Ada tunggul yang ditancapkan antara Jokowi dan Boroujerdi: kawan dan solidaritas.
Dari kesaksian Koesalah Soebagyo Toer, di penjara Salemba ada kata yang tak boleh diucapkan oleh mulut para Tapol 1965: kawan dan solidaritas. Namun di Solo, di kediaman Jokowi yang selalu sesak oleh pengunjung, dua kata itu justru yang mengikat Jokowi dan Boroujerdi. Keduanya sepakat bahwa Indonesia dan Iran adalah kawan. Keduanya seiya sekata bahwa solidaritas adalah kunci untuk membangun peradaban umat manusia.
Kita tentu heran terhadap orang-orang, yang ketika Iran diserang aliansi jahat Israel dan AS, justru bertempik sorak. Para intelektual berotak jorok yang justru mendukung invansi terhadap Iran. Namun, dalam pertemun dengan Boroujerdi, Jokowi tak seperti mereka itu. Sikap Jokowi tegas: ia bersimpati dan mendukung perjuangan rakyat Iran dalam mempertahankan kedaulatannya.
Perjuangan rakyat Iran bukan semata berlawanan ketika diserang, tapi lebih daripada itu, melawan kuasa gelap yang hendak menghapuskan kemandirian sebuah bangsa. Kuasa gelap yang berusaha menebarkan racun racun untuk membunuh negara yang merdeka. Kuasa gelap yang berusaha menggergaji negara yang berdiri di atas kakinya sendiri. Dan, Jokowi sangat paham itu. Sikapnya tak bisa disalah artikan lagi: dukungan agar rakyat Iran menang melawan kuasa gelap Israel-AS.
Kita tentu bertanya-tanya terhadap sikap segelintir orang yang mengaku pendukung Jokowi, pengikut Jokowisme, tapi masih ragu-ragu mendukung perjuangan rakyat Iran. Mereka selalu plintat plintut, mencari dalih dan alasan untuk menghindar memberikan dukungan terhadap perlawanan rakyat Iran. Bahkan beberapa di antaranya justru menyabotase kampanye dukungan itu. Padahal sikap Jokowi sangat tegas: berdiri di sisi rakyat Iran.
Jokowi tentu tidak asal memberikan dukungan. Ia berangkat dari sejarah bangsanya sendiri yang selama ratusan tahun dikoyak koyak oleh kolonialisme. Jokowi sangat paham bahwa kolonialisme telah membuat bangsa kita terbelakang dalam langskap ekonomi, politik dan kebudayaanya.
Tatkala menjadi presiden, Jokowi berusaha merebut kedaulatan bangsa Indonesia. Ia ambil alih Freeport dan kilang-kilang minyak yang selama berpuluh puluh tahun dikuasai bangsa asing. Di tingkat internasional, Jokowi dengan tegas tak mau diintervensi oleh kekuatan asing. Maka lahirlah hilirisasi dalam segala aspek kehidupan bangsa Indonesia. Sebuah sikap tak mau tunduk dan takluk terhadap tekanan bangsa asing.
Tentu Jokowi paham penderitaan rakyat Iran yang empat puluh tahun lebih diembargo. Derita itu tentu tak bisa dihitung dengan deret hitung maupun deret ukur. Betapa Iran oleh Amerika Serikat dan gerombolannya ditempatkan sebagai paria di tengah pergaulan dunia. Iran mau dimatikan, dipaksa menyerah.
Namun, bangsa Iran justru menggunakan penderitaan akibat embargo sebagai kekuatan untuk melawan hegemononi Barat. Mereka bangun ilmu pengetahuan. Mereka jadikan teknologi sebagai yang utama.Terhadap keteguhan rakyat Iran terhadap penindasan Barat, melalui Boroujerdi, Jokowi memberikan simpati dan empatinya. Sikap tanpa tedeng aling-aling Jokowi ini memperlihatkan semangatnya yang anti imperialisme. Sikap tanpa mendua menghadapi perlawanan terhadap penindasan. Sikap seorang demokrat sejati.
Jokowi memperlihatkan pada kita bahwa perkawanan dan solidaritas merupakan kunci untuk menciptakan dunia yang damai. Seorang kawan tentu tidak akan melukai kawannya. Seorang kawan akan senantiasa bersolidaritas ketika kawannya terluka dan menderita. Itulah yang ingin ditunjukkan Jokowi. Ia memeluk bangsa Iran yang sedang digempur oleh Israel dan AS. Tanpa kikuk Jokowi memperlihatkan semua itu kepada kita.
Ada satu sajak Agam Wispi untuk menggambarkan sikap Jokowi:
“diatas segala ingatan dan kenangan
adalah setiakawan bagimu
Kuba
ditempa derita bersama tekad tertanam dalam-dalam
siapa melukai Kuba, menyakiti juga
Indonesia”
Puisi berjudul Tidak Akan Pernah Kuba Menyerah memang diperuntukan bagi rakyat Kuba yang saat itu melawan intervensi Amerika Serikat, persis seperti Iran hari ini. Wispi menyebut Kuba sebagai “anak jantan/didepan benteng Amerika” yang sedang berjuang untuk “melemparkan beban perbudakan dari pundaknya”, agar putus “rantai yang membelenggu tangan dan kakinya.” Apa yang terjadi di Kuba beberapa tahun silam, terjadi di Iran hari ini.
Di Iran hari ini, seperti sajak Agam Wispi:
“tanahair atau mati
merdeka atau mati
patria o muarte.”
Dan, seperti Jokowi, kita mesti berada di sisi rakyat Iran. Viva Iran!***





