya kawannya apa keasyikan dalam memancing? Ia menuliskannya: “…kau terikat pada ikan itu sebagaimana ikan itu terikat padamu dan kau menjinakkannya dan membikinnya lelah…” Bila kita telisik lebih dalam, inilah gaya politik Gibran. Seperti pemancing, politikus tulen akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menghadapi lawan-lawannya.
Dalam memancing, ketika ikan tertangkap, kau tak bisa sekali langsung menyentaknya karena akan membuat senar terputus atau gagang pancing patah. Kau mesti memiliki kesabaran, membiarkan ikan itu melawan, mengulur senar pancing sembari sesekali menariknya sampai ikan kehabisan tenaga. Pun, dalam politik. Terhadap lawan-lawan politiknya, Gibran tak pernah frontal. Ia biarkan mereka bertindak apa saja sampai akhirnya kehabisan otak untuk menyerang.
Politikus memang jarang memiliki kesabaran seperti Gibran, apalagi masih muda. Hanya pemancing-pemancing tulen yang bisa memiliki itu. Seperti Pak Tua Santiago yang rela menunggu sampai 84 hari untuk bisa mendapatkan seekor ikan marlin. Ia tak takut menunggu. Pada saat yang tepat, ia akan bertarung dengan ikan sampai tangannya terkelupas oleh gesekan senar. Pada saat yang lain ia harus mempertahankan keseimbangan sampannya yang ditarik marlin yang sedang mengamuk. Dengan sabar ia menunggu sampai lawannya terkapar menyerah.
Sejauh ini, Gibran berhasil memancing. Lawan-lawannya satu persatu semakin loya. Sementara dirinya dengan sabar memegang gagang pancing dengan senar dan umpan masuk ke tengah kolam perpolitikan yang ganas.
Hari ini yang dibutuhkan adalah anak muda yang berani, ulet, sabar dan sekaligus urakan. Seperti Ken Arok, Maradona dan Gibran.***





