Ada mitos tentang Desa Klumpit, Karanggede, Boyolali. Alkisah, seekor Banteng mengamuk hingga terjepit di sebongkah batu padas. Lewat upaya yang keras, Banteng itu bisa lepas dari jepitan. Setelah lepas, Banteng itu lari terbirit-birit sampai kecebur di sebuah kedung. Matilah Banteng itu. Bau busuk menyebar ke sekitar. Memang belum lama ini, Boyolali merupakan prasasti ambruknya kandang Banteng.
Kisah tersebut merupakan alegori. Pertama, karakter Banteng yang utama adalah ngamukan. Kita ingat kisah Joko Tingkir ketika seekor Banteng mengamuk di kota raja Demak. Menyeruduk ke sana kemari hingga mencelakai dirinya sendiri. Kedua, Banteng digambarkan sebagai hewan yang dungu. Akibat kedunguannya, ia kecebur ke kedung tanpa bisa keluar lagi. Dua karakter ini kita bisa lihat pada diri Deddy Sitorus.
Tanpa sebab yang jelas, Deddy Sitorus mengamuk pada PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Ia menyebut PSI sebagai Partai Sampah Indonesoa. Deddy Sitorus yang selama ini hanya bermodal “menetek” kepada Mamak Banteng, memang seringkali tanpa sebab mengamuk ke PSI.
Sebelum Pemilu 2024, misalnya, Deddy tiba-tiba ngamuk-ngamuk. Katanya, “Jadi ilmu PSI cuma 2, nyerang orang atau jadi benalu bagi orang lain, itu saja.” (Detik.com, 02/08/2024). Pernyataan Deddy ini seperti peribahasa lama: “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” alias melempar taik Banteng ke mukanya sendiri.
Karakter kedua adalah dungu. Banteng tidak sadar, dengan gaya politik ngamukan ini, suaranya kian kegerus. Kita tahu, Banteng babak belur di Pemilu 2024. Suaranya melorot. Namun, karena dungu, Deddy Sitorus justru mengulang hal yang sama. Bisa jadi dia merasa gagah dan perkasa bila menyerang pihak lain. Padahal ia sedang menunjukkan keduangannya. Di dunia ini, hanya Banteng yang dua kali terperosok pada lubang yang sama.
Langkah PSI untuk banting stir menjadi Partai Super Tbk, memang mengkhawatirkan Banteng. Bagaimana tidak, PSI akan membuka diri kepada seluruh elemen rakyat untuk bergabung. PSI bukan lagi partai kelas menengah perkotaan, tapi partai yang menjadi rumah bagi seluruh rakyat Indonesia.
Banteng semakin meradang ketika Jokowi dengan terbuka akan bekerja untuk kemenangan PSI. Tak mengherankan bila Banteng mulai melakukan orkrestrasi menyerang Jokowi. Setelah serangan-serangan Hasto kepada Jokowi kandas, maka Banteng memulai menyerang dengan isu kereta cepat. Kader-kader Banteng seperti Rieke Diah Pitaloka dan Adian Napitupulu, mulai menggoreng Whoosh di atas wajan kebencian.
Bagi orang yang tak mengalami keterbelakangan berpikir seperti Rieke dan Adian, kereta cepat dirancang ketika Banteng masih berkuasa. Mamak Banteng sebagai bagian generasi masa lalu awalnya menolak, namun Jokowi jalan terus. Namun setelah proyek jalan, Banteng mendukungnya.Ketika kereta cepat jadi, Puan Maharani dengan penuh kebangaan mengatakan, “Rasanya baru juga duduk, tahu-tahu sudah sampai Bandung. Memang cepat sekali naik kereta Whoosh ya. Sungguh kebanggaan untuk kita masyarakat Indonesia karena sudah memiliki infrastruktur transportasi yang canggih.”
Namun, seperti pepatah “isuk dele sore tempe/pagi kedelai, sore menjadi tempe,” kini Banteng tabuh gendang menyerang kereta cepat. Seperti kerasukan setan di kuburan, mereka menjadi kesurupan. Mereka lupa ingatan, Whoosh lahir ketika mereka masih jaya-jayanya berkuasa.
Mengapa baru sekarang Banteng kesurupan? Mereka mulai panik ketika Jokowi berada di sisi PSI. Amukan terhadap kereta cepat sasaran utamanya tentu Jokowi. Setelah isu ijazah Jokowi membuat masyarakat semakin muak dan tidak mempan—survei terbaru hanya 16% yang percaya ijazah Jokowi palsu; angka 16% selaras dengan suara Banteng di Pemilu—maka perlu dicari isu baru. Kereta cepatlah yang oleh Banteng hendak dijadikan sebagai Banteng Troya. Mereka tabuh gendang rame-rame menjadikan Whoosh sebagai sasaran srudukan.
Sebagai partai masa lalu, Banteng memang hidup dalam kubangan kemunduran zaman. Serangan terhadap Whoosh memperlihatkan perspektif mereka yang anti kemajuan zaman. Mereka merasa nyaman hidup dalam kandang keterbelakangan berpikir. Bagi mereka yang terbaik adalah makan rumput masa lalu.
Pada akhirnya, Banteng sedang dalam posisi terjepit. Tanpa Jokowi, Bantemg hanyalah onggokan kain rombeng di pojok sejarah.***





